Breaking News
Loading...

Anggota KASIH (Komunitas Anti Syiah) tengah berada di IBF 2015
Oleh: Burhan Shadiq

Polemik soal syiah menyeruak lagi. Kali ini menyoal seorang tokoh yang memang sudah lama terindikasi syiah. Tapi karena sang tokoh nampak humanis dan sangat humble, maka ke-syiah-annya menjadi diterima.

“Dia syiah, tapi dia baik sama saya.” Kalimat ini akan menjadi sihir yang luar biasa, kalau diucapkan seorang selebriti islami.

Memang bicara syiah hari ini di negeri ini sangat dilema. Satu sisi umat harus tahu bahaya syiah. Tapi di sisi lain banyak pula Sunni yang membela syiah.

Di satu sisi, banyak akademisi sudah mencoba membongkar ancaman syiah. Tapi di sisi lain, banyak Sunni yang hidup di ketiak tokoh syiah. Sehingga indikator ummat menjadi susah. Dia syiah, bahaya. Tapi di sisi lain banyak tokoh Sunni mengagumi mereka.

Sebenarnya sederhana. Kita hanya butuh furqon. Alat pembeda yang tegas. Jika seseorang syiah, berarti kita harus menyikapi tegas.

Akan menjadi dilema, jika orang Sunni sudah mulai merasa kepotangan budi sama orang syiah. Dia susah bersikap pada akhirnya.

Jika orang Sunninya orang biasa, saya pikir tidak masalah. Tapi jika orang sunninya tokoh panutan, maka bahaya sikap lunaknya terhadap syiah ini. Dia merasa benar dengan sikap lunak terhadap syiah. Lalu pada akhirnya susah diberitahu bahwa orang yang dikagumi itu seorang syiah.

Sebaik apapun seseorang, jika dia syiah, maka perlu ada catatan khusus, syiah yang seperti apa, bagaimana pemikirannya dan lain-lain. Kita jadi terbelalak. Karena tokoh-tokoh panutan yang “okay” selama ini ternyata beberapanya tidak bsia bersikap tegas kepada syiah.

Ibaratnya kita mengatakan, “Mas itu singa loh.” Tapi karena dia sudah lama diberi makan Singa maka dia bilang, “Tapi dia singa yang baik kok. Dia kasih makan saya.”

Humanis, ramah dan baik hati, menjadi sebuah alat yang menyusahkan bagi seorang Sunni menyikapi syiah. Ahlus Sunnah sebaiknya belajar dari Yaman. syiah yang lembut, pada akhirnya bisa menghisap leher leher mereka.

Saya tidak sedang menebar kebencian. Karena memang sikap tegas harus kita miliki. Sejarah sudah cukup sebagai bukti. Sudah banyak ulama ulama Indonesia yang berdiri di bagian depan melawan syiah.

Dan perang dingin sudah dimulai. Bentrok horizontal juga sudah terjadi. Tokoh tokohnya juga sudah dipetakan secara jelas. Siapa syiah di negeri ini sudah rada gamblang.

Artinya kita tahu seseorang itu syiah tidak perlu menunggu dia deklarasi dia syiah. Penelitian ahli dan diamnya mereka soal tuduhan sudah jadi bukti syiahnya mereka. Sebab syiah itu bukan seperti liberalis yang bangga menyebutkan identitasnya. Mereka memiliki konsep taqiyyah yang licin.

Di negeri ini setidaknya ada syiah yang pede, ada setengah syiah yang abu abu, dan ada yang ter-syiah-kan tanpa sadar. Syiah pede yang sengaja dia bilang SAYA SYIAH. Jelas tanpa tedeng aling2. Syiah abu abu adalah syiah yang masih taqiyah. Dia syiah tapi tidak mau mengaku kalau syiah. Padahal bukti sudah banyak. Sementara yang ter-syiah-kan tanpa sadar adalah yang membela syiah mati-matian padahal dia Ahlusunnah.

Kajian-kajian soal syiah sudah sangat marak. Para ustad sudah berkali-kali ceramah. Di media semacam youtube juga sudah banyak. Semua bisa diakses. Ahlusunnah Indonesia juga sudah memberi peringatan sama NKRI soal ambisi politik syiah. Tapi belum ada respon yang memuaskan.

Jika respon NKRI telat, maka gurita syiah bisa sangat berbahaya. Tokohnya sudah merajalela. Mereka sudah berhasil membuat tokoh2 ahlusunnah melunak. “Okelah ana syiah, tapi ana baik kan sama ente?” Ahlusunnah pun mengangguk.

Inilah yang sedang berjalan. Sebuah penggiringan opini. “Mending syiah tapi lembut, daripada ahlusunnah tapi kasar.”

Atau ungkapan seperti ini, “Kalau toh dia syiah, dia dah kasih banyak hal sama saya. Daripada anda ahlus sunnah sukanya nuduh.”

Kemarin di Solo, seorang Mubaligh bilang, syiah ada yang sengaja keras dan militan. Ada pula yang disetting lembut. Syiah yang militan sengaja dipasang badan jika mereka diserang. Siap dengan opini opini tajam. Sementara syiah yang lembut, disetting untuk buat opini ke massa, jangan sampai kalian memusuhi syiah. Target minimal, massa netral sama syiah.

Maka syiah lembut mensetting dirinya dengan kajian kajian kitab ahlusunnah tapi dengan penjelasan ulama syiah. Wah…

Jika Islam melawan dan mulai kritis, mereka guyur Islam dengan kalimat humanis. “Semua sayang mahluk tuhan.” Tapi jika orang kafir bantai umat Islam, mereka diam.

Jika umat Islam cerdas dan mulai puritan, mereka beri kotak dengan label aneh-aneh. Tapi jika islam pluralis saja, mereka sayang-sayangi.

Syiah berhasil tampil lembut dan nampak santun. Sementara Ahlusunnah tidak bisa sesantun dan selembut itu. Syiah masuk di lini dakwah budaya. Sementara puritan Ahlusunnah seolah-olah anti budaya.

Mending syiah tapi gelar doktor daripada Ahlussunah anti sama gelar dan kampus. This is what has happened.

Maka teman, bersiaplah kecewa jika tokoh favorit anda mendadak membela syiah mati matian. Bersikap adillah, lihatlah al haq pada hakekat al haq-nya, bukan pada tokohnya. Jika tokoh itu salah, maka jangan diikuti.

Maka mungkin kita kaget, “Loh kok sekelas dia bisa beropini gitu. Loh kok dia sama syiah gitu.” Siap siap kaget. Mungkin lama-lama terbiasa. Maka ikhwan akhwat ahlussunah. Giatkanlah lagi mengajinya, kajian-kajian manhaj. Agar kita paham siapa lawan siapa kawan.

Tidak semua yang berkilau itu keren. Sebab kilau cahaya akan membuat buta jika terlalu lama menatapnya.

Jadi sebaiknya pembinaan mulai fokus. Kajian-kajian juga mulai masuk pada tema tema manhaj. Siap-siap tarung di ranah sastra juga.

Melawan syiah ini, sudah mulai muncul aksi terbelah. Jelas melawan syiah tdak populer. Maka bergabunglah pada mereka yang konsisten terhadap manhaj Ahlussunnah. Mereka pegang manhaj ini sampai mati. Sebab ada kalanya lidah kita kelu jika bersikap terhadap syiah. Takut jika pengikut kita hilang. Suara kita berkurang. Banyaklah minta jawaban sama Ulama, jangan bergerak sendiri. (arrahmah.com)

0 comments: