Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Mengkafirkan Mayoritas Umat Islam?

Syiahindonesia.com – Salah satu penyimpangan paling serius dalam akidah Syiah adalah sikap takfir (mengkafirkan) terhadap mayoritas umat Islam, khususnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sikap ini bukan sekadar perbedaan pandangan fiqih atau sejarah, melainkan konsekuensi langsung dari fondasi akidah Syiah yang dibangun di atas doktrin imamah, penolakan terhadap sahabat Nabi ﷺ, serta pengkhususan keselamatan hanya bagi kelompok mereka sendiri. Di Indonesia, persoalan ini sering disamarkan dengan istilah “ukhuwah” dan “perbedaan mazhab”, padahal secara doktrinal terdapat ajaran yang secara tegas mengeluarkan mayoritas Muslim dari lingkaran iman menurut standar Syiah.


Akar Takfir dalam Doktrin Imamah

Akar utama mengapa Syiah mengkafirkan mayoritas umat Islam terletak pada doktrin imamah. Dalam akidah Syiah Itsna ‘Asyariyah, iman tidak dianggap sah kecuali dengan meyakini imamah dua belas imam yang mereka klaim maksum dan ditunjuk secara ilahi. Orang yang tidak mengimani imamah tersebut—meskipun ia bertauhid, mengikuti Rasulullah ﷺ, dan menegakkan rukun Islam—dipandang sebagai orang yang sesat, bahkan kafir menurut banyak riwayat Syiah.

Konsep ini bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an yang menjadikan tauhid dan kenabian sebagai inti iman. Allah ﷻ berfirman:

﴿قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ﴾
“Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami…”
(QS. Al-Baqarah: 136)

Tidak ada satu pun ayat yang menjadikan iman kepada imam tertentu sebagai syarat sahnya Islam seseorang.


Pengkafiran Sahabat Berujung pada Pengkafiran Umat

Mayoritas umat Islam mengikuti jalan para sahabat Nabi ﷺ. Namun Syiah justru membangun akidah dengan mencela, melaknat, bahkan mengkafirkan mayoritas sahabat, terutama Abu Bakar, Umar, dan Utsman رضي الله عنهم. Karena Ahlus Sunnah mencintai dan mengikuti para sahabat tersebut, maka secara otomatis Sunni dipandang sesat atau kafir menurut standar Syiah.

Padahal Allah ﷻ secara tegas memuji para sahabat:

﴿مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾
“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama beliau bersikap keras terhadap orang kafir dan saling berkasih sayang di antara mereka.”
(QS. Al-Fath: 29)

Mengingkari keutamaan sahabat berarti menentang kesaksian Al-Qur’an itu sendiri, dan inilah yang menjadi sebab utama Syiah memandang mayoritas umat Islam berada di luar kebenaran.


Standar Keselamatan yang Eksklusif

Syiah mengembangkan standar keselamatan yang sangat eksklusif, yaitu hanya mereka yang loyal kepada imam-imam Syiah yang dianggap sebagai mukmin sejati. Konsep ini melahirkan pandangan bahwa umat Islam di luar Syiah adalah ahlul bid’ah, sesat, atau kafir. Ini bertentangan dengan prinsip Islam yang menjadikan syahadat sebagai pintu masuk ke dalam Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»
“Barang siapa mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’, maka ia masuk surga.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan keluasan rahmat Islam dan tidak mensyaratkan loyalitas kepada tokoh tertentu selain Rasulullah ﷺ.


Penolakan Hadis Shahih dan Dampaknya pada Takfir

Syiah menolak sebagian besar hadis shahih yang diriwayatkan oleh sahabat Nabi ﷺ, khususnya yang tidak sejalan dengan doktrin imamah. Akibatnya, mereka membangun sistem akidah sendiri yang berbeda secara fundamental dari Islam yang diwariskan oleh generasi awal. Perbedaan sumber ini melahirkan vonis bahwa praktik ibadah dan akidah Sunni dianggap batil, bahkan kufur.

Padahal Rasulullah ﷺ memperingatkan bahaya mudah mengkafirkan sesama Muslim:

«إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا»
“Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: ‘Wahai kafir’, maka ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi prinsip Ahlus Sunnah dalam menjaga lisan dan akidah dari sikap takfir yang serampangan.


Takfir sebagai Alat Ideologis dan Politik

Dalam sejarahnya, takfir dalam Syiah juga berfungsi sebagai alat ideologis untuk membangun identitas kelompok dan memelihara loyalitas internal. Dengan menganggap mayoritas umat Islam sesat atau kafir, pengikut Syiah diarahkan untuk hanya percaya kepada pemimpin dan doktrin kelompoknya. Pola ini berbahaya karena memecah belah umat dan menanamkan kecurigaan permanen terhadap sesama Muslim.

Islam justru melarang perpecahan dan fanatisme kelompok. Allah ﷻ berfirman:

﴿وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ • مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا﴾
“Dan janganlah kalian termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi kelompok-kelompok.”
(QS. Ar-Rum: 31–32)


Dampak Berbahaya bagi Umat Islam Indonesia

Jika konsep takfir Syiah dibiarkan menyebar, dampaknya sangat berbahaya bagi persatuan umat Islam di Indonesia. Ia dapat menumbuhkan kebencian, merusak ukhuwah, dan menciptakan konflik ideologis yang tajam. Lebih dari itu, umat awam bisa terjebak dalam pemahaman bahwa mayoritas Muslim selama ini berada dalam kesesatan, sebuah klaim yang bertentangan dengan realitas sejarah Islam.


Kesimpulan

Syiah mengkafirkan mayoritas umat Islam karena akidah mereka dibangun di atas doktrin imamah, penolakan terhadap sahabat Nabi ﷺ, standar keselamatan yang eksklusif, serta penolakan hadis-hadis shahih. Semua ini bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah Rasulullah ﷺ, dan ijma’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Oleh karena itu, umat Islam Indonesia wajib memahami akar masalah ini agar tidak tertipu oleh propaganda yang menampilkan Syiah sebagai sekadar “mazhab lain”, padahal secara akidah mengandung sikap takfir terhadap mayoritas kaum Muslimin.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: