Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Keyakinan Syiah tentang Mahdiyyah (2-Tamat)

Berbagai data dan fakta yang telah dikemukakan pada edisi sebelumnya menunjukkan secara jelas bahwa apa yang akan dilakukan al-Mahdi—versi Syiah—sama sekali tidak mencerminkan keteladanan keluarga Rasulullah SAW. Semua yang dilakukan al-Mahdi Syiah, mulai dari merubah Syari’at, memperkenalkan al-Qur’an baru, melakukan pembantaian dan lain sebagainya, adalah benar-benar menyimpang dari ajaran yang yang diteladankan oleh Rasulullah SAW. dan para keluarga beliau yang mulia.

Ulama-ulama Syiah menegaskan bahwa al-Mahdi memang diperintahkan untuk mengambil jalan lain yang tidak dilalui oleh Rasulullah SAW. Dia diperintahkan untuk berbuat tegas kepada musuh-musuhnya. Jika al-Mahdi tidak mengikuti Rasulullah SAW, maka sudah jelas dia bukanlah seorang Muslim, karena telah membuang ajaran Nabinya SAW. Jika yang dianggap musuh adalah Ahlussunnah lantaran menolak ajaran Syiah, maka sebenarnya mereka telah membuang teladan terbaik yang pernah dicontohkan oleh Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib RA yang mereka sebut sebagai Washiyyu Rasulillah SAW di mana beliau tidak pernah mengkafirkan lawan-lawan politiknya. Jadi, jelaslah bahwa al-Mahdi—versi  Syiah—dan pengikutnya bukan pecinta Ahlul Bait.[1]



Al-Mahdi Syiah adalah fiktif

Terlepas dari keberagaman versi al-Mahdi dalam perspektif Syiah dan riwayat-riwayat palsu mereka, sebetulnya ada sisi lain yang menjadikan cerita itu tidaklah aneh, bahkan mungkin bisa menarik, yakni pernyataan sebagian kelompok Syiah bahwa al-Mahdi hanyalah tokoh fiktif belaka. Dengan begitu, maka cerita-cerita mengerikan itu tidak akan beranjak dari alam khayal ke alam nyata, tak ubahnya film horor yang sering kita tonton di layar kaca.

Sayyid Husain al-Musawi dalam Lillahi tsumma li at-Tarikh mengungkapkan pernyataannya sebagai berikut:

“Ahmad al-Katib telah menulis tema ini dan dia menjelaskan tentang Imam kedua belas yang hakikatnya tidak ada, tidak memiliki eksistensi dan wujud. Dia telah menyajikan pembahasan yang memuaskan dalam tema ini. Akan tetapi saya berkata, ‘Bagaimana dia dinyatakan ada, sedangkan kitab-kitab kami yang muktabar menyatakan bahwa Hasan al-Askari—Imam yang kesebelas—telah meninggal dan tidak memiliki seorang anak laki-laki pun! Mereka menyelidiki para istri dan budak perempuannya ketika beliau wafat, namun mereka tidak mendapatkan seorang pun dari mereka yang hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Lihatlah tentang hal ini dalam kitab al-Ghaibat karya ath-Thusi pada halaman 74, al-Irsyad karya al-Mufid pada halaman 354, A’lam al-Wari karya Fadhal ath-Thabrasi pada halaman 380 dan al-Maqalat wa al-Firaq karya al-Asy’ari al-Qummi pada halaman 102.[2]

Pasca wafatnya Imam al-Hasan al-Askari (30 th) pada tahun 260 H, para pengikut Syiah Imamiyah kebingungan, karena mereka melihat bahwa mata rantai imamah tampaknya akan segera terputus sebab Imam al-Askari tidak memiliki anak laki-laki, hingga mereka terpecah menjadi 14 golongan. Tak satupun dari mereka yang dapat membuktikan adanya putra sang Imam. Sementara Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ‘terlanjur’ membuat doktrin bahwa dunia tidak boleh absen dari kehadiran seorang Imam, sehingga mereka pun membuat cerita bahwa Imam al-Askari telah meninggalkan pengganti, yaitu anak laki-lakinya yang akan meneruskan kepemimpinan setelah beliau. Semua orang tidak boleh membahas keberadaannya, dilarang menyebut namanya, bahkan tidak boleh menanyakan di mana tempatnya. Mereka mengeluarkan statemen bahwa kelahiran al-Mahdi memang dirahasiakan oleh Allah SWT.

Di antara 14 golongan Syiah, hanya 3 golongan saja yang bersedia menerima keberadaan al-mahdi, sedangkan yang lain tetap membantah opini bahwa Imam al-Askari memiliki putra. Di antara 3 golongan ini ada yang berpendapat bahwa dua tahun sebelum wafat, al-Askari dikarunia putra bernama Muhammad. Kepadanyalah imamah diwasiatkan. Golongan kedua berpendapat bahwa putra al-Askari dilahirkan delapan bulan kemudian setelah wafatnya al-Askari. Dan sungguh merupakan dusta yang luar biasa bila dikatakan bahwa beliau memiliki putra saat masih hidup. Sedangkan golongan ketiga berpendapat bahwa al-Askari telah meninggalkan pengganti, tapi siapapun tidak boleh membahasnya, tidak boleh menanyakan tempat dan namanya. Golongan ini akhirnya banyak mendapat dukungan daripada yang lain. Di samping itu, tak bisa dimungkiri bahwa ada juga kelompok pecahan Syiah yang berpendapat bahwa Imam al-Askari tidak memiliki putra sama sekali, sebab mereka telah berusaha mencari data dan fakta keberadaannya, namun hasilnya tetap nihil.

Kendati demikian, mereka yang meyakini keberadaan al-Mahdi juga memperselisihkan kapan dia menghilang (ghaib), apakah terjadi tiga hari, tujuh hari, atau empat hari setelah kelahirannya? Atau mungkin dia sebenarnya ada di sekitar kita, namun kita saja yang tidak melihatnya? Ada pula yang mengabarkan jika dia bersembunyi di sebuah gua di Samarra. Lalu, cerita manakah yang dapat kita percaya dari beragam cerita yang membingungkan ini? Yang jelas, bahwa pernyataan al-Hasan Askari tidak memiliki putra memang tertera dalam kitab Syiah sendiri, seperti al-Maqalat wa al-Firaq karya Sa’ad bin Abdullah al-Asy’ari al-Qummi (halaman 102) dan Firaq asy-Syi’ah karya Hasan bin Musa al-Nubakhti (halaman 96). Pada buku yang disebut terakhir dapat penjelasan sebagai berikut:

لَمْ يُرَ لَهُ خَلَفٌ وَلَمْ يُعْرَفْ لَهُ وَلَدٌ ظَاهِرٌ, فَاقْتَسَمَ مَا ظَهَرَ مِنْ مِيْرَاثِهِ أَخُوْهُ جَعْفَرٌ وَ أُمُّهُ.

“Beliau (al-Askari) tidak meninggalkan pengganti, tidak diketahui punya anak, harta peninggalannya diwariskan kepada Ja’far, saudaranya, juga pada ibunya.”[3]

Riwayat-riwayat tentang al-Mahdi yang berbenturan di atas, pada gilirannya menyampaikan kita pada satu titik temu, bahwa orang yang pertama menyuarakan jika al-Askari punya putra dan bersembunyi di gua Samarra adalah Utsman bin Sa’id al-Umri. Dia mengatakan putra al-Askari itu menghilang pada waktu berumur empat tahun. Orang ini juga mengambil harta benda dari pengikut Syiah atas nama zakat, khumus dan hak Ahlul Bait. Dia juga mengklaim bahwa dirinya adalah satu-satunya perantara antara para pengikut dengan Imam yang ghaib, membawakan harta dan menanyakan berbagai masalah yang ditanyakan umat kepadanya.

Setelah Utsman meninggal dia digantikan oleh putranya yang bernama Muhammad bin Utsman, yang wafat pada tahun 305 H, lalu dia digantikan oleh al-Husain bin Ruh an-Nubakhti, yang meninggal pada tahun 326 H. Sebelum al-Husain bin Ruh an-Nubakhti wafat, ia bepesan agar yang menjadi penghubung dengan Imam yang ghaib sesudahnya adalah Ali bin Muahammad as-Samiri, yang meninggal tahun 329 H. Dengan demikian Ali bin Muhammad as-Samiri, berakhir pulalah hubungan umat dengan al-Mahdi, Shahih az-Zaman yang ghaib, sebab pengikut Syiah meyakini bahwa kematian Ali bin Muhammad as-Samiri menyebabkan terjadinya Ghaibat al-Kubra.[4]

Paparan data yang tersaji pada edisi lalu dan sekarang cukup sebagai bukti bahwa cerita Imam Mahdi versi Syiah tidak lebih dari sekadar bunga rampai riwayat ganjil dan kumpulan “hadis aneh-aneh”. Bagi orang berhati jernih dan berakal sehat tentu saja akan timbul semacam keanehan atau keasingan yang sukar dipercaya. Namun masuk akal jika dikatakan bahwa keyakinan Syiah tentang Imam Mahdi memang sengaja dibangun dari beragam khurafat, mitos, dan hikayat dari negeri antah-berantah. Pasalnya, teologi Syiah kebanyakan memang dibangun di atas reruntuhan mitos yahudi, Nashrani, dan Parsi. Mitos al-mahdiyyah misalnya, dibangun sebagai ajaran dan akidah Syiah guna memberikan kesan bahwa mereka kelak akan bangkit dari keterpurukan setelah mengalami pengucilan berabad-abad.

Dengan doktrin al-Mahdiyyah, Syiah mengajarkan kepada umatnya, bahwa mereka akan mengakhiri sejarah ini dengan Muntazhar muncul kelak, mereka akan mengauasai dunia, membalas dendam terhadap musuh-musuhnya tanpa perlawanan sedikit pun. Dengan demikian, doktrin ini menjadi kelengkapan dari doktrin raj’ah yang akan kami jelaskan pada topik pembahasan berikutnya.

 By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 1059-1075.

[2] Sayyid Husain al-Musawi, Lillahi tsumma li at-Tarikh, hlm. 84.

[3] Al-Hasan bin Musa al-Nubakhti, Firaq asy-Syi’ah, hlm. 96.

[4] Lihat: an-Nubakhti, Firaq asy-Syi’ah, hlm. 79-94, Ibnu Hazm azh-Zhahiri, al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal, juz 5 hlm. 21-22, al-Bandari, at-Tasyayyu’, hlm. 213 dan Ushul Madzah asy-Syi’ah, juz 3 hlm. 1011-1012.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)

0 comments: