Breaking News
Loading...

Syiah dan Penyimpangan Konsep Tawassul yang Berlebihan

 


Syiahindonesia.com -
Dalam praktik keagamaan, tawassul atau perantara doa merupakan amalan yang dibenarkan dalam Islam ketika sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ. Namun, Syiah mengembangkan konsep tawassul secara berlebihan sehingga menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Penyimpangan ini tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga ideologis, karena menempatkan imam-imam mereka, terutama Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan keturunannya, sebagai perantara yang wajib ditinggikan di atas batas akidah yang benar. Fenomena ini terlihat jelas dalam ritual ziarah, perayaan, dan doa-doa Syiah, di mana imam atau orang suci dianggap memiliki kekuatan ilahi untuk mengabulkan doa, bahkan melebihi kemampuan Allah Ta’ala.


Perbedaan Konsep Tawassul dalam Syiah dan Sunnah

Dalam Islam, tawassul dibenarkan jika dilakukan melalui perantara yang shalih dengan niat mengharap ridha Allah, bukan menjadikan makhluk sebagai pengganti Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

« أَنَا وَمَنْ أَشَدَّ بِهِ فِي شَأْنِي »
“Aku adalah orang yang paling dekat dengan mereka yang mengharap pertolonganku dalam urusan dunia dan akhirat.” (HR. Tirmidzi)

Sunnah mengajarkan bahwa perantara hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan tidak boleh disakralkan atau dijadikan objek pemujaan. Syiah, sebaliknya, mengembangkan praktik tawassul yang menempatkan imam mereka sebagai figur yang wajib dipuja, bahkan diyakini memiliki kekuatan ilahi untuk mengabulkan doa.


Ziarah Berlebihan dan Pengkultusan Imam

Salah satu wujud penyimpangan tawassul Syiah terlihat dalam ritual ziarah ke makam imam-imam mereka. Mereka tidak hanya mendoakan imam secara biasa, tetapi menganggap doa akan lebih mustajab jika dilakukan melalui imam tertentu. Praktik ini sering disertai ritual ekstrem, seperti menangis berlebihan, menyakiti diri, atau bahkan mempercayai adanya kekuatan supranatural yang melekat pada jasad imam.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

« لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا »
“Jangan jadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan (tempat pemujaan atau pengkultusan).” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa pengkultusan jasad atau makam orang shalih termasuk perbuatan yang bertentangan dengan prinsip tauhid.


Doktrin Syiah tentang Kekuatan Imam

Dalam banyak literatur Syiah, imam diyakini sebagai makhluk maksum dan memiliki kemampuan mengubah takdir, mengampuni dosa, atau mengabulkan doa secara langsung. Doktrin semacam ini menyalahi prinsip tauhid, karena seluruh kekuasaan dan pengabulan doa hanyalah milik Allah Ta’ala. Syiah melebih-lebihkan kedudukan imam hingga menyerupai pengganti Allah dalam urusan spiritual, padahal Al-Qur’an menegaskan:

﴿ قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ ﴾
“Katakanlah: ‘Tuhan-Ku tidak peduli kepada kalian seandainya bukan karena doa kalian.’” (QS. Al-Furqan: 77)

Ayat ini menegaskan bahwa doa adalah hak prerogatif manusia langsung kepada Allah, bukan melalui makhluk yang disakralkan.


Dampak Penyimpangan Tawassul terhadap Akidah Umat

Penyimpangan tawassul yang dilakukan Syiah berpotensi merusak pemahaman umat Islam tentang tauhid. Banyak yang mulai meyakini bahwa imam atau orang suci memiliki kekuatan ilahi, sehingga menggeser keyakinan dari Allah Ta’ala. Hal ini dapat menimbulkan praktik syirik secara tidak sadar, karena doa dan pengharapan ditujukan kepada makhluk, bukan langsung kepada Allah.

Selain itu, pengkultusan ini menimbulkan perpecahan antara umat Islam Sunni dan Syiah, karena Sunni memahami tawassul secara benar, sesuai Sunnah dan pemahaman para sahabat. Ketidaksesuaian ini sering dimanfaatkan untuk membangun narasi permusuhan.


Tawassul Sesuai Ajaran Rasulullah ﷺ

Islam yang benar menekankan tawassul yang murni, yaitu berdoa kepada Allah dengan menyebut nama orang shalih sebagai sarana yang tidak memiliki kekuasaan sendiri. Contoh yang sahih adalah doa sahabat yang menghadap Allah dan memohon pertolongan-Nya dengan mengingat jasa Rasulullah ﷺ:

« وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ »
“Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Tawassul seperti ini menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya pemberi pertolongan, dan makhluk hanyalah perantara tanpa kekuasaan hakiki.


Penutup

Penyimpangan Syiah dalam konsep tawassul adalah bentuk pengkhianatan akidah yang menggeser fokus umat dari Allah kepada manusia, khususnya imam mereka. Praktik berlebihan ini tidak hanya merusak pemahaman tauhid, tetapi juga membuka jalan bagi munculnya perbedaan dan konflik ideologis di tengah umat Islam. Menyadari bahaya ini dan kembali kepada prinsip tawassul yang sesuai Al-Qur’an dan Sunnah adalah langkah krusial untuk menjaga kemurnian akidah dan persatuan umat Islam.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: