Syiahindonesia.com - Keyakinan akan datangnya seorang pemimpin akhir zaman yang adil, yang dikenal dengan gelar Al-Mahdi, merupakan salah satu akidah yang diakui dalam Islam. Baik Ahlus Sunnah wal Jama'ah maupun berbagai kelompok Islam meyakini kemunculan Al-Mahdi sebagai bagian dari tanda-tanda besar kiamat. Namun, terdapat perbedaan yang sangat fundamental antara konsep Al-Mahdi dalam pandangan Ahlus Sunnah dengan doktrin Al-Mahdi yang diusung oleh kelompok Syiah, khususnya faksi Imamiyyah Ithna Asyariyah (Dua Belas Imam). Di dalam teologi Syiah, doktrin mengenai Imam Mahdi dipenuhi dengan kontradiksi, kepalsuan sejarah, dan ketidakkonsistenan teologis yang justru meruntuhkan bangunan akidah mereka sendiri.
Bagi kelompok Syiah, Al-Mahdi bukanlah sekadar keturunan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang lahir di akhir zaman untuk menegakkan keadilan, melainkan dinisbatkan kepada sosok fiktif bernama Muhammad bin al-Hasan al-Mahdi, imam kesebelas mereka yang diklaim masuk ke dalam gua (sardab) di Samarra sejak lebih dari sebelas abad lalu dan hidup dalam status gaib (ghaibah kubra). Membongkar ketidakkonsistenan doktrin Mahdi ala Syiah merupakan langkah penting untuk menunjukkan kerapuhan teologi sektarian mereka serta membentengi umat dari mitos yang menyesatkan.
Konsep Al-Mahdi dalam Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Sebelum membedah kontradiksi doktrin Syiah, perlu dipahami bahwa Ahlus Sunnah meyakini Al-Mahdi berdasarkan hadis-hadis mutawatir yang bersumber langsung dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Di antaranya adalah sabda Nabi:
ÙŠُوطِئُ Ù„ِÙ„ْÙ…َÙ‡ْدِÙŠِّ - ÙŠَعْÙ†ِÙŠ السُّÙ„ْØ·َانَ - ÙƒَÙ…َا ÙˆُØ·ِئَتْ Ù„ِÙ‚ُرَÙŠْØ´ٍ Ù…َÙ…ْÙ„َÙƒَتُÙ‡ُÙ…ْ
“...Dia akan menegakkan kekuasaan untuk Al-Mahdi, sebagaimana kekuasaan ditegakkan untuk kaum Quraisy.” (HR. Abu Dawud)
Dalam akidah Ahlus Sunnah, Al-Mahdi adalah seorang manusia biasa dari keturunan Ahlul Bait melalui jalur Fatimah az-Zahra dan Husain bin Ali Radhiyallahu 'Anhum. Ia lahir sebagaimana manusia biasa, tumbuh dewasa, memegang tampuk kepemimpinan umat Islam, menegakkan keadilan di muka bumi, memimpin salat bersama Nabi Isa 'Alaihissalam, lalu wafat secara wajar seperti manusia lainnya. Tidak ada unsur klenik, keghaiban abadi, ataupun usia ribuan tahun dalam konsep Mahdi Ahlus Sunnah.
Kontradiksi dan Ketidakkonsistenan Doktrin Mahdi Versi Syiah
Sebaliknya, doktrin Mahdi dalam mazhab Syiah Imamiyyah dibangun di atas fondasi mitologi yang sarat dengan ketidakkonsistenan logis dan teologis. Beberapa bentuk ketidakkonsistenan tersebut mencakup:
1. Fiksi Kelahiran dan Ketiadaan Bukti Sejarah yang Sahih
Menurut narasi teologis Syiah, Imam Mahdi adalah Muhammad bin al-Hasan al-Askari, imam kesebelas yang diklaim lahir pada tahun 255 Hijriah. Namun, kenyataan sejarah membuktikan bahwa Imam Hasan al-Askari wafat tanpa meninggalkan keturunan yang diakui secara luas oleh keluarga besarnya. Ketika Hasan al-Askari wafat, harta warisannya bahkan dibagi-bagikan di antara saudara-saudaranya karena ketiadaan anak kandung.
Untuk menyelamatkan doktrin Imamah yang terancam runtuh akibat terputusnya garis keturunan imam kesebelas, para ulama Syiah masa lalu menciptakan cerita fiktif bahwa Hasan al-Askari memiliki seorang anak misterius yang disembunyikan di dalam ruang bawah tanah (sardab) di Samarra, Irak, sesaat sebelum ayahnya wafat. Klaim tanpa saksi dan bukti sejarah yang otentik ini merupakan bentuk pemaksaan dogma demi melanggengkan kelangsungan sekte.
2. Paradoks Usia Panjang dan Status Gaib (Ghaibah Kubra)
Ketidakkonsistenan paling nyata dalam doktrin ini adalah klaim bahwa Imam Mahdi telah bersembunyi di dalam gua sejak abad ketiga Hijriah dan masih hidup hingga detik ini, yang berarti usianya telah melampaui seribu seratus tahun lebih.
Secara biologis, akal sehat, dan hukum alam (sunnatullah), mustahil bagi seorang manusia biasa untuk hidup selama itu tanpa makanan yang memadai, perlindungan medis, dan proses penuaan normal. Ketika ditanya tentang bagaimana manusia bisa hidup selama ribuan tahun, para teolog Syiah berdalih menggunakan mukjizat (khariqul 'adah). Padahal, mukjizat hanya diberikan oleh Allah kepada para nabi dan rasul sebagai bukti kenabian, bukan kepada orang biasa yang bersembunyi di dalam gua tanpa membawa risalah baru bagi umat manusia.
3. Ketidakbergunaan Imam yang Gaib bagi Umat
Doktrin Imamah dalam teologi Syiah menyatakan bahwa keberadaan seorang imam yang maksum adalah sebuah keharusan mutlak di setiap zaman sebagai penjaga agama, pemberi petunjuk, dan perantara rahmat Allah bagi manusia. Pertanyaannya yang tidak pernah bisa dijawab secara konsisten oleh teolog Syiah adalah: Apa fungsi dan manfaat seorang imam jika ia bersembunyi di dalam gua dan tidak dapat diakses oleh siapa pun selama lebih dari seribu tahun?
Jika Imam Mahdi bersembunyi karena takut dibunuh oleh musuh, lalu bagaimana ia bisa memimpin umat, menyelesaikan perselisihan hukum, menegakkan keadilan, dan membimbing manusia? Sebuah kepemimpinan yang tidak hadir, tidak bersuara, dan tidak memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan umat adalah kepemimpinan yang sia-sia dan bertentangan dengan tujuan diutusnya para pemimpin di muka bumi.
4. Klaim Pertemuan Fiktif dan Eksploitasi Ekonomi
Karena imam mereka gaib dan tidak dapat ditemui, muncul celah besar yang dieksploitasi oleh para tokoh agama (mullah atau marja') Syiah dari masa ke masa. Muncul klaim-klaim dari individu tertentu yang mengaku sebagai "pintu" (bab) atau perwakilan khusus yang bisa berkomunikasi langsung dengan Imam Mahdi.
Meskipun jalur perwakilan khusus (wakil) akhirnya dinyatakan tertutup dengan wafatnya perwakilan keempat, praktik eksploitasi finansial seperti penarikan pajak agama (khums) atas nama Imam Mahdi terus berjalan hingga hari ini. Uang umat dikumpulkan dengan dalih akan diserahkan kepada Imam Mahdi yang gaib, padahal dana tersebut dikelola secara bebas oleh para petinggi keagamaan mereka.
Dampak Negatif Doktrin Mahdi Syiah terhadap Psikologi Umat
Ketidakkonsistenan doktrin Mahdi ini membawa dampak psikologis dan sosial yang buruk bagi para pengikutnya, di antaranya:
Sikap Fatalisme dan Pasif: Menunggu kedatangan imam gaib yang tak kunjung muncul membuat sebagian pengikutnya terjebak dalam sikap pasif, menunggu juru selamat datang secara magis tanpa mau melakukan reformasi nyata atau perbaikan peradaban secara mandiri.
Ketergantungan Mutlak pada Otoritas Klerus: Absennya sang imam dimanfaatkan oleh para elit ulama untuk memegang kekuasaan mutlak atas nama imam gaib, sehingga tidak ada ruang bagi umat untuk mengkritisi kebijakan keagamaan mereka.
Penyimpangan Akidah Tauhid: Keyakinan bahwa Imam Mahdi mengetahui isi hati manusia, memegang kendali alam semesta, dan mendengarkan doa-doa hamba secara gaib adalah bentuk perbuatan syirik yang mencederai kemurnian tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Langkah Membentengi Masyarakat dari Mitos Teologis Syiah
Untuk mencegah penyebaran pemahaman sesat dan kontradiktif ini di Indonesia, langkah-langkah pencegahan harus terus diperkuat:
Edukasi Konsep Kiamat dan Al-Mahdi yang Sahih: Mengajarkan kepada masyarakat tentang tanda-tanda akhir zaman berdasarkan hadis-hadis sahih dari Kutubus Sittah, menegaskan bahwa Al-Mahdi adalah manusia biasa yang lahir menjelang kiamat, bukan sosok fiktif yang bersembunyi selama ribuan tahun.
Kritisisme Terhadap Dogma Sektarian: Mendorong generasi muda muslim untuk berpikir kritis, menggunakan akal sehat, serta menolak doktrin-doktrin keagamaan yang tidak memiliki sandaran sejarah dan dalil yang valid.
Penguatan Pemeliharaan Akidah Ahlus Sunnah: Menjaga kestabilan pemahaman keagamaan masyarakat agar senantiasa berpedoman pada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat Nabi.
Menyingkap ketidakkonsistenan doktrin Mahdi dalam ajaran Syiah adalah bagian dari dakwah penyelamatan akidah umat. Dengan memahami bahwa konsep tersebut sarat dengan kebohongan sejarah dan paradoks teologis, umat Islam di Indonesia akan senantiasa waspada dan teguh di atas jalan petunjuk yang lurus.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: