Syiahindonesia.com - Dalam dinamika propaganda dan penyebaran ideologinya, kelompok Syiah kerap menggunakan narasi yang menyerang serta menyudutkan mayoritas kaum Muslimin (Ahlus Sunnah wal Jama'ah). Berbagai tuduhan dan stempel negatif diciptakan secara sistematis untuk membangun sentimen kebencian, mengaburkan fakta sejarah, serta menutupi kerapuhan teologis dari doktrin ajaran mereka sendiri. Tuduhan-tuduhan ini disebarkan melalui ceramah, majelis, hingga penerbitan literatur dan media digital.
Apabila ditelaah secara ilmiah berdasarkan kaidah-kaidah ilmu syariat, Al-Qur'an, As-Sunnah, serta realitas sejarah, seluruh tuduhan yang dilayangkan oleh Syiah terhadap Ahlus Sunnah terbukti tidak memiliki basis data yang konkrit, tidak rasional, serta manipulatif. Membongkar kebohongan tuduhan-tuduhan ini sangat penting untuk menjaga kejernihan akidah dan membentengi umat Islam di Indonesia dari propaganda sektarian yang menyesatkan.
Tuduhan Kafir/Nawashib: Manipulasi Konsep Nashb dan Kebencian terhadap Ahlul Bait
Salah satu tuduhan paling parah yang sering dilontarkan oleh literatur klasik maupun tokoh Syiah adalah tuduhan bahwa Ahlus Sunnah adalah Nawashib (kelompok yang membenci dan memusuhi Ahlul Bait/keluarga Nabi). Bahkan dalam kitab-kitab fikih klasik Syiah, konsekuensi dari tuduhan ini berujung pada pengkafiran (takfir) dan penyamaan derajat Ahlus Sunnah dengan orang-orang musyrik.
Tuduhan ini merupakan bentuk distorsi dan fitnah yang sangat kejam. Ahlus Sunnah wal Jama'ah secara akidah menetapkan bahwa mencintai Ahlul Bait (Mahabbah Ahlil Bait) adalah kewajiban agama yang tidak boleh ditawar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat dalam hadis sahih riwayat Muslim:
أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي
"Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku! Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku!"
Ahlus Sunnah memuliakan para istri Nabi (Ummul Mukminin), Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan, Husein, serta seluruh keturunan lurus Rasulullah tanpa bertindak melampaui batas (ghuluw) dan tanpa merendahkan para sahabat Nabi yang lain. Perbedaan mendasar Ahlus Sunnah dengan Syiah terletak pada cara mencintai: Ahlus Sunnah mencintai Ahlul Bait sesuai tuntunan syariat, sedangkan Syiah mencintai Ahlul Bait dengan cara menyembahnya, menyematkan sifat gaib mutlak, serta menjadikannya bahan untuk mencaci para sahabat Nabi.
Tuduhan Memusuhi Ali bin Abi Thalib dan Membela Pembunuh Husein
Tuduhan tak berbasis lainnya yang sering diulang-ulang adalah klaim bahwa Ahlus Sunnah bersikap memusuhi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu atau berada di pihak para pembunuh Husein di Karbala.
Narasi fiktif ini sengaja dibangun untuk membenturkan umat Islam. Dalam ajaran Ahlus Sunnah wal Jama'ah:
Kedudukan Ali bin Abi Thalib: Ali diyakini sebagai Khulafaur Rasyidin keempat yang sah, sosok pahlawan Islam, sahabat utama, dan imam mulia. Siapa saja yang memusuhi atau membenci Ali dianggap sebagai pelaku bid'ah atau orang yang menyimpang dari jalan sunnah.
Sikap terhadap Tragedi Karbala: Ahlus Sunnah berlepas diri (bara') dari para pembunuh Husein bin Ali radhiyallahu 'anhuma. Pembunuhan Husein dipandang sebagai kejahatan besar yang melukai hati seluruh kaum Muslimin, dan para pelakunya divonis sebagai orang-orang zalim yang berdosa besar.
Ahlus Sunnah menolak menjadikan peristiwa politik Karbala sebagai komoditas dendam sejarah abadi, melainkan mengambil hikmah atas kesyahidan Husein seraya tetap berpegang teguh pada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 134:
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan."
Tuduhan Memalsukan dan Merusak As-Sunnah
Syiah sering memfitnah bahwa kitab-kitab hadis utama Ahlus Sunnah—seperti Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim—adalah kitab yang dipenuhi rekayasa penguasa Bani Umayyah untuk menutupi keutamaan Ahlul Bait. Mereka mengklaim bahwa hadis-hadis Ahlus Sunnah tidak autentik karena ditransmisikan oleh para sahabat yang mereka tuduh murtad.
Fitnah ini runtuh di hadapan objektifitas metode ilmu hadis (Mushthalah al-Hadits). Metode penyeleksian riwayat yang dirumuskan para ulama Ahlus Sunnah—seperti pengujian sanad, keadilan perawi ('adalah), keakuratan hafalan (dhabth), serta pencatatan cacat riwayat ('ilal)—merupakan puncak keilmuan ilmiah yang diakui oleh para peneliti sejarah di seluruh dunia.
Sebaliknya, kitab-kitab riwayat Syiah (seperti Al-Kafi) justru dipenuhi dengan riwayat tanpa sanad yang jelas, diriwayatkan oleh perawi-perawi misterius, dan secara terbuka melegalkan kedustaan atas nama ajaran (taqiyyah). Menuduh Shahih Al-Bukhari palsu seraya memegang kitab yang dipenuhi cerita fiktif merupakan sebuah kepincangan logika yang sangat nyata.
Tuduhan Mengubah Syariat dan Mengikuti "Sunnah Para Sahabat"
Guna membenarkan amalan-amalan fikih mereka yang menyimpang (seperti menggabungkan shalat tanpa sebab, nikah mut'ah, atau usap kaki tanpa membasuh saat wudhu), Syiah sering menuduh bahwa Ahlus Sunnah telah meninggalkan Sunnah Nabi dan lebih memilih "sunnah" buatan Abu Bakar atau Umar bin Khattab.
Tuduhan ini timbul akibat ketidakpahaman atau kesengajaan mereka dalam mengaburkan konsep ijtihad dan penetapan hukum. Para sahabat Nabi tidak pernah membuat syariat baru; apa yang mereka lakukan adalah mempraktikkan syariat sesuai petunjuk langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri secara eksplisit telah memerintahkan umatnya untuk mengikuti jalan para sahabatnya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
"Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian."
Mematuhi petunjuk para sahabat adalah bagian mutlak dari menjalankan As-Sunnah itu sendiri, karena para sahabat adalah murid-murid langsung yang menyaksikan turunnya wahyu dan memahami konteks syariat secara paling tepat.
Mengantisipasi Fitnah dan Propaganda Syiah di Indonesia
Penyebaran tuduhan tak berbasis terhadap Ahlus Sunnah di Indonesia disandarkan pada strategi pembentukan wacana yang halus. Mereka kerap berusaha memosisikan diri sebagai kelompok terzalimi (mazlum) demi meraih simpati masyarakat, seraya perlahan-lahan menyuntikkan narasi kebencian terhadap ajaran dan ulama Ahlus Sunnah.
Langkah-langkah konkrit dan strategis yang harus terus dikembangkan oleh umat Islam Indonesia dalam mengkonfrontasi fitnah ini meliputi:
Edukasi Kritis tentang Duduk Perkara Keilmuan: Memberikan pemahaman kepada umat mengenai hakikat ajaran Ahlus Sunnah yang sebenarnya, bahwa mencintai Ahlul Bait dan memuliakan Sahabat adalah dua hal yang berjalan seiring tanpa dikotomi.
Pemaparan Kerapuhan Literatur Syiah: Membuka akses literatur ilmiah yang membedah kitab-kitab standar Syiah, sehingga masyarakat menyaksikan sendiri bagaimana tuduhan-tuduhan kejam terhadap Ahlus Sunnah diproduksi dalam kitab-kitab rujukan mereka.
Menguatkan Persatuan di Atas Akidah Shahih: Mempererat ukhuwah islamiyah di antara sesama elemen Ahlus Sunnah wal Jama'ah agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi adu domba sektarian.
Pemberdayaan Media dan Literasi Digital: Menghadirkan konten-konten edukatif di platform digital untuk meluruskan sejarah, membantah syubhat, serta membentengi generasi muda dari manipulasi informasi.
Tuduhan tak berbasis yang dilontarkan Syiah terhadap Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah alat propaganda politik lama yang dibungkus dengan bahasa keagamaan. Dengan berpegang teguh pada Al-Qur'an, As-Sunnah yang sahih, serta pemahaman para sahabat dan ulama mutaqaddimin, umat Islam di Indonesia akan senantiasa selamat dari penyesatan dan fitnah yang merusak kemurnian agama.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: