Syiahindonesia.com - Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah salah satu figur paling agung dalam sejarah Islam. Beliau merupakan sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW, pemeluk Islam dari kalangan anak-anak yang pertama, serta Khalifah Ar-Rasyid yang keempat. Keutamaan, keberanian, kedalaman ilmu, dan ketakwaan beliau diakui secara mutlak oleh seluruh kaum Muslimin, khususnya dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Aswaja). Namun, dalam panggung sejarah dan literatur kelompok Syiah, sosok Ali bin Abi Thalib justru dijadikan alat doktrinisasi yang dibalut dengan berbagai fitnah, pengangkatan derajat yang melampaui batas (ghuluw), serta pemutarbalikan fakta historis.
Sering kali publik berasumsi bahwa kelompok Syiah adalah pihak yang paling mencintai dan memuliakan Ali bin Abi Thalib. Padahal, jika dikaji secara kritis dan mendalam berlandaskan sumber-sumber otentik, doktrin-doktrin yang dibangun oleh kelompok Syiah justru merupakan bentuk penistaan dan fitnah terselubung terhadap karakter serta integritas pribadi Ali bin Abi Thalib. Membongkar fitnah dan klaim palsu ini menjadi ikhtiar penting untuk menyelamatkan akidah umat Islam di Indonesia dari propaganda penyimpangan ajaran Syiah.
Kedudukan Ali bin Abi Thalib dalam Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Ahlus Sunnah wal Jama'ah meletakkan Ali bin Abi Thalib pada kedudukan yang sangat mulia, setara dengan penghormatan kepada para Khalifah pendahulu beliau (Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhum). Rasulullah SAW telah banyak menegaskan keutamaan beliau dalam berbagai hadits shahih, salah satunya bersabda:
أَنْتَ مِنِّي وَأَنَا مِنْكَ
"Engkau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu." (HR. Bukhari)
Cinta kepada Ali bin Abi Thalib dan seluruh Ahlul Bait adalah bagian integral dari keimanan seorang Muslim. Namun, cinta menurut ajaran Islam yang murni adalah cinta yang proporsional, tidak dibumbui oleh prasangka kebencian kepada para Sahabat lainnya, serta tidak menaikkan derajat manusia hingga menyamai atau melebihi sifat-sifat ketuhanan dan kenabian.
Bentuk-Bentuk Fitnah dan Pengangkatan Berlebihan Syiah Terhadap Ali bin Abi Thalib
Propaganda Syiah terhadap sosok Ali bin Abi Thalib tidak hanya merusak prinsip tauhid, tetapi juga mencoreng kehormatan dan keberanian beliau sebagai seorang ksatria Islam. Bentuk-bentuk fitnah tersebut antara lain:
1. Fitnah Doktrin Ghuluw (Penyematan Sifat Ketuhanan)
Bentuk fitnah paling ekstrem yang dilakukan oleh sekte-sekte Syiah adalah mengagungkan Ali bin Abi Thalib secara berlebihan hingga menyematkan sifat-sifat Ilahiyah kepada beliau. Dalam kitab-kitab rujukan Syiah, Ali dituduh mengetahui seluruh perkara gaib, memegang kendali alam semesta (Wilayah Takwiniyah), serta menentukan surga dan neraka bagi manusia.
Padahal, Al-Qur'an secara tegas membantah bahwa ada makhluk yang memiliki pengetahuan gaib mutlak selain Allah SWT:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.'" (QS. An-Naml: 65)
Ketika masih hidup, Ali bin Abi Thalib sendiri sangat memerangi kelompok-kelompok radikal yang mengagungkan beliau secara berlebihan (Saba'iyah). Beliau secara tegas melarang perlakuan ghuluw dan bahkan menjatuhkan hukuman keras kepada orang-orang yang menganggap beliau sebagai tuhan atau memiliki sifat Ilahiyah.
2. Mencederai Keberanian dan Kehormatan Ali melalui Doktrin Taqiyyah
Salah satu fitnah terselubung Syiah yang sangat merendahkan martabat Ali bin Abi Thalib adalah penggambaran beliau sebagai sosok yang lemah, penakut, dan terpaksa ber-taqiyyah (purapura) di hadapan Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu 'anhum.
Dalam narasi fiktif yang ditulis dalam kitab-kitab Syiah, Ali dituduh membaiat Abu Bakar dan Umar hanya karena takut dan terpaksa, serta membiarkan istrinya, Fatimah radhiyallahu 'anha, dizalimi tanpa memberikan perlawanan. Penggambaran ini merupakan penghinaan luar biasa terhadap karakter Ali bin Abi Thalib yang terkenal sebagai Asadullah (Singa Allah) yang sangat pemberani. Mana mungkin seorang ksatria utama Islam yang gagah berani di medan perang justru bersikap penakut, munafik, dan menyembunyikan kebenaran selama puluhan tahun?
Fakta sejarah yang otentik mencatat bahwa Ali bin Abi Thalib membaiat Khulafaur Rasyidin dengan penuh kerelaan, menjadi penasihat utama mereka, serta menjalin ikatan kekeluargaan yang sangat erat. Sebagai bukti keharmonisan tersebut, Ali dinamai anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman—sebuah fakta sejarah yang selalu berusaha disembunyikan oleh kelompok Syiah.
3. Pemutaran Makna Wasiat Ghadir Khumm
Syiah kerap menggunakan peristiwa Ghadir Khumm sebagai dalil fitnah bahwa Rasulullah SAW telah menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti beliau secara eksplisit, dan menuduh mayoritas Sahabat telah mengkhianati wasiat Nabi tersebut.
Sabda Nabi SAW dalam peristiwa Ghadir Khumm:
مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ
"Barangsiapa yang menjadikanku sebagai kekasihnya, maka Ali adalah kekasihnya." (HR. Tirmidzi)
Dalam konteks bahasa Arab dan asbabul wurud (sebab munculnya hadits), kata Mawla (مَوْلَى) berarti kekasih, penolong, dan sahabat dekat, bukan penguasa politik (al-hakim atau al-amir). Rasulullah SAW menyampaikan hal ini untuk meluruskan kesalahpahaman beberapa sahabat terhadap Ali sekembalinya dari Yaman, bukan untuk pengangkatan khalifah. Mengartikan kata Mawla sebagai kekuasaan politik dan mengkafirkan para Sahabat lain karena tidak mengangkat Ali adalah fitnah teologis yang merusak sejarah Islam.
Dampak Bahaya Propaganda Fitnah Syiah
Dampak dari penafsiran picik dan pemalsuan sejarah yang dilakukan kelompok Syiah sangat destruktif bagi keutuhan umat Islam:
Pencemaran Nama Baik Ahlul Bait: Karakter Ali bin Abi Thalib yang mulia, jujur, dan pemberani dikaburkan menjadi sosok yang terbiasa bersikap pura-pura (taqiyyah) dan tidak konsisten.
Pengrusakan Tatanan Sejarah Islam: Membenturkan Ali dengan para Sahabat lainnya menciptakan narasi seolah-olah generasi terbaik Islam dipenuhi oleh intrik kekuasaan dan pengkhianatan.
Perpecahan Akidah Umat: Mengangkat Ali hingga derajat Ilahiyah atau kenabian merusak fondasi tauhid dan memicu pemahaman ekstremis yang menyesatkan masyarakat.
Sikap Berimbang dan Teguh Umat Islam di Indonesia
Di Indonesia, mengedukasi masyarakat mengenai kebenaran sejarah kehidupan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu merupakan benteng utama dalam mengantisipasi penetrasi ajaran Syiah. Umat Islam harus diajarkan untuk mencintai Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Bait dengan cara yang benar: yaitu cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan diamalkan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Ali bin Abi Thalib sendiri pernah berwasiat dan memperingatkan tentang dua kelompok yang akan binasa karena sikap ekstrem terhadap dirinya:
يَهْلِكُ فِيَّ رَجُلَانِ: مُحِبٌّ مُفْرِطٌ يَقْرَظُنِي بِمَا لَيْسَ فِيَّ، وَمُبْغِضٌ يَحْمِلُهُ شَنَآنِي عَلَى أَنْ يَبْهَتَنِي
"Akan binasa bersamaku dua kelompok manusia: Orang yang mencintaiku secara berlebihan hingga memujiku dengan apa yang tidak ada pada diriku, dan orang yang membenciku hingga kebenciannya mendorongnya untuk memfitnahku." (Diriwayatkan oleh Ahmad)
Pernyataan Ali bin Abi Thalib ini menjadi tamparan keras bagi kelompok Syiah yang mengagungkan beliau secara ghuluw. Dengan memegang teguh akidah Aswaja, menghormati seluruh Sahabat Nabi tanpa membeda-bedakan, serta kritis terhadap literatur yang sarat fitnah, umat Islam di Indonesia akan senantiasa terjaga dari penyesatan dan pemutarbalikan sejarah yang diusung oleh sekte Syiah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: