Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Mayoritas umat Islam beranggapan bahwa menentukan sikap terhadap Syi’ah adalah sesuatu yang sulit dan masalah yang membingungkan.Kesulitan ini kembali kepada banyak hal. Di antaranya karena kurangnya informasi tentang Syi’ah. Syi’ah menurut mayoritas kaum muslimin adalah eksistensi yang tidak jelas,tidak diketahui tumbuh berkembangannya, tidak jelas bagaimana masa lalunya, dan tidak mampu memprediksikan bagaimana masa depan Syiah. Berangkat dari sini, sangat banyak di antara kaum muslimin yang meyakini Syi’ah tak lain hanyalah salah satu mazhab Islam, seperti mazhab Syafi’i, Maliki dan sejenisnya.

Mereka tidak memandang bahwa perbedaan antara Sunnah dan Syi’ah bukan pada masalah fur’iyah saja, tetapi juga memiliki pertentangan dalam masalah prinsip pada banyak titik.

Hal lain yang menyulitkan untuk menentukan sikap terhadap Syi’ah adalah; bahwa mayoritas umat Islam yang tidak realistis. Mereka sekedar berangan-angan dan berharap tanpa mengkaji.sebagianmereka mengatakan –seolah-olah berkata dengan bahasa logika-: “Mengapa harus bermusuhan? Mari kita duduk bersama dan melupakan perselisihan di antara kita, mari kita bergandeng tangan dan berjalan sama-sama. Toh kita semua juga beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan hari kiamat?”

Orang ini lalai bahwa masalah yang sesungguhnya jauh lebih serius dari ini…Sebagai contoh, orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir namun menghalalkan khamr atau zina misalnya, hukumnya kafir.Menghalalkan maksudnya memandang bahwa hal tersebut boleh-boleh saja, dan mengingkari pengharamannya dalam Al Qur’an atau Sunnah Nabi.

Berangkat dari asumsi ini, kita akan melihat hal-hal yang sangat berbahaya dalam sejarah kaum Syi’ah, yang mengharuskan para ulama Islam untuk mengkaji kembali dan menentukan sudut pandang Islam terhadap bid’ah-bid’ah kaum Syi’ah yang demikian besar.

Hal lain yang turut merumitkan masalah ini adalah; banyaknya luka Islam di mayoritas negeri kaum muslimin, di samping banyaknya yang memusuhi mereka dari kalangan Yahudi, Nasrani, kaum salibis, komunis, Hindu dan sebagainya.

Dari sini, sebagian mereka yang ‘intelek’ memandang agar kita jangan membuka front permusuhan baru. Hal ini bisa saja dibenarkan jika front tersebut mulanya tertutup lalu kita berusaha membukanya. Namun jika sejak semula telah terbuka lebar dan serangan mereka datang siang dan malam, maka mendiamkan hal tersebut berarti suatu kehinaan…Kita tidak perlu lagi mengulang pertanyaan yang sering dilontarkan kebanyakan orang: “Apakah Syi’ah lebih berbahaya dari Yahudi?”Sebab hakikat pertanyaan ini hanya untuk membungkam lisan orang-orang yang sadar akan penderitaan umat, sekaligus membuat ragu mereka yang berusaha menjaga dan melindungi kaum muslimin.Saya akan membantah mereka dan menyatakan kepada mereka: “Apa salahnya sekiranya umat Islam menghadapi dua bahaya yang mengintai secara bersamaan? Apakah kaum muslimin Ahlisunnahyang mencari-cari alasan untuk menyerang Syi’ah, ataukah realita di lapangan membuktikan berulang kali bahwa merekalah yang memulai serangan?

Kita telah menceritakan secara detail mengenai sejarah Syi’ah di makalah-makalah sebelumnya,yaitu makalah “Ushul As Syi’ah” dan “Syaitharah As Syi’ah”.Kita menyaksikan pelanggaran-pelanggaran syi’ah yang begitu mencolok terhadap ummatislam.Saya rasa realita kita saat ini tak jauh berbeda dengan masa lampau. Bahkan saya bersaksi bahwa sejarah akan terulang, dan generasi muda akan mewarisi dendam nenek moyang mereka. Tak ada kebaikan sedikit pun yang bisa diharapkan dari kelompok yang menganggap bahwa generasi sahabat adalah generasi yang rusak kecuali sedikit dari mereka.Ini merupakan kedustaan yang nyata akan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sebaik-baik generasi adalah generasiku”Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan selainnya dari kitab-kitab yang shahih serta dari kutub sunan dan masanid.

Realita Syi’ah sekarang ini –tidak hanya zaman dulu- adalah amat sangat menyakitkan. Coba kita tengok kembali beberapa masalah yang akan menjadikan cara pandangkita lebih jelas, sehingga dapat membantu kita untuk menentukan sikap paling tepat yang mesti kita ambil terhadap Syi’ah apakah lebih baik bicara ataukah diam!

Pertama: 
Semua orang tahu bahwa sikapSyi’ah terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mulai dari Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Al Faruq, Utsman Dzun Nuurainradhiallahu ‘anhumkemudian isteri-isteri Nabi terutama ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha hingga para sahabat secara umum, sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab-kitab dan referensi yang menjadi keyakinan dan prinsip mereka, mereka menyatakan bahwa para sahabat adalah orang-orang fasik dan murtad. Mayoritas sahabat telah sesat dan berusaha menyembunyikan serta menyelewengkan ajaran Islam.

Dari sini, apakah kita hanya sekedar mengawasi dan diam saja ‘demi menghindari fitnah’ sebagaimana yang mereka katakan?

Lalu fitnah apakah yang lebih besar daripada menuduh generasi teladan ini sebagai generasi yang ‘rusak dan pendusta’?!?

Marilah kita renungi bersama perkataan bijak salah seorang sahabat bernama Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu; “Bila umat Islam di akhir zaman mulai melaknat pendahulunya, maka siapasaja yang berilmu hendaklah menunjukkan ilmunya. Bila ia menyembunyikan, maka ia seperti yang menyembunyikan ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Bisakah kalian dapat mengetahui kedalaman makna ucapan ini?
Hujatan terhadap generasi sahabat bukan sekedar hujatan terhadap mereka yang telah tiada… tidak juga seperti ucapan sebagian orang bahwa: “Hujatan tersebut tidak berbahaya bagi para sahabat, karena mereka telah masuk surga meski Syi’ah tidak suka”. Akan tetapi bahaya besar di balik ucapan ini ialah karena hujatan terhadap para sahabat hakikatnya adalah hujatan terhadap Islam secara langsung. Sebab ajaran Islam tidak akan sampai kepada kita kecuali melalui perantaraan para sahabat radhiallahu ‘anhum. Sekiranya berbagai hujatan yang menimbulkan keraguan akan akhlak, niat, dan perbuatan para sahabat dibiarkan; lantas agama seperti apa yang akan kita ikuti? Sirnalah agama ini, jika kita terima semua itu… hilanglah hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ajaran beliau. Justru kita bertanya kepada Syi’ah: “Al Qur’an model apa yang kalian baca sekarang? Bukankah yang menyampaikannya adalah mayoritas sahabat yang kalian hujat? Bukankah yang berupaya mengumpulkannya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, yang kalian anggap berbuat makar untuk menjadi khalifah? Lantas mengapa ia tidak merubah-rubah Al Qur’an sesuka hatinya sebagaimana merubah-rubah sunnah seperti yang kalian tuduhkan?”

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berpegang teguhlah kalianterhadap sunnahku dan sunnahpara Khulafa’ Ar Rasyidin yang telah mendapat petunjuk sepeninggalku”. Jadi, ajaran Khulafa’ Ar Rasyidin adalah bagian tak terpisahkan dari agama Islam. Hukum dan sikap yang diputuskan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali adalah dalil bagi setiap muslim, kapan dan di mana pun sampai hari kiamat… lantas bagaimana mungkin hujatan terhadap mereka dapat diterima?!

Sebab itulah, ulama-ulama kita yang mulia bangkit bila mendengar ada seseorang yang berani menghujat sahabat. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah misalnya, beliau pernah mengatakan:“Sekiranya kamu mendapati seseorang menyebut para sahabat dengan tidak baik, maka tuduhlah dia sebagai musuh Islam”.

Al Qadhi Abu Ya’la mengatakan: “Para fuqaha sepakat bahwa orang yang menghujat para sahabat tak lepas dari dua kondisi, yaitu; kalau dia menghalalkan hal tersebut maka dianggap kafir, namun jika tidak menghalalkannya maka dianggap fasik.”

Abu Zur’ah Ar Razi berkata;“Jika kamu mendapati seseorang mengkritik sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketahuilah bahwa dia itu Zindiq.”

Ibnu Taimiyyah menyatakan;“Barangsiapa menganggap bahwa para sahabat telah murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali hanya beberapa orang yang jumlahnya tak sampai belasan orang, atau menganggap fasik mayoritas sahabat; maka kekafiran orang ini tidak diragukan lagi”.

Sikap yang keras terhadap para penghujat sahabat ini, tak lain adalah karena para sahabatlah yang menyampaikan agama ini kepada kita. Sekiranya salah seorang dari sahabat dihujat, berarti mereka hendak membuat keraguan dalam agama. Mengingat banyaknya pujian yang Allah berikan kepada mereka dalam Al Qur’an, maupun Sunnah Nabi-Nya yang jumlahnya tida terbatas, jelaslah bahwa orang yang menghujat para sahabat berarti mendustakan Allah dan RasulNya.

Barangkali ada yang berkata: “Kami tidak pernah mendengar fulan dan fulan yang Syi’ah menghujat para sahabat?” Kepada mereka, kami ingin supaya mereka memperhatikan beberapa perkaraberikut ini:

Pertama:Pada dasarnya Sekte Syi’ah Itsna Asyariyah meyakini bahwa para sahabat bersekongkol melawan Ali bin Abi Thalib, ahli bait dan para imam yang diyakini mereka. Karena itu tidak ada seorang Syi’i pun (baik di Iran, Irak, maupun Lebanon) melainkan meyakini fasiknya para sahabat. Sebab jika mereka menganggap para sahabat adalah orang shalih, hancurlah rukun iman mereka sebagai sekte Syi’ah.

Karena itu, telah menjadi keniscayaan bila setiap orang Syi’ah baik para tokoh, ulama maupun rakyat biasa bersikap tidak hormat kepada para sahabat dan tidak menerima agama yang mereka bawa dalam bentuk apa pun.

Kedua: Tokoh-tokoh Syi’ah selalu mengelak untuk menampakkan kebencian mereka terhadap para sahabat, walaupun kadang-kadang nampak dalam sebagian ucapanatau perilaku mereka, sebagaimana firman Allah:
وَلَوۡ نَشَآءُ لَأَرَيۡنَٰكَهُمۡ فَلَعَرَفۡتَهُم بِسِيمَٰهُمۡۚ وَلَتَعۡرِفَنَّهُمۡ فِي لَحۡنِ ٱلۡقَوۡلِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ أَعۡمَٰلَكُمۡ ٣٠
“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka” [QS Muhammad:30]

Banyak di antara kita yang menyaksikan debat antara DR. Yusuf Al Qardhawi –hafidhahullah-dengan Rafsanjani (mantan presiden Iran) di TV Al Jazeera. Kita sama-sama menyaksikan bagaiman Rafsanjani selalu mengelak dari setiap usaha DR. Qardhawiagar ia menyebut sahabat dan ummahatul mukminin (isteri-isteri Nabi) dengan baik. Dan ketika Khamenei (pemimpin Revolusi Iran sekarang) ditanya tentang hukum mencaci-maki para sahabat, dia tidak mengatakan bahwa hal itu keliru atau haram. Namun ia menjawab dengan jawaban yang membingungkan, kemudian ia berkata: “Semua perkataan yang mengakibatkan perpecahan di antara kaum muslimin pasti diharamkan dalam syari’at”. Intinya, haramnya mencaci-maki sahabat menurutnya ialah karena hal itu menimbulkan perselisihan di antara kaum muslimin, bukan karena haram menurut syari’at, sebagaimana yang dilansir oleh koran Al Ahraam Mesir tanggal 23 November 2006.

Ketiga: Kita mestinya waspasa terhadap akidah ‘taqiyyah’ yang menurut Sekte Syi’ah adalah sembilan persepuluh dari agama, sebagaimana yang mereka nyatakan. Maknanya, mereka biasa mengatakan perkataan yang bertentangan dengan keyakinan mereka selama mereka belum berkuasa. Namun setelah mereka berkuasa, mereka akan menampakkan jati dirinya secara terang-terangan. Dalam Sejarah Syi’ah, kita menyaksikan bahwa tatkala mereka menguasai beberapa wilayah Ahlisunnah seperti Daulah Abbasiyah di Irak atau Mesir, Afrika Utara dan semisalnya; mereka terang-terangan menghujat para sahabat, dan menjadikan hal itu sebagai pokok agama mereka.

Dari sinijelas bagi kita pentingnya menerangkan hakikat (hujatan) Syi’ah terhadap para sahabat yang mulia. Kalau tidak, maka orang yang menyembunyikan kebenaran ini ibarat syaithan yang bisu, dan sikap ini akan mengakibatkan kehancuran Islam… (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

0 comments: