Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Pengaruh ajaran Syiah di Indonesia pernah ada dan itu sudah lama, tetapi relatif lebih bersifat kultural, tidak ideologis. Sejak meletusnya Revolusi Iran tahun 1979, doktrin dan ajarannya berbeda, sekarang lebih kental ideologi dan revolusinya.

Sejak saat itu mulailah beredar buku-buku terjemahan karya ulama atau cendekiawan Iran, seperti Ali Syariati, Muthohary, Thabathaba’i, Khomeini dan lain lain. Karya-karya ini cukup menarik para cendikiawan kampus ketika itu, dianggap sebagai Islam Kiri dan  membangkitkan.

Selanjutnya dalam penyebaran Syiah, yang sangat signifikan adalah setelah pulangnya para mahasiswa dari Kota Qom, Iran. Bahwasanya sejak revolusi, Iran banyak memberi beasiswa ke pemuda-pemuda Indonesia, jumlahnya ribuan, dan sekarang mereka sudah kembali dan menjadi agen penyebaran Syiah yang cukup gencar di Indonesia.

Data dari DEPLU RI, tahun ini saja ada 200 orang yang diberangkatkan ke Iran. Jumlah mahasiswa Indonesia di Iran diperkirakan 7000 orang. Jalaludin Rahmat, tokoh Syiah Indonesia, mengklaim ada 3 juta Syiah. Tapi menurut data BIN, orang Syiah di Indonesia hanya ada 300 ribu saja.

Awalnya, Jalaludin Rahmat aktif di Muhammadiyah, Bandung. Tapi sejak kepulangannya dari studi di luar negeri, oleh Muhammadiyah tidak dipakai lagi, karena pemikirannya dianggap menjadi liberal. Jalaludin menjadi Syiah sejak pulang dari Seminar Islam di Srilangka, ketika itu ada 3 delegasi dari Indonesia, yaitu Endang Syaifudin Anshory, Jalaludin Rahmat, dan Haedar Bagir.

Tokoh Islam Mohammad Natsir pernah mengingatkan: “Jangan mau menerima hadiah buku buku dari orang Iran”. Nampaknya, larangan itu malah menarik. Dari 3 orang delegasi, 2 orang menjadi pengikut Syiah dan hanya 1 orang yang tetap Sunni, yaitu Endang Syaifudin Anshory. Infonya, di samping dihadiahi buku, dua orang itu juga ‘digarap’ oleh propagandis Syiah Iran di acara seminar itu.

Mohammad Natsir juga pernah mengingatkan: “Hati hati, Syiah akan menjadi Bom Waktu di Indonesia.”

Ada bermacam-macam Syiah di dunia, ada Druz di Lebanon, Nusyairiyah di Suriah dan yang paling ideologis revolusioner adalah Syiah Imamiyah di Iran. Di Irak ada 60%, yang sekarang kuat dan memberontak karena disokong Iran. Di Suriah hanya 7%, tapi telah menguasai Sunni selama 40 tahun. Membunuh siapa pun yang tidak tunduk rejim Hafez al-Assad yang sekarang diteruskan anaknya, Bashar Al-Assad. Di Bahrain ada 70%, tapi di bawah pemerintahan Sunni. Di Saudi diduga ada 10% pengikut Syiah.

Syiah Imamiyah Iran sekarang sudah mengklaim memiliki 5 poros kekuatan Syiah, yaitu Teheran, Baghdad, Lebanon, San’a Yaman dan Damaskus. Syiah Iran adalah Syiah Imamiyah, atau disebut juga Itsna’ Asyariah, Rafidhah, Ja’fariyah.

Iran dahulunya Sunni, perlu waktu 300 tahun untuk dijadikan Syiah. Selama 12 abad Sunni dan 3 abad kemudian berubah menjadi Syiah. Liciknya Iran, ulama Sunni dahulu yang lahir di Iran di kaburkan seolah ulama Syiah.

Alat propaganda Syiah adalah dengan memakai sebutan Ahlul Bait, bukan Syiah. Di Indonesia ada ABI (Ahlul Bait Indonesia), organisasi keturunan Arab yang mengaku keturunan Imam Husein. Dan ada juga IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait), yang ini pengikutnya adalah keturunan non Arab. Keduanya tidak mesra hubungannya, tapi yang IJABI lebih militan dan sering berhubungan dengan Iran. Selain berkilah dengan nama Ahlul Bait, Syiah juga berlaku seolah toleran, padahal di Iran sendiri, masjid Sunni tidak diberi hak hidup.

Mengingat semakin agresifnya Syiah di Dunia Islam umumnya dan di Indonesia khususnya, sudah banyak ulama yang memberi peringatan akan bahaya Syiah. Dalam konteks ini Syiah sering berdalih dengan Deklarasi Amman, ditetapkan di ibu kota Yordan, muktamar dunia yang dihadiri ulama Sunni dan Syiah. Di antara isi Deklarasi itu bahwa Syiah Ja’fariyah dianggap sebagai salah satu dari 8 mazhab dalam Islam. Meskipun mereka juga mengabaikan keputusan lain bahwa di Negeri Sunni tidak boleh ada dakwah Syiah dan sebaliknya.

Di Indonesia sudah mulai tumbuh konflik mengingat Syiah Imamiyah sangat agresif. Ingat kasus Sampang Madura dan penyerangan masjid Ustadz Arifin Ilham. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur dan juga beberapa MUI daerah lain, memfatwakan bahwa Syiah sesat. Sementara MUI Pusat juga banyak didesak oleh daerah untuk mengeluarkan fatwa sesatnya Syiah.

Syiah juga berlindung dengan HAM, sekarang tokoh Syiah Jalaludin Rahmat sudah masuk DPR RI dari fraksi PDIP. Syiah sudah masuk ke birokrasi dan TNI. Ada 200 an yayasan Syiah yang beroperasi di Indonesia, dan ada ribuan alumni Qom Iran yang gencar bermanuver. Syiah akan menjadi bom waktu di tengah-tengah kita. Risalahmujahidin.com

0 komentar: