Breaking News
Loading...

Penyelewengan Makna Ghadir Khum dalam Ajaran Syiah

 


Syiahindonesia.com -
Peristiwa Ghadir Khum merupakan salah satu momen sejarah penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ yang kerap dijadikan landasan utama oleh Syiah untuk membangun doktrin imamah. Namun masalah besar muncul ketika makna peristiwa tersebut ditafsirkan secara sepihak, dilepaskan dari konteks sejarah dan penjelasan para sahabat, lalu diarahkan untuk membenarkan klaim teologis yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ. Penyelewengan makna Ghadir Khum inilah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi penyimpangan akidah Syiah, karena satu peristiwa sejarah dijadikan fondasi keyakinan besar yang berdampak luas terhadap pandangan mereka tentang kepemimpinan, sahabat, dan otoritas agama dalam Islam.

Latar Belakang Peristiwa Ghadir Khum yang Sebenarnya

Ghadir Khum terjadi sepulang Rasulullah ﷺ dari Haji Wada’, ketika beliau berhenti di sebuah tempat bernama Ghadir Khum untuk menyampaikan nasihat penting kepada para sahabat. Dalam kesempatan tersebut, Rasulullah ﷺ menyampaikan sebuah khutbah yang di dalamnya terdapat sabda terkenal:

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ
“Barang siapa aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan lainnya)

Hadis ini diriwayatkan oleh banyak perawi dan diakui kesahihannya oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Namun kesahihan hadis tidak otomatis membenarkan penafsiran Syiah terhadap maknanya. Justru di sinilah letak persoalan utama, yaitu pada makna kata maula dan tujuan Rasulullah ﷺ menyampaikan sabda tersebut.

Makna “Maula” dalam Bahasa dan Konteks Syariat

Dalam bahasa Arab, kata maula memiliki banyak makna, seperti penolong, orang yang dicintai, sekutu, atau orang yang memiliki hubungan loyalitas, dan tidak secara otomatis berarti pemimpin politik atau khalifah. Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa sabda Rasulullah ﷺ di Ghadir Khum bertujuan menegaskan kecintaan, loyalitas, dan penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, terutama setelah muncul sebagian keluhan terhadap beliau dalam urusan tertentu.

Hal ini sejalan dengan prinsip Al-Qur’an tentang persaudaraan dan loyalitas antar sesama mukmin:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Dengan demikian, makna hadis Ghadir Khum adalah penegasan bahwa Ali adalah bagian dari kaum mukmin yang wajib dicintai, dihormati, dan dibela, bukan penunjukan resmi sebagai pemimpin umat setelah Rasulullah ﷺ wafat.

Klaim Syiah dan Distorsi Makna Ghadir Khum

Syiah menafsirkan hadis Ghadir Khum sebagai deklarasi ilahi tentang imamah Ali رضي الله عنه, bahkan menganggapnya sebagai penunjukan khalifah yang bersifat mutlak dan mengikat seluruh umat Islam. Dari sinilah lahir klaim bahwa para sahabat telah mengkhianati wasiat Nabi ﷺ karena tidak mengangkat Ali sebagai khalifah setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.

Namun klaim ini bertabrakan dengan fakta sejarah yang sangat jelas. Seandainya Ghadir Khum adalah penunjukan khalifah secara eksplisit, tentu para sahabat yang hadir—yang jumlahnya sangat banyak—akan memahaminya demikian dan tidak akan terjadi musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah. Kenyataannya, tidak satu pun sahabat utama yang memahami sabda tersebut sebagai penunjukan kepemimpinan politik.

Sikap Imam Ali terhadap Ghadir Khum

Yang lebih penting lagi, Imam Ali رضي الله عنه sendiri tidak pernah menjadikan peristiwa Ghadir Khum sebagai dalil bahwa dirinya adalah khalifah yang ditunjuk secara ilahi. Sepanjang hidupnya, beliau tidak pernah mengkafirkan atau menuduh para sahabat sebagai pengkhianat, dan beliau tetap memberikan baiat kepada Abu Bakar, Umar, dan Utsman رضي الله عنهم. Sikap ini menjadi bukti nyata bahwa penafsiran Syiah terhadap Ghadir Khum bertentangan dengan praktik dan pemahaman Imam Ali sendiri.

Imam Ali dikenal sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi persatuan umat dan menghindari fitnah, sebuah prinsip yang selaras dengan firman Allah Ta’ala:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Ghadir Khum sebagai Alat Ideologisasi Syiah

Dalam ajaran Syiah, Ghadir Khum tidak lagi diposisikan sebagai peristiwa nasihat dan penegasan kecintaan, melainkan dijadikan simbol ideologis yang terus diulang untuk membangun narasi penindasan dan pengkhianatan. Peringatan Ghadir Khum sering dikemas dengan muatan emosional yang kuat, disertai penggambaran negatif terhadap mayoritas sahabat Nabi ﷺ, sehingga umat diarahkan untuk menerima doktrin imamah sebagai satu-satunya kebenaran.

Pendekatan ini jelas bertentangan dengan metode Al-Qur’an dan Sunnah yang menekankan keadilan, kejujuran, dan adab dalam menyikapi sejarah. Rasulullah ﷺ sendiri telah mengingatkan:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjadikan Ghadir Khum sebagai dalih untuk mencela sahabat adalah bentuk penyelewengan yang nyata terhadap pesan Rasulullah ﷺ.

Dampak Penyelewengan Makna Ghadir Khum bagi Umat

Penyelewengan makna Ghadir Khum tidak hanya berdampak pada aspek teologis, tetapi juga pada persatuan umat Islam. Ketika satu peristiwa sejarah dijadikan alat untuk membelah umat menjadi “loyalis” dan “pengkhianat”, maka perpecahan menjadi tak terhindarkan. Inilah yang terjadi dalam ajaran Syiah, di mana Ghadir Khum dijadikan titik sentral untuk memvonis sejarah Islam secara hitam-putih.

Bagi umat Islam di Indonesia, narasi seperti ini sangat berbahaya karena dapat merusak keharmonisan dan memicu konflik ideologis yang tidak perlu. Oleh sebab itu, pemahaman yang lurus dan ilmiah tentang Ghadir Khum harus terus disosialisasikan berdasarkan sumber-sumber yang sahih dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Meluruskan Pemahaman Ghadir Khum

Meluruskan makna Ghadir Khum berarti mengembalikannya pada posisi yang benar sebagai peristiwa nasihat dan penegasan kecintaan Rasulullah ﷺ kepada Ali رضي الله عنه, tanpa ghuluw dan tanpa tuduhan kepada para sahabat. Kecintaan kepada Ali tidak boleh dijadikan alasan untuk menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah, apalagi untuk membangun doktrin yang memecah belah umat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh ajaran Islam harus dipahami secara utuh, tidak dipotong-potong demi kepentingan ideologis tertentu.

Penutup

Penyelewengan makna Ghadir Khum dalam ajaran Syiah merupakan contoh nyata bagaimana satu peristiwa sejarah dimanipulasi untuk membangun doktrin yang menyimpang dari Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat. Ghadir Khum bukanlah deklarasi imamah, melainkan penegasan kecintaan dan loyalitas kepada Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه sebagai sahabat mulia dan bagian dari Ahlul Bait. Umat Islam Indonesia perlu bersikap kritis, berilmu, dan berpegang teguh pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar tidak terjebak dalam penafsiran sejarah yang menyesatkan dan merusak persatuan umat.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: