Breaking News
Loading...

Farid Achmad Okbah, M.A

PENGANTAR

Sudah sekitar seribu lebih buku Syiah disebarkan ke seluruh Indonesia untuk memasarkan dagangan ideologi transnasional ini. Tulisan yang paling anyar  adalah Buku Putih Madzhab Syiah. Kelebihan buku ini adalah tidak ada pengarangnya(hanya tertulis tim perumus buku putih DPP ABI), daftar isinya dan tulisan bismillah. Buku ini, ketika beredar, mendadak sudah cetakan ke-2, September 2012. Pertanyaannya adalah apakah posisi buku ini bisa mewakili ulama-ulama Syiah yang muktabar karena mereka pun juga bukan ulama yang muktabar. Atau, jangan-jangan buku ini hanyalah justifikasi atau pembenaran terhadap berbagai isu ajaran Syiah dalam rangka melunakkan pihak Ahlussunah agar bisa menerima ajaran syiah yang dikesankan seakan perbedaan antara keduanya tidak bersifat prinsip. Meskipun ketika membaca buku putih ini, ternyata tidak putih, justru hitam kelam, hanya mengulang apa yang dilakukan oleh berbagai ulama kontemporer untuk menutupi belangnya. Bahkan, tidak jarang penulis buku ini berbohong. Ia mengatakan menurut ulama syiah yang muktabar tapi tidak sedikitpun menyebutkan referensi Syiah. Contohnya tentang rukun iman dan rukun Islam, hal 31-33, tentang sahabat, hal: 35-49, dan tentang perkawinan mut’ah, hal 49-54. Dan banyak lagi kejanggalan-kejanggalan dalam buku putih yang tidak putih ini.

BANTAHAN:

Prinsip-prinsip tentang Al-Quran:

A. Bahwa Allah SWT telah menjamin Al Quran dari mulai diturunkan sampai akhir zaman.   Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr: 9)

B. Bahwa Rasulullah saw telah menyampaikan Al Quran kepada para sahabat. Mereka menghafalkannya dan menulisnya hingga dibukukan menjadi mushaf yang sampai kepada kita sekarang. Al Quran itu sampai  kepada kita secara mutawatir melalui jalur ahlus sunah tetapi sayangnya tidak terdapat dari sumber ahlul bait versi Syiah. Kami bawakan seputar riwayat dari para qurra’[1] sebagaimana berikut:

1. Qari Madinah, Imam Nafi’. Perawinya adalah Warasy dan Qaalun.

Qiraah ini dari enam sahabat yaitu Umar bin Khattab, Zaid bin Tsabit, Ubay  bin Ka’ab, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Ayyas, dan Abu  Hurairah radhiyallahu ‘anhum.

2. Qari Makkah Mukarramah, Imam Ibnu Katsir. Perawinya adalah Al Bazzi dan Qanbal.

Qiraah ini dari lima sahabat yaitu Umar bin Khattab, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Saib Radhiyallahu ‘anhum.

3. Qari Bashrah, Imam Abu Amru Al Bashri. Perawinya adalah Ad Duuri dan As-Susi.

Qiraah ini dari sebelas sahabat yaitu Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Masud, Abi Musa Al –Asy’ari, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Saib, , Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Abu  Hurairah, Radhiyallahu ‘anhum.

4. Qari Syam, Imam bin Amir. Perawinya adalah Hisyam dan Ibnu Dzakwan.

Qiraah ini dari Ustman bin Affan dan Abi Darda.

5. Qari Kufah, Imam Ashim bin Abi Nuaid. Perawinya adalah Syu’bah dan Hafs (mayoritas kaum muslimin pada hari ini membawa Quran dengan riwayat perawi Hafs dari Imamnya  ‘Asim).

Qiraah ini dari enam sahabat yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Masud, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum.

6. Imam Hamzah Az-Zayyat. Perawinya adalah Khalaf dan Khelad

Qiraah ini dari enam sahabat yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Masud,  dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, Radhiyallahu ‘anhum.

7. Imam bin Hamzah Al Kasai. Perawinya adalah Abul  Haris dan Hafs Ad Duuri.

Qiraah ini dari sepuluh sahabat yaitu Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit , Abdullah bin Masud, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Ayyasy, Abu  Hurairah dan Husein bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhum.

8. Imam Ya’qub Al-Hadhrami. Perawinya adalah Ruwaish dan Ruh

Qiraah ini dari sebelas sahabat yaitu Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit , Abdullah bin Masud, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Ayyasy, Abdullah bin Saib, Abu  Hurairah Radhiyallahu ‘anhum.

9. Imam Khalaf Al-Bazzar. Perawinya adalah Idris dan Ishak

Qiraah ini dari enam sahabat yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Masud, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, dan Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhum.

10. Imam Abu Ja’far Al-madani. Perawinya adalah Ibnu Wardan dan Ibnu Jamaz

Qiraah ini dari lima sahabat yaitu Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Abdullah bin ‘Ayyasy dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhum.

C. Para ulama sepakat bahwa keyakinan yang mengatakan Al Quran itu telah terdapat tahrif (ditambah dan dikurangi oleh manusia) adalah kufur.

Qadhi Abu Ya’la berkata:

“Al-Quran tidak diubah, diganti, dikurangi dan ditambah. Berbeda dengan Rafidhah (Syiah yang mencela sahabat) yang mengatakan bahwa Al Quran telah diubah dan diganti dan diselisihi nadham dan urutannya. Ia berkata, “Al Quran dikumpulkan dengan keberadaan para sahabat. Mereka telah sepakat dan tidak ada yang mengingkarinya. Tidak ada salah seorangpun dari sahabat yang membantah dan menyerangnya. Seandainya Al Quran telah diganti dan diubah pastilah ia akan dinukil oleh salah seorang sahabat bahwa ia telah diserang. Karena dalam kebiasaan, hal seperti ini tidak disembunyikan. Dan seandainya Al Quran itu telah  diubah dan diganti,  pastilah akan mengharuskan Ali untuk menjelaskan dan meluruskannya dan menjelaskan kepada manusia dan menjelaskan secara umum kepada manusia bahwa ia lebih baik meskipun telah mengalami perubahan. Maka ketika Ali tidak melakukan hal itu, dan justru tetap membaca dan menggunakannya, ini pertanda bahwa Al Quran tidaklah dirubah dan diganti.”[2]

Imam Ibnu  Hazm rahimahullah berkata,

“Ucapan bahwa apa yang di antara lembaran mushaf (yaitu Al Qur’an)  telah mengalami penggantian adalah kekafiran yang nyata dan kedustaan terhadap Rasulullah saw.[3]

Imam Abu Amri Ad-Dani rahimahullah berkata, “

Kitab Allah Ta’ala tertulis di dalam mushaf, yang dikumpulkan, dan yang mengumpulkannya adalah Utsman rahimahullah. Umat telah sepakat bahwa Al Quran itu terdiri dari 114 surat.  Barang siapa  yang menambah atau menguranginya atau mengatakan sampai ada bagian darinya yang berubah, maka ia sesat, penyesat, kafir, dan mubthil.”[4] Lalu bagaimanakah Syiah yang mengaku bahwa riwayat-riwayat memberikan keraguan di dalam Al Quran? Dan Apakah orang yang berakal percaya kalau ucapan ahlul bait  itu membuat keraguan di dalam Al Quran. Lalu di manakah janji Allah bahwa Ia akan menjaga kitabnya? Allah berfirman, “

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr: 9)

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Fakhrurrazi berkata, “Sesungguhnya Kami menjaga kitab itu dari perubahan, tambahan, dan kekurangan. Kepada orang yang mengatakan, “Jika seseorang berupaya untuk merubah huruf atau titik maka penduduk dunia akan mengatakan kepadanya, ‘Ini adalah kedustaan dan perubahan terhadap firman Allah.’  sampai-sampai jika ada orang tua yang menakutkan yang menyetujui bahwa di dalam Al Quran terdapat kekeliruan atau kesalahan dalam hurufnya,  maka anak kecil akan mengatakan kepadanya, “Wahai Bapak anda telah salah, yang benar adalah begini dan begini. Ketahuilah bahwa tidak ada kitab yang  mengalami penjagaan seperti Al Quran ini. Tidak ada kitab kecuali telah dimasuki perubahan baik sedikit ataupun banyak. Tetapnya Al Quran terjaga dari segala perubahan yang diupayakan oleh orang Kafir, Yahudi, dan Nasrani merupakan mukjizat yang paling agung[5]

Hal indah yang dibawakan oleh para Salafus Shalih kita adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Asy-Syatibi rahimahullah dari Abu Amru Ad-Dani dari Abul Hasan Al-Muntab berkata, “Pada suatu hari saya bersama Qadhi Abu Ishaq Ismail bin Ishaq. Seseorang lalu berkata kepadanya, “Wahai Syaikh mengapa Ahlut Taurah diperbolehkan untuk mengganti Taurat, sementara Ahlul Quran tidak diperbolehkan? Maka Qadhi tersebut menjawab, “Allah  berfirman kepada Ahlutt Taurah,

Disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah (Al-Maidah: 44).

Penjagaan kitab Taurat diserahkan kepada ahlut taurah, maka mereka diperbolehkan untuk melakukan penggantian. Adapun terhadap Al Quran, Allah berfirman,

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr: 9)

Penjagaan Al Quran telah dijamin oleh Allah, maka mereka tidak diperbolehkan untuk melakukan penggantian. Ali (perawi ini) berkata, ‘Aku pergi menuju Abi Abdillah Al Muhamili lalu aku menyebutkan cerita itu kepadanya. Ia berkata, “Saya belum pernah mendengar ucapan yang lebih baik daripada ini sebelumnya. “[6]

Ahlus sunah berkeyakinan bahwa siapa yang meyakini adanya tahrif dalam Al Quran maka ia telah kafir. Karena itu, tidak ada seorangpun ulama ahlus sunah yang meyakininya. Berbeda dengan ulama-ulama Syiah  yang secara terang-terangan meyakini adanya tahrif di dalam Al Quran, terutama ulama-ulama Syiah mutaqaddimin  yang jumlahnya sangat banyak.  Sebaliknya, ulama Syiah yang tidak meyakini adanya tahrif sangat sedikit, tetapi dalam Buku Putih Madzhab Syiah disebutkan jumlahnya puluhan bahkan ratusan (lihat halaman 111). Kuat dugaan mereka mengatakan demikian hanya taqiyyah saja. Buktinya, tokoh ulama Syiah An-Nuuri (1254-1320H) yang mengumpulkan seribu riwayat lebih dari ulama ulama Syiah muktabarah bahkan katanya sampai tingkat mutawatir, ketika meninggal dihormati dan  dikubur di dekat para imam di Najaf.

Dalam Buku Putih ini mereka mengatakan “menurut ulama Syiah yang muktabar” tetapi ternyata tidak banyak menunjuk kepada  ulama Syiah yang muktabar, sekedar contoh pada halaman ke-34 tentang teks “Wa Aliyyun Waliyullah sama sekali tidak ditemukan dalam buku-buku rujukan Syiah. Bahkan disebut bid’ah menurut jumhur ulama Syiah”, tapi justru Imam Ali Khameini menyebutnya lambang tasyayyu’ adalah baik dan penting (halaman 35).

Meskipun buku ini berusaha membersihkan Syiah dari keyakinan tahrif, tapi tetap saja memberikan alasan-alasan yang menjustifikasi keyakinan tersebut seperti, “Kalaupun kita anggap … (hal. 26).

Di bawah ini kami bawakan 15 ulama Syiah yang menyatakan keyakinan tahrif ini.

    An-Nuuri Ath-Thibrisi, dalam kitabnya Fashlul Khitab Fi Tahrif Kitab Rabbul Arbab
    Adnan Al-Bahrani, dalam kitabnya Masyariqusy Syumus Ad-Duriyah
    Al Mufid, dalam kitabnya Awailil Maqalat
    Al-Asfahany dalam kitabnya Aaraa’ haulal Quran
    Al Qumy
    Al Kulainy
    Al Jazairy dalam kitab syarakhnya At-Tahdzibaini dan Man’ul Hayah
    Ali bin Ibrahim
    Yusuf Al Bahrani dalam kitabnya Ad-Durar An-najafiyah
    Al Majlisi dalam  kitab syarkh atas kitab Al-Kafi, Miraatul Uqul
    Abbas Al Qummy dalam kitabnya Mafatihul Jinan
    Ali Al Khaairy dalam kitabnya Ilzamun Nasib Fi Itsbatil Hujjah Al-Ghaib
    Abul Qasim Al Khui, dalam kitabnya At-Tibyan fi Tafsiril Quran
    Abdullah Syabbar, dalam kitabnya Masabih Al-Anwar
    Husein Al Bahrani dalam kitabnya Al-Anwar Al-Wadhiyyah Fil ‘Aqaid Ar-Radhwiyyah

Buku putih ini bertambah gelap dengan memuji Sayyid Husain Nashr dalam  buku yang disuntingnya Antologi Islam pada halaman ke-27. Begitu pula kepada penerbitnya Al Huda, Jakarta (hal 64). Isi buku tersebut menguatkan adanya keyakinan tahrif pada Syiah sebagaimana terdapat pada halaman ke-694 yang berbunyi,

“Hal ini dengan jelas membuktikan bahwa meskipun Al Quran yang dipakai sekarang lengkap, kitab suci ini tidak tersusun dalam urutan sebagaimana telah diturunkan. Beberapa kesalahan penempatan ini dilakukan oleh beberapa sahabat, baik dengan sengaja atau sedikitnya dikarenakan oleh ketidaktahuan.”

Dan pada halaman ke-695 yang berbunyi,

“Transkrip ini berisi komentar dan tafsiran yang bersifat hermeneutik(tafsir dan takwil) dari Rasulullah yang  beberapa di antaranya telah diturunkan sebagai wahyu tapi bukan bagian dari teks Quran. Sejumlah kecil teks-teks seperti itu bisa ditemukan dalam beberapa hadits dalam Ushulul Al-Kafi. Bagian informasi ini merupakan penjelasan ilahi atas teks Quran yang diturunkan bersama ayat-ayat Quran jika dijumlahkan mencapai tujuh belas ribu ayat.”

Hal itu menguatkan pernyataan pada buku putih halaman ke-106 dan 107. Dan sesuai riwayat Al-Kulani juz 2 hal 634 yang berbunyi dengan jelas

 إن القرآن الذي جاء به جبريل عليه السلام الى محمد صلى الله عليه وسلم سبعة عشرألف آية

“Sesungguhnya Al Quran yang dibawa Jibril ‘alaihis salam kepada Muhammad SAW adalah  17 ribu ayat.”

Dalam kitab Miraatul Uqul juz 12, hlm 525, Al-Majlisi mengatakan bahwa riwayat hadits di atas shahih dan beliau termasuk ulama Syiah yang muktabar.

Walhasil, buku putih ini penuh dengan penyimpangan pada masalah-masalah prinsip yang justru lebih meyakinkan kita bahwa benar kalau Syiah itu sesat dan menyesatkan. Wallahu A’lam.

 Bekasi, 27 September 2012

Farid Achmad Okbah

[1] Hadits tsaqalaini, karangan Ali bin Muhammad Al-Qudhaibi, cet. Ke-1, tahun 1429 H- 2008 M, menukil dari kitab النشر في القرءات العشر لإبن الجزري ( 1/82 – 103)

[2] Al Mu’tamad fi Ushulid Din, hal. 258

[3] Al Fashl Fil Milal wan Nihal, 5/22

[4] Ar Risalah Al Wafiyah, hal 141

[5] Mafatihul Ghaib, 19/ 160-161.

[6] Al Muwafaqat 2/59

1 comment:

  1. Mizan dan mizania media syiah yang tidak banyak orang tahu.


    Boleh tahu bagaimana membuat like box fanspage seperti di web ini? Jika berkenan mohon saya minta tutorialnya. terima kasih.

    ReplyDelete