Syiahindonesia.com - Konsep taqiyah sering dipresentasikan oleh penganut Syiah sebagai strategi “perlindungan diri” ketika berada dalam kondisi terancam. Namun, dalam praktik dan literatur Syiah, taqiyah berkembang jauh melampaui makna darurat yang dikenal dalam Islam. Ia menjadi perangkat ideologis untuk menyamarkan keyakinan, menyembunyikan ajaran inti, dan menyesuaikan narasi sesuai audiens. Akibatnya, umat awam kerap tertipu oleh wajah moderat yang ditampilkan, sementara doktrin yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah disimpan rapat-rapat untuk kalangan internal.
Makna Taqiyah dalam Islam dan Batasannya
Dalam Islam, prinsip menyembunyikan iman hanya dibenarkan pada kondisi ikrah (paksaan nyata yang mengancam nyawa) dan bersifat sementara, bukan metode dakwah. Dalilnya jelas:
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ
Artinya: “Barang siapa kafir kepada Allah setelah beriman—kecuali orang yang dipaksa sedang hatinya tetap tenang dalam keimanan—…”
(QS. An-Nahl: 106)
Ayat ini membatasi kebolehan pada kondisi darurat, tidak menjadikannya kebiasaan apalagi strategi permanen. Ahlus Sunnah wal Jama‘ah menegaskan bahwa kejujuran dan keterbukaan akidah adalah prinsip dasar, sedangkan taqiyah tidak boleh menjadi jalan manipulasi.
Taqiyah dalam Literatur Syiah
Dalam banyak rujukan Syiah, taqiyah justru diangkat sebagai doktrin sentral. Ia tidak hanya dibolehkan, tetapi dipuji dan dianjurkan dalam berbagai situasi. Konsekuensinya, perbedaan antara “darurat” dan “kepentingan dakwah” menjadi kabur. Praktik ini membuka ruang bagi kontradiksi pernyataan: satu wajah untuk publik Sunni, wajah lain untuk majelis internal.
Penyamaran Akidah di Ruang Publik
Di ruang publik, sebagian dai Syiah menampilkan narasi persatuan: mengaku mengikuti Al-Qur’an yang sama, menghormati sahabat, dan menolak tuduhan ekstrem. Namun, di forum tertutup, doktrin yang berbeda diajarkan—termasuk pandangan tentang keistimewaan imam, kritik keras terhadap sahabat tertentu, dan tafsir khusus atas ayat-ayat Al-Qur’an. Pola dua wajah ini dimungkinkan oleh legitimasi taqiyah sebagai “alat aman”.
Taqiyah dan Kontradiksi Pernyataan
Kontradiksi adalah dampak paling nyata. Pernyataan yang berubah sesuai audiens melemahkan kepercayaan dan menciptakan kebingungan. Islam melarang kebohongan sebagai metode agama. Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya kejujuran:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ
Artinya: “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran menuntun kepada kebaikan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menjadikan taqiyah sebagai kebiasaan bertentangan dengan spirit hadis ini.
Taqiyah dalam Strategi Penyebaran
Dalam praktik penyebaran, taqiyah memungkinkan pendekatan bertahap: isu sensitif disembunyikan, istilah dihaluskan, dan perbedaan fundamental ditunda. Metode ini efektif menarik simpati awal, tetapi berisiko menyesatkan karena audiens tidak memperoleh gambaran utuh. Ketika doktrin inti akhirnya diperkenalkan, banyak yang telah terikat secara emosional dan sosial.
Perbedaan dengan Prinsip Dakwah Islam
Dakwah Islam menuntut bayyinah (kejelasan). Allah ﷻ berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Hikmah bukanlah penyamaran kebenaran, melainkan penyampaian yang bijak, jujur, dan proporsional. Menyembunyikan akidah inti bertentangan dengan kejelasan dakwah.
Dampak Sosial dan Keretakan Umat
Penggunaan taqiyah secara luas menimbulkan kecurigaan dan polarisasi. Ketika umat menyadari adanya agenda tersembunyi, kepercayaan runtuh dan persatuan terganggu. Padahal Islam memerintahkan keterbukaan dan ukhuwah yang dibangun di atas kebenaran, bukan manipulasi.
Sikap Ulama Ahlus Sunnah
Ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah mengingatkan agar umat berhati-hati terhadap narasi yang berubah-ubah. Prinsip mereka tegas: akidah harus disampaikan apa adanya, dan perbedaan dibahas secara ilmiah. Menghalalkan kebohongan demi tujuan ideologis tidak dibenarkan dalam agama.
Kewaspadaan Umat di Era Digital
Di era internet, taqiyah menemukan medium baru: potongan ceramah, artikel selektif, dan konten yang disesuaikan algoritma. Umat perlu mengedepankan literasi keagamaan—membandingkan sumber, memeriksa konsistensi ajaran, dan merujuk ulama tepercaya—agar tidak terjebak pada kemasan yang menenangkan namun menyesatkan.
Penutup
Taqiyah yang keluar dari batas darurat telah berubah menjadi instrumen penyamaran ajaran. Islam menuntut kejujuran, kejelasan, dan konsistensi. Dengan memahami bagaimana taqiyah digunakan untuk menyembunyikan kesesatan, umat Islam Indonesia diharapkan semakin waspada, menjaga akidah, dan menimbang setiap ajakan dengan Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: