Syiahindonesia.com - Doktrin Imamah merupakan pilar keagamaan yang paling mendasar dalam teologi Syiah, khususnya sekte Imamiyah Itsna 'Asyariyah. Dalam pandangan Syiah, kepemimpinan spiritual dan politik dua belas imam ditempatkan sebagai bagian dari rukun iman yang menentukan sah atau tidaknya keislaman seseorang. Untuk menopang doktrin yang sangat ekstrem ini, para penganjur Syiah berupaya keras mengumpulkan argumen dari ayat-ayat Al-Qur'an dan riwayat hadis. Namun, ketika argumen-argumen tersebut dibedah secara kritis menggunakan kaidah keilmuan Islam yang baku, terbukti bahwa doktrin Imamah berdiri di atas penyelelewengan dalil (tahrif ad-dalalah), pemotongan konteks teks (batar an-nash), serta pemaksaan tafsir esoteris yang jauh dari makna kebahasaan Arab yang lurus.
Penyebaran paham Syiah di Indonesia kerap memanfaatkan ketidakfahaman masyarakat awam terhadap kaidah ilmu tafsir dan mushthalah al-hadits. Dengan mengutip potongan ayat Al-Qur'an atau riwayat-riwayat tertentu dari kitab Ahlus Sunnah wal Jama'ah, mereka memberikan penafsiran sepihak untuk menciptakan ilusi seolah-olah kepemimpinan para imam Syiah diwasiatkan secara langsung oleh Allah dan Rasul-Nya.
Penyelewengan Makna Ayat-Ayat Al-Qur'an
Dalam ajaran Islam, perkara yang menjadi rukun iman utama seperti Tauhid, Kenabian, Hari Akhir, Shalat, dan Zakat selalu dijelaskan secara tegas, eksplisit (sharih), dan berulang-ulang dalam Al-Qur'an. Anehnya, perkara Imamah yang diklaim Syiah sebagai pilar agama terpenting justru tidak pernah disebutkan secara tegas satu kali pun di dalam Al-Qur'an. Tidak ada satu pun ayat yang menyebutkan nama Ali bin Abi Thalib atau imam-imam setelahnya sebagai pemimpin wajib yang diutus secara divine (ketetapan ilahi).
Untuk menutupi kekosongan dalil eksplisit ini, ulama-ulama Syiah melakukan pemelintiran makna (ta'wil bathil) atas ayat-ayat Al-Qur'an yang sebenarnya berbicara tentang topik lain.
1. Penyelewengan Ayat Ulil Amri (Surah An-Nisa': 59)
Syiah sering menggunakan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah An-Nisa' ayat 59 sebagai dalil kepemimpinan mutlak para imam mereka:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِك خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
Bentuk Penyelewengan: Syiah mengklaim bahwa istilah Ulil Amri dalam ayat ini secara khusus merujuk kepada dua belas imam maksum mereka, sehingga ketaatan kepada mereka bersifat mutlak selevel dengan ketaatan kepada Nabi.
Bantahan Ilmiah: Penafsiran ini bertentangan dengan struktur kalimat dan kelanjutan ayat itu sendiri.
Pertama, Allah mengulang kata perintah taat (Athi'u) pada Allah dan Rasul, namun tidak mengulangnya pada kata Ulil Amri. Ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Ulil Amri (para penguasa dan ulama) bersifat bersyarat, yaitu selama tidak memerintahkan maksiat.
Kedua, bagian akhir ayat menyatakan: "Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul." Seandainya Ulil Amri itu adalah imam maksum yang selalu benar dan tidak mungkin berselisih sebagaimana klaim Syiah, tentu Allah akan memerintahkan untuk mengembalikan perselisihan tersebut kepada sang Imam Maksum. Perintah mengembalikan perselisihan hanya kepada Al-Qur'an dan Sunnah menegaskan bahwa Ulil Amri adalah manusia biasa yang tidak maksum.
2. Penyelewengan Ayat Wilayah (Surah Al-Ma'idah: 55)
Ayat lain yang kerap dipelintir adalah Surah Al-Ma'idah ayat 55:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)."
Bentuk Penyelewengan: Syiah mengklaim ayat ini turun khusus mengenai Ali bin Abi Thalib ketika beliau memberikan cincinnya kepada peminta-minta saat sedang ruku' dalam shalat. Berdasarkan riwayat ini, mereka mengklaim kata Wali diartikan sebagai pemimpin politik mutlak/khalifah.
Bantahan Ilmiah:
Secara Bahasa: Kata Wali dalam bahasa Arab memiliki banyak arti. Dalam konteks ayat ini, kata Wali berarti kekasih, penolong, dan pelindung (Al-Muwalat yang merupakan lawan kata dari Al-Mu'adat/Permusuhan), bukan penguasa politik.
Secara Konteks Ayat: Ayat ini turun dalam konteks melarang kaum Muslimin menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia/penolong (sebagaimana dijelaskan pada ayat 51 sebelumnya). Maka ayat 55 menegaskan bahwa penolong sejati orang beriman adalah Allah, Rasul-Nya, dan sesama orang beriman.
Secara Kualitas Riwayat: Riwayat yang menceritakan Ali memberikan cincin saat ruku' dinilai oleh para pakar hadis seperti Imam Ibnu Taimiyah dan Al-Hafizh Ibn Katsir sebagai riwayat yang lemah (dha'if) dan palsu (maudhu'), yang sengaja diciptakan untuk mendukung doktrin sektarian.
Penyelewengan Teks Hadis Nabi
Selain memelintir ayat Al-Qur'an, Syiah mendistorsi riwayat-riwayat hadis shahih dengan cara mengubah makna kata atau memotong konteks peristiwa (Asbabul Wurud).
1. Distorsi Hadis Ghadir Khum (Pengubahan Makna Kata Mawla)
Salah satu sandaran utama propaganda Syiah adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam peristiwa Ghadir Khum:
مَنْ كُنْتُ مَوْلاَهُ فَعَلِيٌّ مَوْلاَهُ
Bentuk Penyelewengan: Syiah menerjemahkan kata Mawla secara sepihak menjadi "Pemimpin Mutlak" atau "Khalifah Pengganti Nabi".
Bantahan Ilmiah: Linguistik bahasa Arab menetapkan bahwa kata Mawla memuat puluhan arti seperti kekasih, penolong, paman, dan sahabat. Dalam peristiwa Ghadir Khum, sebab dituturkannya hadis (asbabul wurud) adalah untuk meluruskan ketegangan antara beberapa prajurit dengan Ali sekembalinya dari ekspedisi Yaman. Nabi hendak menegaskan agar seluruh umat mencintai dan membela Ali, bukan memusuhinya. Jika Nabi bermaksud menetapkan suksesi kepemimpinan politik, beliau akan menggunakan kata yang lugas dan tidak menimbulkan ambiguitas seperti Amir, Khalifah, atau Hakim.
2. Distorsi Hadis Manzilah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib saat Perang Tabuk:
أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلاَّ أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي
"Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?"
Bentuk Penyelewengan: Syiah menjadikan hadis ini sebagai bukti bahwa Ali adalah penerima wasiat kekhalifahan mutlak setelah Nabi wafat sebagaimana Harun menggantikan Musa.
Bantahan Ilmiah: Konteks dituturkannya hadis (Asbabul Wurud) ini adalah ketika Nabi meninggalkan Ali di Madinah untuk menjaga wanita, anak-anak, dan orang tua selama ekspedisi Perang Tabuk. Ketika orang-orang munafik mengejek Ali, Nabi menenangkan Ali dengan mengibaratkan tugas penjagaan sementara itu seperti Nabi Harun yang ditugaskan Nabi Musa menjaga kaumnya saat Nabi Musa pergi ke Gunung Sinai (Tursina).
Harun 'alaihissalam sendiri wafat lebih dahulu sebelum Nabi Musa, sehingga Harun tidak pernah menjadi khalifah pengganti setelah wafatnya Musa. Menggunakan hadis ini untuk membuktikan suksesi kepemimpinan setelah wafatnya Nabi Muhammad adalah bentuk pemaksaan logika yang sangat rapuh.
Dampak Penyelewengan Dalil terhadap Akidah Umat
Kebiasaan kelompok Syiah dalam memelintir dalil-dalil Imamah membawa konsekuensi teologis yang sangat membahayakan:
Membatalkan Kesempurnaan Al-Qur'an: Menuduh bahwa pilar agama terbesar (Imamah) hanya tersirat dalam simbol-simbol tersembunyi sama saja dengan menuduh Al-Qur'an gagal menjelaskan pokok-pokok agama secara jernih.
Mengkafirkan Generasi Sahabat: Penyelewengan dalil Imamah dipaksakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh sahabat Nabi yang membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman telah murtad dan mengkhianati Al-Qur'an.
Merusak Metodologi Penafsiran Ilmiah: Mengabaikan kaidah bahasa Arab, Siyāq (kontekstual teks), dan Asbabun Nuzul merusak tatanan ilmu tafsir yang telah dirumuskan oleh para ulama murni.
Langkah Strategis Mengantisipasi Propaganda Syiah di Indonesia
Untuk membentengi kaum Muslimin dan generasi muda di Indonesia dari penyelewengan dalil Imamah oleh penganjur Syiah, beberapa ikhtiar konkrit perlu dimaksimalkan:
Penguatan Kaidah Bahasa Arab dan Ushul Fiqh: Mengedukasi para santri, mahasiswa, dan masyarakat umum mengenai pentingnya memahami Al-Qur'an sesuai tata bahasa Arab yang lurus dan kaidah penafsiran para sahabat.
Membongkar Pemelintiran Teks secara Ilmiah: Menghadirkan majelis-majelis ilmu dan buku-buku ilmiah yang secara khusus membedah dan menjawab syubhat-syubhat pelintiran dalil Syiah terhadap ayat-ayat Al-Qur'an.
Penyebaran Tafsir-Tafsir Standar Ahlus Sunnah: Menggalakkan pembacaan kitab-kitab tafsir utama seperti Tafsir Ibn Katsir, Tafsir At-Thabari, dan Tafsir Al-Qurtubi agar masyarakat terbiasa dengan penafsiran yang memiliki sanad keilmuan mutawatir.
Peran Aktif Media Digital Islami: Menyediakan konten-konten edukatif berupa video pendek, infografis, dan artikel ilmiah di media sosial untuk meluruskan pemahaman ayat dan hadis yang kerap disalahgunakan oleh propaganda sektarian.
Penyelewengan dalil tentang Imamah oleh kelompok Syiah adalah rekayasa teologi politik yang merusak kemurnian ajaran Islam. Dengan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah yang dipahami secara lurus oleh para Sahabat dan Ulama Salafus Shalih, umat Islam di Indonesia akan senantiasa selamat dari kebingungan akidah dan kesesatan paham.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: