Syiahindonesia.com - Dalam panggung sejarah Islam, Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab Radhiyallahu 'Anhu merupakan figur agung yang memiliki kedudukan amat istimewa. Beliau adalah khalifah kedua Khulafaur Rasyidin yang dikenal atas keadilan, ketegasan dalam menegakkan hak, serta keberhasilannya memperluas panji-panji Islam hingga meruntuhkan kekaisaran besar Persia dan Romawi. Kepemimpinan beliau diakui secara luas sebagai era emas penegakan syariat dan keadilan sosial. Namun, di dalam tradisi doktrin dan propaganda kelompok Syiah, khususnya faksi Rafidhah atau Imamiyyah Ithna Asyariyah, sosok Umar bin al-Khattab justru dijadikan sasaran utama caci maki, fitnah, dan propaganda penyesatan.
Kebencian mendalam kelompok Syiah terhadap Umar bin al-Khattab bukanlah sekadar perselisihan pandangan sejarah yang sederhana, melainkan sebuah penyesatan teologis yang terstruktur. Bagi doktrin Syiah, Umar dianggap sebagai sosok penjahat utama yang dituduh merebut hak kekhalifahan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu, merusak syariat Nabi, hingga dituduh melakukan penganiayaan fisik terhadap putri Rasulullah, Fatimah az-Zahra Radhiyallahu 'Anha. Membongkar kebohongan propaganda ini merupakan kewajiban ilmiah dan teologis demi menjaga kehormatan para sahabat Nabi serta membentengi akidah umat Islam dari pengaruh ajaran sesat.
Keutamaan Umar bin al-Khattab dalam Wahyu dan Sunnah
Sebelum meneliti propaganda sesat yang dilancarkan kelompok Syiah, penting bagi umat Islam untuk memahami bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memuliakan sosok Umar bin al-Khattab Radhiyallahu 'Anhu.
Umar adalah sahabat yang pendatagannya ke dalam Islam menjadi titik balik kejayaan umat. Beliau mendapat julukan Al-Faruq (pembeda antara yang hak dan yang batil) langsung dari Rasulullah. Bahkan dalam beberapa kesempatan, pandangan dan pendapat Umar selaras dengan wahyu Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala (muwafaqat Umar).
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan keutamaan dan tingkat keimanan Umar yang amat tinggi melalui berbagai sabdanya, di antaranya:
إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran itu berada pada lidah dan hati Umar.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Dalam riwayat shahih lainnya, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga bersabda tentang bagaimana setan sangat takut kepada Umar:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا إِلاَّ سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan bertemu denganmu sedang berjalan di suatu jalan, melainkan setan itu akan mengambil jalan lain yang bukan jalanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pujian dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ini menjadi bukti tak terbantahkan akan kesucian akidah, keagungan akhlak, dan kelurusan iman Umar bin al-Khattab Radhiyallahu 'Anhu.
Bentuk-Bentuk Propaganda Sesat Syiah terhadap Khalifah Umar
Untuk meruntuhkan kepercayaan umat Islam terhadap warisan hukum dan kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, kelompok Syiah menciptakan berbagai narasi propaganda jahat yang dialamatkan kepada Umar bin al-Khattab:
1. Fitnah Penganiayaan Terhadap Fatimah (Tragedi Rumah Fatimah)
Salah satu propaganda paling keji yang diciptakan oleh ulama Syiah adalah narasi dongeng bahwa Umar bin al-Khattab mendobrak, membakar pintu rumah Fatimah az-Zahra, dan memukulnya hingga menyebabkan keguguran bayi yang dikandungnya (al-Muhsin). Dongeng palsu ini direkayasa untuk memicu emosi kebencian umat terhadap Umar.
Padahal, secara keilmuan dan analisis sejarah yang sahih, riwayat mengenai penyerangan rumah Fatimah adalah riwayat yang batil, gugur dari segi sanad, dan bertentangan secara rasional. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu adalah sosok pahlawan Islam yang sangat pemberani dan gagah perkasa (Asadullah). mustahil bagi sosok Ali untuk berdiam diri membiarkan istrinya dianiaya di depan matanya sendiri. Sebaliknya, hubungan antara Ali dan Umar justru sangat harmonis dan penuh rasa saling menghormati.
2. Tuduhan Merebut Hak Kekhalifahan dan Merusak Syariat
Propaganda Syiah menuduh Umar sebagai arsitek utama perebutan kekuasaan pada peristiwa Saqifah Bani Sa'idah yang merebut hak imamah Ali. Mereka juga menuduh Umar mengubah hukum-hukum Allah, seperti mengharamkan nikah mut'ah dan menambah lafaz azan Subuh.
Padahal, pemilihan Abu Bakar as-Siddiq yang didukung oleh Umar dilakukan atas dasar musyawarah mufakat kaum Muhajirin dan Ansar, serta diridhai oleh Ali bin Abi Thalib sendiri. Terkait nikah mut'ah, pengharaman nikah mut'ah secara konklusif dilakukan langsung oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada Perang Khaibar dan Fathu Makkah, di mana Umar hanya menegaskan kembali larangan tersebut pada masa kepemimpinannya demi menjaga kesucian tatanan keluarga muslim.
3. Pengagungan Terhadap Abu Lu'lu'ah al-Majusi (Pembunuh Umar)
Puncak keji dari propaganda dan kecacatan teologi Syiah adalah pemuliaan mereka terhadap Abu Lu'lu'ah Fairuz al-Majusi, seorang budak penyembah api (Majusi) yang membunuh Umar bin al-Khattab saat beliau sedang memimpin salat Subuh.
Di beberapa wilayah yang dikuasai Syiah, Abu Lu'lu'ah diberi julukan kehormatan seperti Baba Syuja'uddin (Bapak Pemberani Agama) dan makamnya di Kashan, Iran, dijadikan tempat ziarah yang diagungkan. Tradisi merayakan hari kematian Umar (Iid al-Zahra) kerap digelar dengan acara caci maki dan penistaan. Menjadikan pembunuh seorang khalifah muslim yang adil sebagai pahlawan adalah bukti nyata bagaimana ajaran Syiah berdiri di atas fondasi kebencian terhadap Islam.
Keharmonisan Hubungan Antara Ali bin Abi Thalib dan Umar
Propaganda Syiah yang menggambarkan permusuhan abadi antara Umar bin al-Khattab dan Ali bin Abi Thalib secara mutlak dibantahkan oleh fakta sejarah dan riwayat otentik yang mencatat keakraban keluarga Ahlul Bait dengan para sahabat.
Beberapa bukti hubungan harmonis tersebut antara lain:
Pernikahan Putri Ali dengan Umar: Ali bin Abi Thalib menikahkan putri kandungnya hasil pernikahan dengan Fatimah az-Zahra, yaitu Ummu Kultsum binti Ali, kepada Umar bin al-Khattab. Jika Umar adalah musuh dan penganiaya Fatimah sebagaimana klaim Syiah, mustahil Ali menyerahkan putri tercintanya untuk dinikahi oleh Umar.
Pemberian Nama Anak: Ali bin Abi Thalib menamai salah satu putra kandungnya dengan nama "Umar" (Umar bin Ali) sebagai bentuk penghormatan dan rasa cinta kepada Umar bin al-Khattab.
Penasihat Utama: Selama masa kepemimpinan Umar, Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai salah satu penasihat utama khalifah dalam urusan hukum dan pemerintahan. Umar bahkan pernah berkata: “Seandainya tidak ada Ali, niscaya binasalah Umar.”
Pujian Ali terhadap Umar: Ketika Umar wafat ditikam, Ali bin Abi Thalib berdiri di samping jasad Umar dan memujinya seraya berkata:
مَا خلَّفْتُ أَحَدًا أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَلْقَى اللَّهَ بِمِثْلِ عَمَلِهِ مِنْكَ
“Tidak ada seorang pun yang paling aku sukai untuk menemui Allah dengan membawa amal perbuatannya melebihi engkau (Umar).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pujian tulus dari Ali bin Abi Thalib ini meruntuhkan seluruh bangunan propaganda sesat yang dibangun oleh kelompok Syiah selama berabad-abad.
Bahaya Propaganda Syiah terhadap Keutuhan Umat di Indonesia
Penyebaran propaganda sesat yang mendiskreditkan Khalifah Umar bin al-Khattab merupakan ancaman serius bagi akidah dan stabilitas sosial umat Islam di Indonesia. Propaganda ini kerap disusupkan dalam bentuk wacana sejarah, buku bacaan, hingga konten media sosial yang mengatasnamakan "kecintaan kepada Ahlul Bait".
Ketika seorang muslim mulai terpengaruh oleh propaganda ini dan membenci Umar bin al-Khattab, maka secara perlahan kepercayaannya terhadap seluruh hukum Islam akan runtuh. Sebab, Umar adalah salah satu pilar utama yang mentransmisikan Al-Qur'an, hadis, dan hukum-hukum syariat kepada generasi berikutnya. Menghancurkan reputasi perawi dan pemimpin syariat sama saja dengan meruntuhkan agama itu sendiri.
Untuk mengantisipasi dan membentengi umat dari bahaya propaganda sesat ini, langkah-langkah nyata harus ditempuh:
Edukasi Khasanah Siroh Nabawiyah dan Khulafaur Rasyidin: Masjid, pesantren, dan lembaga pendidikan harus secara masif mengajarkan sejarah hidup Umar bin al-Khattab yang shahih untuk menumbuhkan kecintaan serta penghormatan di hati umat.
Membongkar Mitos dan Kebohongan Riwayat Syiah: Para ulama dan intelektual muslim harus aktif memberikan klarifikasi ilmiah terhadap dongeng-dongeng palsu yang diciptakan Syiah, seperti fitnah penyerangan rumah Fatimah.
Penguatan Pemahaman Keutamaan Para Sahabat: Mengajarkan prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa mencintai seluruh sahabat Nabi dan seluruh Ahlul Bait adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.
Mewaspadai dan menolak propaganda sesat kelompok Syiah terhadap Umar bin al-Khattab adalah bagian penting dalam menjaga keagungan Islam dan keutuhan akidah umat. Dengan berpegang teguh pada Al-Qur'an, Sunnah shahihah, serta pemahaman para sahabat, umat Islam di Indonesia akan selalu terlindung dari fitnah sektarian yang merusak.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: