Breaking News
Loading...

Syiah dan Upaya Menanamkan Kebencian terhadap Ahlus Sunnah

Syiahindonesia.com - Salah satu ciri paling mencolok dari ajaran Syiah yang perlu diwaspadai oleh umat Islam Indonesia adalah upayanya yang sistematis dan berkelanjutan untuk menanamkan kebencian terhadap Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Kebencian ini bukanlah sekadar perbedaan pendapat dalam masalah fikih atau tafsir, melainkan sebuah proyek ideologis yang telah berlangsung selama berabad-abad, dimulai sejak masa awal perpecahan umat Islam hingga hari ini. Di Indonesia, upaya ini semakin masif dengan memanfaatkan media sosial, buku-buku terjemahan, ceramah-ceramah di masjid dan majelis, serta forum-forum diskusi online yang menyasar generasi muda yang belum memiliki pemahaman mendalam tentang sejarah Islam. Tujuan utamanya jelas: menciptakan generasi Muslim yang membenci ulama, menghina sahabat Nabi, dan meragukan otoritas keilmuan Ahlus Sunnah. Artikel ini akan membedah secara mendalam bagaimana strategi Syiah dalam menanamkan kebencian terhadap Ahlus Sunnah, dalil-dalil yang mereka gunakan, dampaknya bagi ukhuwah Islamiyah, serta langkah-langkah konkret untuk mengantisipasinya.

Untuk memahami akar kebencian ini, kita harus kembali ke masa awal perpecahan umat Islam. Syiah lahir dari kelompok yang mengklaim bahwa kepemimpinan umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW harus berada di tangan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Ketika klaim ini tidak terwujud dalam realitas politik, sebagian kelompok mulai mengembangkan doktrin bahwa para sahabat yang tidak mendukung Ali telah melakukan dosa besar, bahkan murtad. Doktrin ini kemudian berkembang menjadi ajaran tabarra, yaitu berlepas diri dari para musuh Ahlul Bait, yang dalam praktiknya mencakup mencaci dan melaknat para sahabat Nabi, termasuk Abu Bakar, Umar, Utsman, dan seluruh khalifah Umayyah. Dalam kitab-kitab Syiah yang dianggap otoritatif, seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini dan Bihar Al-Anwar karya Al-Majlisi, terdapat banyak riwayat yang mengecam para sahabat dan mengajarkan kebencian terhadap mereka. Riwayat-riwayat ini kemudian disebarkan ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, dengan berbagai cara.

Salah satu strategi utama Syiah dalam menanamkan kebencian terhadap Ahlus Sunnah adalah dengan mendistorsi sejarah Islam. Mereka menggambarkan para sahabat Nabi sebagai orang-orang yang rakus kekuasaan, tidak adil, dan bahkan kafir. Misalnya, mereka menuduh Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai perampas kekhalifahan, Umar bin Khattab sebagai pemimpin yang zalim, dan Utsman bin Affan sebagai orang yang nepotisme. Padahal, Allah SWT telah memuji para sahabat dalam Al-Qur'an:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Was-sābiqūnal-awwalūna minal-muhājirīna wal-anshāri wal-ladzīnat-taba'ūhum bi'ihsānin radhiyallāhu 'anhum wa radhū 'anhu wa a'adda lahum jannātin tajrī tahtahal-anhāru khālidīna fīhā abadā, dzālikal-fauzul-'azhīm.

"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa Allah ridha kepada para sahabat. Menanamkan kebencian terhadap mereka berarti menentang ridha Allah. Namun, Syiah tetap saja menyebarkan narasi-narasi kebencian ini dengan dalih bahwa mereka hanya mengikuti Ahlul Bait. Padahal, Ahlul Bait sendiri, seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan, dan Husain, tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap para sahabat. Ali bin Abi Thalib bahkan menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Umar bin Khattab, sebuah fakta sejarah yang tidak dapat dibantah oleh Syiah.

Selain mendistorsi sejarah, Syiah juga menggunakan taktik takfir (mengkafirkan) terhadap Ahlus Sunnah. Mereka sering menyebut Ahlus Sunnah sebagai Nawashib (orang-orang yang membenci Ahlul Bait) atau Utsmaniyyah (pengikut Utsman) yang dianggap kafir. Tuduhan-tuduhan ini tentu saja tidak memiliki dasar yang kuat. Ahlus Sunnah adalah kelompok yang paling mencintai Ahlul Bait. Mereka mencintai Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain, serta seluruh keturunan Nabi yang saleh. Imam Syafi'i, salah satu imam mazhab Ahlus Sunnah, bahkan menulis syair pujian untuk Ahlul Bait. Jadi, tuduhan bahwa Ahlus Sunnah membenci Ahlul Bait adalah fitnah yang sangat keji. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ أَحَبَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَبْغَضَهُمَا فَقَدْ أَبْغَضَنِي

Man ahabbal-Hasana wal-Husaina faqad ahabbanī, wa man abghadhahumā faqad abghadhanī.

"Barangsiapa mencintai Hasan dan Husain, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa membenci keduanya, maka ia telah membenciku." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Ahlul Bait adalah bagian dari iman. Ahlus Sunnah mencintai mereka, tetapi tidak berlebihan hingga mengangkat mereka ke derajat ketuhanan sebagaimana yang dilakukan sebagian kelompok Syiah. Kebencian yang ditanamkan Syiah terhadap Ahlus Sunnah sebenarnya adalah proyeksi dari kebencian mereka sendiri terhadap para sahabat Nabi.

Di Indonesia, upaya menanamkan kebencian terhadap Ahlus Sunnah dilakukan dengan berbagai cara yang sangat halus dan sistematis. Pertama, melalui penerjemahan dan penyebaran buku-buku Syiah. Banyak buku Syiah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dijual bebas di toko-toko buku atau disebarkan secara gratis di masjid-masjid dan kampus-kampus. Buku-buku ini seringkali menggunakan judul yang menarik dan tidak terkesan Syiah, sehingga pembaca awam tidak menyadari bahwa isinya mengandung ajaran sesat. Kedua, melalui media sosial. Akun-akun Syiah di Facebook, Instagram, Twitter, dan TikTok gencar menyebarkan konten-konten yang menghasut kebencian terhadap ulama Ahlus Sunnah, dengan cara memotong ceramah, membuat meme, dan menyebarkan berita bohong. Ketiga, melalui majelis-majelis dan komunitas. Mereka membentuk komunitas-komunitas kecil yang secara rutin mengadakan pertemuan untuk mempelajari ajaran Syiah dan menanamkan kebencian terhadap Ahlus Sunnah. Keempat, melalui pendidikan. Beberapa lembaga pendidikan yang didirikan atau didanai oleh kelompok Syiah menyusupkan ajaran mereka ke dalam kurikulum, sehingga generasi muda tumbuh dengan pemahaman yang menyimpang.

Dampak dari upaya ini sangat berbahaya bagi ukhuwah Islamiyah. Ketika umat Islam saling membenci, maka kekuatan mereka akan terpecah belah. Mereka akan sibuk bertengkar sesama Muslim, sementara musuh-musuh Islam dari luar terus menguatkan posisi mereka. Allah SWT telah memperingatkan kita dalam Al-Qur'an:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Wa'tashimū bihablillāhi jamī'aw wa lā tafarraqū, wadzkurū ni'matallāhi 'alaikum idz kuntum a'dā'an fa allafa baina qulūbikum fa ashbahtum bini'matihī ikhwānā.

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini menegaskan pentingnya persatuan umat Islam. Upaya Syiah untuk menanamkan kebencian terhadap Ahlus Sunnah adalah upaya untuk memecah belah umat, yang merupakan dosa besar.

Untuk mengantisipasi penyebaran kebencian ini, ada beberapa langkah konkret yang dapat kita lakukan. Pertama, memperkuat pemahaman Ahlus Sunnah. Kita harus mempelajari aqidah, fikih, dan sejarah Islam dari sumber-sumber yang otoritatif. Kita harus memahami mengapa Ahlus Sunnah adalah jalan yang benar dan bagaimana menjawab syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh Syiah. Kedua, waspada terhadap konten-konten yang mencurigakan. Jika kita menemukan konten yang menghina sahabat Nabi, mencaci ulama Ahlus Sunnah, atau mengajarkan ajaran yang menyimpang, kita harus segera melaporkannya kepada pihak yang berwenang. Ketiga, memperkuat ukhuwah Islamiyah. Kita harus menjaga hubungan baik dengan sesama Muslim, tanpa memandang latar belakang organisasi atau mazhab. Kita harus menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat dan fokus pada hal-hal yang bisa mempersatukan umat. Keempat, mendidik generasi muda. Kita harus memberikan pendidikan agama yang benar kepada anak-anak kita, sehingga mereka memiliki benteng yang kuat terhadap ajaran sesat. Kelima, berdoa kepada Allah SWT. Kita harus memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah dan dari ajaran yang menyesatkan.

Selain itu, kita juga harus memahami bahwa Syiah bukanlah satu kelompok yang monolitik. Ada beberapa sekte dalam Syiah, seperti Itsna Asyariyah, Ismailiyah, Zaidiyah, dan lain-lain. Namun, secara umum, ajaran mereka memiliki kesamaan dalam hal kebencian terhadap Ahlus Sunnah. Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap semua bentuk ajaran Syiah, tanpa terkecuali. Kita juga harus memahami bahwa tidak semua orang yang mengaku Muslim dan memiliki pemahaman yang berbeda dengan kita adalah Syiah. Kita harus tetap berprasangka baik dan tidak mudah menuduh orang lain sebagai Syiah tanpa bukti yang jelas. Namun, jika seseorang secara terang-terangan mengajarkan ajaran Syiah yang sesat, maka kita wajib mengingatkannya dengan cara yang baik.

Kesimpulannya, upaya Syiah untuk menanamkan kebencian terhadap Ahlus Sunnah adalah ancaman nyata bagi umat Islam di Indonesia. Kebencian ini dibangun di atas distorsi sejarah, takfir, dan penyebaran ajaran yang menyimpang. Dampaknya sangat berbahaya bagi ukhuwah Islamiyah dan stabilitas umat. Oleh karena itu, kita harus bersatu padu untuk mengantisipasi penyebaran ajaran sesat ini. Kita harus memperkuat iman, ilmu, dan ukhuwah kita, serta menyebarkan informasi yang benar tentang Ahlus Sunnah. Semoga Allah SWT melindungi kita dari fitnah dan menuntun kita ke jalan yang lurus.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: