Syiahindonesia.com - Istighfar—memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala—merupakan pilar ibadah dan bentuk penyerahan diri seorang hamba yang sangat mendasar dalam Islam. Setiap Muslim diperintahkan untuk senantiasa bertaubat dan memohon ampun secara langsung kepada Allah atas segala dosa dan khilaf. Namun, dalam konstruksi teologis ajaran Syiah (khususnya Syiah Imamiyah/Rafidhah), konsep istighfar telah mengalami pergeseran makna dan penyimpangan yang signifikan dari ajaran Al-Qur'an dan As-Sunnah ash-Shahihah. Pergeseran ini tidak hanya menyentuh tataran praktis ibadah, tetapi juga mencederai kemurnian tauhid.
Hakikat Istighfar dalam Syariat Islam
Dalam ajaran Islam yang berdasarkan pemahaman Ahlussunnah wal Jama'ah, istighfar adalah hubungan langsung antara seorang hamba dengan Sang Pencipta tanpa memerlukan perantara (wasilah) berupa makhluk, seagung apa pun kedudukannya. Istighfar yang diterima memerlukan beberapa syarat utama:
Penyesalan yang mendalam atas dosa yang dilakukan.
Meninggalkan perbuatan maksiat tersebut secara seketika.
Tekad yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa di masa depan.
Memohon ampun secara tulus dan murni hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Istighfar adalah wujud pengakuan atas sifat At-Tawwab (Maha Penerima Taubat) dan Al-Ghaffar (Maha Pengampun) yang hanya dimiliki oleh Allah semata.
Bentuk-Bentuk Penyimpangan Konsep Istighfar dalam Ajaran Syiah
Penyimpangan konsep istighfar dalam doktrin ajaran Syiah terlihat jelas dalam beberapa ajaran dan tradisi ritual mereka yang menyelimuti proses permohonan ampunan:
1. Perantaraan (Tawassul) Ekstrem dan Peran Para Imam
Dalam ajaran Syiah, istighfar dianggap tidak sempurna atau bahkan tidak akan diterima oleh Allah jika tidak bertawassul secara langsung melalui para Imam 12. Mereka meyakini bahwa para Imam memiliki kedudukan spiritual yang menjadi syarat sah diluluskannya taubat seorang hamba. Bahkan, sebagian ajaran Syiah mengajarkan ritual memohon ampunan dan keselamatan dengan memanggil nama para Imam (Istighatsah) secara langsung, yang dalam pandangan tauhid merupakan bentuk perbuatan syirik (Syiirfi ad-Du'a).
2. Doktrin Pengampunan Dosa melalui Penderitaan dan Tangisan
Salah satu doktrin paling menonjol dalam ajaran Syiah adalah keyakinan bahwa meratapi, menangisi, serta menyiksa diri (Latham) pada peringatan wafatnya Husein bin Ali radhiyallahu 'anhu pada hari Asyura dapat menggugurkan seluruh dosa. Pengampunan dosa yang seharusnya dicapai melalui taubat nasuha, perbaikan amalan, dan istighfar yang tulus, digantikan oleh ritual emosional dan ratapan sejarah yang berlebihan.
3. Pengabaian Syarat Taubat akibat Pengultusan
Pengultusan terhadap para Imam yang dianggap ma'shum (terbebas dari dosa) membuat ajaran Syiah menempatkan kecintaan dan ketaatan mutlak kepada para Imam sebagai jaminan utama masuk surga dan terbebas dari siksa neraka. Hal ini berpotensi membuat pengikutnya meremehkan dosa dan mengabaikan hakikat istighfar yang sejati, karena menganggap ikatan dogma teologis mereka sudah cukup untuk menyelamatkan mereka di akhirat.
4. Istighfar yang Disertai Pelaknatan terhadap para Sahabat
Dalam tradisi ritual dan doa-doa Syiah, permohonan ampunan sering kali dirangkaikan dengan ritual melaknat (la'n) dan mencela para Sahabat Nabi, seperti Abu Bakar ash-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, serta istri-istri Nabi radhiyallahu 'anhum. Istighfar yang seharusnya menjadi sarana pembersihan jiwa justru dikotori dengan ucapan kebencian dan permusuhan terhadap pahlawan-pahlawan Islam.
Peringatan Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang Kemurnian Taubat
Al-Qur'an dan As-Sunnah secara tegas menegaskan bahwa pengampunan dosa adalah hak mutlak Allah dan tidak boleh disandarkan kepada makhluk apa pun.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali 'Imran: 135)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menegaskan bahwa pintu taubat terbuka lebar secara langsung tanpa perantara:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan doa sayyidul istighfar yang penuh dengan penyerahan tauhid murni:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang mencipatakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas janji-Mu dan ancaman-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau.” (HR. Bukhari)
Dampak Bahaya Penyimpangan Konsep Istighfar
Penyimpangan dalam memahami dan mengamalkan istighfar membawa konsekuensi yang sangat berbahaya bagi aqidah Umat Islam di Indonesia:
Merusak Kemurnian Tauhid: Meminta pengampunan atau menjadikan penderitaan makhluk sebagai sarana utama pelebur dosa merusak asas Tauhid Uluhiyah dan menggeser keagungan sifat-sifat Allah.
Menyebarkan Kebencian dalam Ibadah: Mengaitkan ritual permohonan ampun dengan celaan terhadap para Sahabat merusak kesucian ibadah dan menanamkan sikap sektarian.
Meninabukukan Moral Umat: Keyakinan bahwa dosa-dosa dapat terhapus hanya dengan meratapi kematian atau menghadiri ritual tertentu dapat membuat seseorang meremehkan maksiat dan melanggar syariat.
Upaya Membentengi Umat dari Penyimpangan Aqidah
Untuk mengantisipasi dan membentengi kaum Muslimin dari penyimpangan konsep istighfar versi Syiah, langkah-langkah berikut sangat krusial untuk dilaksanakan:
Menguatkan Pengajaran Tauhid Murni: Mendidik masyarakat agar senantiasa menggantungkan harapan, doa, dan permohonan ampunan secara langsung hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Meluruskan Tata Cara Taubat dan Istighfar: Mengajarkan syarat-syarat taubat nasuha yang sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melalui majelis taklim dan khutbah.
Waspada terhadap Doa dan Ritual Menyimpang: Mengedukasi masyarakat agar kritis terhadap buku-buku doa atau susunan wirid terbitan kelompok Syiah yang menyusupkan bacaan celaan kepada para Sahabat.
Meneladani Generasi Salaf: Menjadikan kehidupan para Sahabat dan Ahlul Bait sebagai teladan dalam beristighfar dan bertaubat dengan tulus tanpa disertai penceritaan sejarah yang menyimpang.
Menjaga kemurnian konsep istighfar merupakan bagian penting dari memelihara tauhid. Dengan memohon ampunan secara murni hanya kepada Allah, Umat Islam di Indonesia akan terhindar dari pemahaman dan ritual yang dapat merusak aqidah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: