Breaking News
Loading...

Syiah dan Konsep Raj'ah yang Bertentangan dengan Islam


Syiahindonesia.com -
Dalam teologi Syiah Raafidhah / Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), doktrin Raj'ah (kebangkitan kembali sebagian manusia sebelum hari kiamat) menempati posisi yang sangat krusial. Konsep ini bukan sekadar wacana eskatologi biasa, melainkan salah satu pilar keyakinan yang wajib diimani oleh pengikutnya. Syiah meyakini bahwa menjelang hari kiamat, bersamaan dengan munculnya Imam Mahdi versi mereka (Imam ke-12), sejumlah orang yang telah meninggal dunia akan dihidupkan kembali ke dunia.

Namun, jika diteliti secara mendalam berdasarkan metodologi Al-Qur'an dan Sunnah, doktrin Raj'ah mengandung penyimpangan akidah yang sangat mendasar. Konsep ini secara terang-terangan bertentangan dengan hukum sunnatullah mengenai alam barzakh, hari kebangkitan (Yaumul Ba'ats), serta keadilan hukum Allah SWT.

Berikut adalah pendedahan komprehensif mengenai hakikat konsep Raj'ah, bentuk penyimpangannya, serta bantahan ilmiah berlandaskan dalil-dalil Islam yang otentik:

1. Hakikat Doktrin Raj'ah dalam Teologi Syiah

Secara bahasa, Raj'ah berarti "kembali". Dalam istilah teologi Syiah, Raj'ah adalah keyakinan bahwa Allah SWT akan menghidupkan kembali sekelompok orang yang telah mati—baik dari kalangan muklis sejati (para Imam dan pengikut Syiah) maupun kalangan penjahat paling jahat (dalam pandangan Syiah: para Sahabat Nabi dan musuh-musuh Imam)—sebelum datangnya Hari Kiamat.

Skenario Raj'ah dalam Literatur Syiah: Dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah seperti Bihar al-Anwar karya Al-Majlisi, dijelaskan skenario yang sangat ekstrem terkait Raj'ah:

  • Pembalasan Dendam: Syiah meyakini bahwa saat Imam Mahdi mereka keluar dari goa (Sardab), beliau akan menghidupkan kembali Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, serta Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anhum.

  • Eksekusi dan Pengadilan: Para Sahabat utama tersebut diklaim akan diadili, disiksa, disalib, dan dibunuh berulang kali oleh Imam Mahdi sebagai bentuk "pembalasan dendam" atas hak-hak Ahlul Bait yang dituduh telah dirampas.

  • Kebangkitan Para Imam: Setelah itu, para Imam Syiah satu per satu akan dihidupkan kembali untuk memimpin dunia sebelum akhirnya kiamat yang sebenarnya terjadi.

2. Bertentangan Secara Tegas dengan Ayat-Ayat Al-Qur'an

Doktrin Raj'ah secara langsung mendustakan dan menyelisihi firman Allah SWT dalam Al-Qur'an yang menegaskan bahwa orang yang sudah meninggal dunia tidak akan pernah bisa kembali lagi ke alam dunia.

a. Kepastian Dinding Alam Barzakh

Allah SWT berfirman mengenai penyesalan orang mati yang ingin kembali ke dunia:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

"Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata: 'Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (Barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun: 99–100).

Ayat ini secara eksplisit menegaskan adanya Barzakh (pembatas) yang menghalangi siapapun untuk kembali ke dunia hingga Yaumul Ba'ats (Hari Kebangkitan).

b. Ketetapan bahwa Orang Mati Tidak Kembali

Allah SWT juga berfirman:

وَحَرَامٌ عَلَىٰ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا أَنَّهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

"Dan mustahil bagi (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami)." (QS. Al-Anbiya': 95).

Para mufassir menegaskan bahwa makna ayat ini adalah مستحيل (haram/mustahil) bagi mereka yang telah dibinasakan atau dimatikan untuk kembali lagi ke alam dunia sebelum kiamat.

3. Merusak Tatanan Eskatologi Islam (Hari Pembalasan)

Dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, panggung pembalasan amal (Hisab), pengadilan hakiki, serta pemberian ganjaran surga atau neraka secara mutlak hanya terjadi pada Hari Kiamat di Padang Mahsyar, setelah terompet sangkakala ditiup dan seluruh manusia dibangkitkan bersama-sama.

Bentuk Penyimpangan Konsep Raj'ah:

  1. Mengabaikan Hari Kiamat: Mengadakan pengadilan, penyiksaan, dan hukuman mati di dunia sebelum Kiamat oleh sosok Imam Mahdi menjadikan Hari Kiamat dan Mahkamah Ilahi seolah-olah tidak lagi diperlukan.

  2. Mencuri Hak Prerogatif Allah: Menyerahkan otoritas menghidupkan orang mati, mengadili dosa-dosa manusia, dan menjatuhkan vonis siksa kepada seorang Imam Mahdi adalah bentuk perbuatan ghuluw (berlebihan) yang menyekutukan hak khusus Allah SWT (Rububiyyah dan Uluhiyyah).

4. Motif Kebencian dan Dendam Sektarian

Jika diteliti akar sejarahnya, doktrin Raj'ah tidak bersumber dari ajaran Nabi Muhammad SAW maupun rekam jejak para Ahlul Bait yang murni. Konsep ini pertama kali dihembuskan oleh Abdullah bin Saba' (seorang Yahudi asal Yaman yang berpura-pura masuk Islam untuk merusak ajaran dari dalam).

Abdullah bin Saba' menggunakan analogi keliru dengan mengatakan: "Sungguh aneh orang yang percaya Isa akan kembali ke dunia, tetapi mendustakan bahwa Muhammad atau Ali akan kembali ke dunia."

Motif utama dari pengusung doktrin ini adalah dendam sektarian. Mereka menciptakan fantasi Raj'ah sebagai sarana kepuasan emosional untuk melihat figur-figur yang mereka benci—khususnya para Sahabat Nabi utama—dihukum dan disiksa di dunia. Ini adalah cerminan teologi yang dibangun di atas fondasi kedengkian, bukan atas dasar kasih sayang dan petunjuk Ilahi.

Kesimpulan

Konsep Raj'ah dalam ajaran Syiah merupakan doktrin bathil yang bertentangan secara frontal dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan akidah Islam yang lurus. Menyakini bahwa manusia yang telah wafat dapat dihidupkan kembali ke dunia untuk diadili oleh manusia lain sebelum datangnya Hari Kiamat adalah bentuk penyimpangan akidah yang merusak tatanan iman kepada hari akhir.

Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, keyakinan terhadap alam ghaib harus sepenuhnya tunduk pada wahyu Al-Qur'an dan Hadits yang sahih. Membentengi diri dan keluarga dari pemahaman-pemahaman sektarian seperti doktrin Raj'ah adalah langkah penting dalam memelihara kemurnian iman hingga akhir hayat.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: