Breaking News
Loading...

Bagaimana Syiah Menggunakan Dalil Palsu untuk Menyesatkan Umat?

Syiahindonesia.com - Salah satu ciri paling berbahaya dari ajaran Syiah adalah cara mereka menggunakan dalil-dalil palsu—baik berupa ayat yang ditafsirkan menyimpang, hadis palsu, riwayat fiktif, maupun cerita-cerita dramatis tanpa sumber—untuk memengaruhi umat Islam yang awam. Dalil-dalil palsu ini digunakan secara sistematis untuk mendukung doktrin imamah, mencela sahabat, mendewakan imam, serta menanamkan kebencian kepada Ahlus Sunnah. Artikel ini akan menjelaskan dengan lengkap bagaimana metode penyesatan tersebut berjalan dan mengapa umat Islam wajib waspada.


1. Memalsukan Hadis untuk Mendukung Doktrin Imamah

Pilar utama Syiah adalah imamah—yakni keyakinan bahwa kepemimpinan setelah Nabi ﷺ ditentukan oleh wahyu untuk Ali. Karena tidak ada satu pun dalil shahih dalam Islam yang mendukungnya, Syiah menciptakan berbagai hadis palsu seperti:

  • Riwayat palsu Ghadir Khum dengan makna yang dipelintir.

  • Hadis palsu bahwa Nabi ﷺ menunjuk Ali sebagai khalifah secara eksplisit.

  • Riwayat bahwa seluruh sahabat murtad kecuali beberapa orang.

Padahal hadis shahih menyatakan bahwa Nabi ﷺ memilih Abu Bakar untuk menjadi imam shalat, yang merupakan tanda paling kuat kepemimpinan setelah beliau.

Nabi ﷺ bersabda:

«يَأُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ»
“Yang memimpin shalat adalah yang paling paham Al-Qur’an.”
(HR. Muslim)

Dan tidak ada yang lebih layak daripada Abu Bakar, sebagaimana disepakati para sahabat.


2. Menyisipkan Ayat Al-Qur’an dengan Tafsir Menyimpang

Syiah sering mengambil ayat yang tidak ada hubungannya dengan Ali lalu memaksakan takwil untuk mendukung imamah.

Contohnya:

a. QS. Al-Ma’idah: 55

﴿إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ﴾
Ayat ini berbicara tentang kepemimpinan umum dalam Islam, bukan tentang penunjukan Ali.

b. QS. Al-Baqarah: 124

﴿لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ﴾
Ayat ini tentang Nabi Ibrahim, tetapi Syiah memaksakan tafsir bahwa khalifah harus maksum.

Ini adalah bentuk tahrif maknawi, yakni penyimpangan makna tanpa mengubah teks.


3. Menggunakan Kitab-Kitab Penuh Hadis Palsu sebagai Rujukan Utama

Syiah sangat bergantung pada kitab-kitab mereka yang penuh riwayat bermasalah, seperti:

  • Al-Kafi

  • Bihar al-Anwar

  • Tafsir al-Qummi

  • Al-Ihtijaj

  • Man La Yahdhuruhu al-Faqih

Bahkan ulama mereka sendiri mengakui bahwa sebagian besar hadis dalam kitab mereka tidak sahih.

Sebaliknya, umat Sunni menggunakan kitab-kitab hadis yang teruji ketat seperti Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.


4. Menyebarkan Kisah Fiktif yang Mengaduk Emosi

Penyesatan terbesar Syiah adalah kisah-kisah dramatis yang tidak punya dasar sejarah. Contohnya:

  • Kisah Umar membakar rumah Fatimah (tidak ada sanad, tidak ada sumber, dan bertentangan dengan sejarah).

  • Kisah Fatimah dipukul hingga rusuknya patah (narasi belakangan yang dibuat oleh Syiah ekstrem).

  • Kisah Hasan dan Husain dizalimi seluruh sahabat (padahal mereka dihormati).

Cerita-cerita fiktif ini dimainkan untuk mengaduk emosi, terutama pada momen:

  • Asyura

  • Tabarruk di kuburan

  • Majelis ratapan (azadari)

Orang awam yang tidak bisa membedakan riwayat sahih akhirnya mudah terpengaruh cerita-cerita tersebut.


5. Mengutip Kitab-Kitab Sunni secara Parsial dan Dipelintir

Syiah sering mengambil potongan kalimat dari kitab Sunni untuk “membuktikan” klaim palsu mereka. Tekniknya:

  1. Mengambil satu kalimat,

  2. Menghilangkan konteksnya,

  3. Menggabung dengan riwayat palsu,

  4. Mempresentasikan seolah ulama Sunni sepakat dengan mereka.

Contoh paling sering: memelintir hadis Ghadir Khum.

Padahal para ulama Sunni sepakat bahwa makna “maula” dalam hadis tersebut adalah:

  • pemimpin,

  • guru,

  • sahabat terdekat,

  • bukan khalifah.


6. Menambahkan Nama Sahabat dalam Riwayat Palsu

Untuk mendiskreditkan sahabat, Syiah sering memalsukan riwayat dengan mencantumkan nama:

  • Abu Bakar,

  • Umar,

  • Utsman,

  • Aisyah,

lalu menggambarkan mereka sebagai orang zalim atau munafik.

Padahal Allah sudah memuji para sahabat secara tegas:

﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ﴾
“Allah telah ridha kepada orang-orang Muhajirin dan Anshar.”
(QS. At-Taubah: 100)

Tidak ada tempat bagi tuduhan Syiah terhadap sahabat jika mengikuti Al-Qur’an.


7. Menggunakan Dalil Palsu untuk Menyebarkan Bid’ah

Dalil palsu dipakai untuk membenarkan:

  • Nikah mut’ah

  • Tawassul kepada Imam

  • Syafaat Imam yang tak terbatas

  • Ritual meratap dan melukai diri

  • Ziarah kubur secara ekstrem

  • Menjadikan imam sebagai makhluk semi-ilahi

Padahal Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”
(HR. Bukhari)


8. Dalil Palsu Digunakan untuk Menyerang Syariat Islam

Syiah juga menciptakan riwayat palsu untuk:

  • meremehkan shalat berjamaah,

  • menolak keutamaan Abu Bakar dan Umar,

  • mengurangi otoritas ulama Sunni,

  • memecah belah umat Islam.

Ini adalah bentuk agresi intelektual untuk merusak fondasi Islam dari dalam.


Kesimpulan: Dalil Palsu Adalah Senjata Utama Syiah

Penyesatan Syiah berjalan melalui:

  • hadis palsu,

  • tafsir menyimpang,

  • kisah fiktif,

  • pemalsuan sejarah,

  • manipulasi kitab Sunni,

  • kultus imam.

Semua ini dilakukan untuk menyesatkan umat dari Islam yang murni dan mengalihkan loyalitas kepada doktrin imamah.

Umat Islam di Indonesia wajib memahami taktik ini agar tidak terpengaruh propaganda yang dibungkus “dalil agama”.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: