Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Sejak awal tahun, pasien ketiga yang menderita gangguan ginjal meninggal di sebuah rumah sakit di Damaskus, ungkap pihak rumah sakit pada Kamis (16/3/2017).

Rumah Sakit Khusus Perbatasan Damaskus di Ghouta timur tersebut menyatakan bahwa Muhammad Amra meninggal karena obat-obatan yang ia butuhkan tidak mampu untuk melewati blokade yang dilakukan oleh pasukan rezim.

“Jumlah korban meninggal akibat mendderita gangguan ginjal di Ghouta timur kini menjadi tiga orang,” ungkap rumah sakit dalam posting mereka di media sosial.

Mereka menambahkan bahwa pencegahan konvoi bantuan PBB untuk memasuki area rumah sakit yang dilakukan oleh pasukan Bashar Asad menjadi penyebab di balik kematian pasien malang tersebut.

Sebanyak 39 pasien penderita gangguan ginjal lainnya di distrik ini juga terancam akan tidak memperoleh pengobatan yang mereka butuhkan, kata rumah sakit.

Menurut National Kidney Foundation Suriah, ada sekitar 7.000 pasien yang membutuhkan dialisis ginjal di Suriah sebelum perang dimulai pada Maret 2011.

Menurut sebuah artikel tahun 2014 di Avicenna Journal of Medicine, “pasien penderita gangguan ginjal dan pasien yang membutuhkan cuci darah akan menjadi orang yang paling rentan di antara semua penderita penyakit kronis selama konflik dan perawatan mereka akan sangat terpengaruhi”.

Ghouta Timur yang terletak di pinggiran ibukota Suriah telah dikepung sejak Desember 2012. Sebelum perang, lebih dari setengah juta orang tinggal di sana tapi kini populasinya menyusut hingga puluhan ribu.

Rusia mengumumkan gencatan senjata pada 6 Maret yang akan berakhir pada 20 Maret Namun, ada laporan yang menyebutkan bahwa serangan udara dan artileri tetap terjadi dalam waktu 24 jam dari awal gencatan senjata ini.

Seorang anggota senior staf medis rumah sakit mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa gangguan dalam penyediaan peralatan medis yang menyebabkan kematian pasien.

Sumber, yang tidak mau disebutkan namanya karena masalah keamanan, mengatakan: “Kami meminta semua organisasi kesehatan internasional dan organisasi bantuan untuk bertindak sesegera mungkin dan mendukung kami.” (banan/arrahmah.com)

0 komentar: