Breaking News
Loading...

Bagaimana Syiah Memalsukan Sejarah Perang Jamal dan Shiffin?

 


Syiahindonesia.com –
Sejarah Islam merupakan amanah ilmiah yang harus dijaga dengan kejujuran dan ketelitian, karena dari sejarah inilah umat Islam memahami perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, perjuangan para sahabat, serta ujian besar yang menimpa generasi awal kaum Muslimin. Namun dalam literatur Syiah, sejarah Islam—khususnya peristiwa besar seperti Perang Jamal dan Perang Shiffin—sering kali ditulis ulang dengan pendekatan ideologis, bukan ilmiah. Pemalsuan narasi ini bertujuan membangun citra negatif terhadap para sahabat Nabi ﷺ dan menguatkan doktrin imamah Syiah, meskipun harus mengorbankan fakta sejarah yang telah disepakati para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.


Kedudukan Sahabat dalam Islam dan Pentingnya Kejujuran Sejarah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa para sahabat Nabi ﷺ adalah generasi terbaik umat ini. Mereka adalah orang-orang yang langsung menerima wahyu, menyaksikan turunnya Al-Qur’an, dan berjuang bersama Rasulullah ﷺ dalam menyebarkan Islam. Allah ﷻ berfirman:

﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ﴾
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini menegaskan bahwa prinsip dasar Islam adalah memuliakan sahabat, bukan mencela atau memutarbalikkan sejarah mereka.


Latar Belakang Perang Jamal yang Disalahpahami Syiah

Perang Jamal terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan melibatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha, Thalhah, serta Zubair radhiyallahu ‘anhum. Dalam sejarah Ahlus Sunnah, peristiwa ini dipahami sebagai ijtihad para sahabat yang terjadi di tengah kekacauan besar pasca terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

Namun Syiah memalsukan narasi ini dengan menggambarkan Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagai pemberontak yang sengaja memerangi Ali. Tuduhan ini sangat bertentangan dengan fakta sejarah dan nash syar’i, karena Aisyah keluar bukan untuk berperang, melainkan untuk menuntut penegakan qishash atas pembunuh Utsman dan meredakan fitnah.

Allah ﷻ sendiri telah membela Aisyah dalam Al-Qur’an:

﴿النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ﴾
“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.”
(QS. Al-Ahzab: 6)

Mencela Aisyah berarti menentang Al-Qur’an secara langsung.


Fakta Sejarah: Tidak Ada Niat Perang dalam Perang Jamal

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa Perang Jamal terjadi karena provokasi kelompok pemberontak pembunuh Utsman yang takut akan penegakan hukum. Mereka memicu bentrokan di malam hari sehingga kedua kubu terpaksa membela diri. Ali radhiyallahu ‘anhu sendiri sangat menyesalkan terjadinya perang tersebut dan tetap memuliakan Aisyah setelahnya.

Syiah menghapus fakta ini dan menggantinya dengan narasi hitam-putih: Ali selalu benar, sementara pihak lain selalu jahat. Pendekatan seperti ini bukanlah metode sejarah, melainkan propaganda ideologis.


Pemalsuan Sejarah Perang Shiffin oleh Syiah

Perang Shiffin terjadi antara pasukan Ali radhiyallahu ‘anhu dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu. Dalam pandangan Ahlus Sunnah, konflik ini adalah perselisihan ijtihad, bukan perang antara iman dan kekafiran. Mu’awiyah tidak memberontak untuk merebut kekhalifahan, melainkan menuntut keadilan atas darah Utsman yang dibunuh secara zalim.

Syiah memalsukan sejarah dengan menggambarkan Mu’awiyah sebagai penentang kebenaran dan pengkhianat Islam. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي»
“Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini bersifat umum dan mencakup seluruh sahabat, termasuk Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu.


Isu Tahkim dan Distorsi Fakta

Salah satu narasi utama Syiah adalah tuduhan bahwa Ali “dipaksa” menerima tahkim dan bahwa tahkim adalah kesalahan fatal. Padahal tahkim adalah upaya damai untuk menghentikan pertumpahan darah kaum Muslimin. Ali radhiyallahu ‘anhu menerimanya sebagai solusi sementara, bukan karena lemah atau salah.

Syiah sengaja mengabaikan fakta bahwa Ali tetap seorang imam yang adil dan mulia, meskipun mengambil keputusan ijtihad yang tidak selalu berakhir sesuai harapan. Dalam Islam, ijtihad yang keliru tetap berpahala. Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا اجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ»
“Jika seorang hakim berijtihad lalu benar, ia mendapat dua pahala. Jika ia berijtihad lalu salah, ia mendapat satu pahala.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Tujuan Ideologis di Balik Pemalsuan Sejarah

Pemalsuan sejarah Perang Jamal dan Shiffin bukanlah kesalahan akademik biasa, melainkan strategi ideologis. Dengan menjelekkan sahabat, Syiah berusaha meruntuhkan kepercayaan umat terhadap sumber utama Islam, yaitu sunnah Nabi ﷺ yang diriwayatkan para sahabat. Jika sahabat dianggap pengkhianat, maka hadis mereka pun dapat ditolak, dan digantikan dengan riwayat imam-imam Syiah.

Inilah pintu masuk penyimpangan akidah yang sangat berbahaya.


Dampak Pemalsuan Sejarah bagi Umat Islam Indonesia

Di Indonesia, pemahaman sejarah yang keliru dapat menimbulkan kebencian terhadap sahabat Nabi ﷺ, merusak ukhuwah Islamiyah, dan menanamkan benih ekstremisme ideologis. Generasi muda yang tidak memiliki dasar ilmu yang kuat sangat rentan menerima narasi emosional yang disebarkan melalui buku, media sosial, dan forum-forum tertutup.

Jika sejarah Islam dipelintir, maka akidah pun akan ikut rusak, karena sejarah sahabat tidak dapat dipisahkan dari transmisi Al-Qur’an dan sunnah.


Sikap Ahlus Sunnah terhadap Fitnah Sejarah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersikap adil dan proporsional. Kami mencintai seluruh sahabat, mengakui bahwa mereka manusia yang bisa berijtihad dan diuji, namun tetap meyakini keutamaan dan keadilan mereka. Kami tidak menjadikan konflik sejarah sebagai bahan kebencian, tetapi sebagai pelajaran tentang bahaya fitnah dan pentingnya persatuan.

Allah ﷻ berfirman:

﴿وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ﴾
“Dan Allah menetapkan hukum dengan adil.”
(QS. Ghafir: 20)


Kesimpulan

Syiah memalsukan sejarah Perang Jamal dan Shiffin dengan cara menghapus konteks, memutarbalikkan niat para sahabat, dan menyederhanakan konflik ijtihad menjadi narasi hitam-putih demi kepentingan ideologi imamah. Pemalsuan ini bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan metode ilmiah dalam menulis sejarah. Oleh karena itu, umat Islam Indonesia harus waspada, mempelajari sejarah Islam dari sumber-sumber Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang kredibel, dan menjaga kehormatan para sahabat Nabi ﷺ sebagai generasi terbaik umat ini.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: