Breaking News
Loading...




Oleh Zulkarnain El-Madury


Berbeda dengan Islam, Syiah memandang kaum wanita tidak lebih dari budak belaka, sebatas pemuas hawa nafsu di barak barak Maksiat. Tidak ada satupun hadits dalam Syiah yang menempatkan wanita sebagai manusia yang harus di hargai. Selain dipandang buruk perangai, wanita dalam Syiah kedudukannya tidak lebih sebagai pembohong, pendusta yang tidak layak di hormati.

Karakteristik Wanita Dalam Syiah

Diriwayatkan dari  Ali bin Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Abi Abdillah al-Barqi kepada kami: dari ayahku, dari kakeknya Ahmad bin Abi Abdillah, dari ayahnya, dari Muhammad bin Abi Umair, dari beberapa orang  terpercaya ​​Ja'far bin Muhammad dari ayahnya, dari kakeknya ‘alais Salam, berkata :

Salah satu sahabat Amirul-Mukminin (Ali) mengeluh tentang perempuannya kepadanya. Kemudian Dia berdiri dan menasehati umatnya:

Wahai manusia, janganlah patuh pada perempuan dalam hal apapun, juga jangan mempercayai mereka dengan uang, atau membiarkan mereka bertanggung jawab atas anak-anak kalian, karena jika mereka dibiarkan untuk melakukan apa yang menyenangkan diri mereka, mereka akan memimpin kalian untuk menyelesaikan masalahnya dan mereka akan melakukan perlawanan dengan kedudukan seorang bangsawa. Kita mendapatkan  mereka sebagai pelampiasan ketika kita membutuhkan mereka, mereka tidak sabar ketika nafsunya memuncak, bahkan jika mereka sudah tua belanjanya boros menjadi bagian dari mereka, bahkan pada usia yang lebih tua dari mereka tidak mau tau  dan mengagumi diri mengikuti mereka sendiri . Mereka tidak busa menghargai "banyak" ketika mereka menolah pemberian"kecil". Mereka melupakan perbuatan baik dan ingat yang perbuatan buruk orang lain. Mereka terburu-buru demi sebuah kepalsuan, bersikeras membabi buta dengan  mengikuti langkah Setan. Jadi berurusan dengan mereka bagaimana pun cara mengatasi mereka dengan baik bahwa perbuatan mereka bisa menjadi baik
(sebagai buahnya ). [ Al Amali,  Ibnu Babawaih Al Qummi Riwayat 6 , hal. 172]

Al-Imam al-Sadiq berkata:

“Janganlah kalian bermusyawarah dengan wanita (istri-istrimu) dalam
perkara yang sifatnya rahasia, jangan mengikuti keinginan mereka.
Sesungguhnya, wanita jika semakin tua, maka hilang kebaikannya
dan yang tersisa adalah keburukan-keburukannya, yakni hilang
kecantikannya, mandul rahimnya dan semakin tajam lisannya
(menentang perintah suami). Dan sesungguhnya laki-laki jika semakin
tua, maka akan hilang jejak keburukannya dan yang tersisa adalah
kebaikan-kebaikannya, yakni: kokohnya akal, sempurna pemikirannya
dan berkurang kebodohannya

[Radi al-Din al-Hasan bin al-Fadl al-Tibrisi, Makarimal Akhlaq 111 129]

Perkataan Imam Imam Mereka nyata sekali menempatkan wanita tidak lebih dari budak, alat pemuas nafsu belaka. Boleh jadi para nenek di Iran bisa sekedar menjadi pelayan penjaga kebersiahan rumah, sebatas wanita pekerja sex dan lainnya. 

Bila melihat kehidupan Wanita di Iran memang tak jauh dari tulisan barat mengenai Iran yang makin kumuh, membuat wilayah wanita makin sempit dan tak punya peran boleh menyaingi laki laki.

More than 30 universities have introduced new rules banning female
students from almost 80 different degree courses. These include a
bewildering variety of subjects from Engineering, Nuclear, Physics and
Computer Science, to English Literature, Archaeology and Business.
No official reason has been given for the move, but campaigners,
including Nobel Prize winning lawyer Shirin Ebadi, allege it is part of
a deliberate policy by the authorities to exclude women from education

Di Iran wanita memang terkungkung, sejauh ini tidak ada perkembangan apapun di Iran berkaitan dengan Wanita, tetapi mereka digalakkan aktif di bidang seks belaka. Mereka akrab dengan dunia sek dan dijauhkan dari berbagai sekolah tinggi yang membidang, yang tidak memungkinkan bagi wanita Iran bisa maju. Karena kaum wanita di Iran sebatas budak nafsu belaka.

Ekspolitas Mut’ah yang kebablasan menimbulkan dekandensi moral wanita di Iran, selain penyakit masyarakat berkedok agama.

0 comments: