Breaking News
Loading...

Syiah dan Pengkultusan Imam dengan Sifat Ilahiah

Syiahindonesia.com - Tauhid merupakan fondasi paling mendasar dalam akidah Islam. Seorang muslim diwajibkan untuk mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hak Rububiyah (penciptaan dan pengaturan alam semesta), Uluhiyah (peribadahan), serta Asma' wa Sifat (nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang agung). Prinsip tauhid menetapkan pembatas yang sangat tegas antara Sang Pencipta (Khaliq) yang Maha Sempurna dan makhluk yang serba terbatas. Namun, dalam doktrin ajaran Syiah, batas suci ini tergerus oleh praktik pengkultusan para Imam (Imamah) secara berlebihan hingga memberikan sifat-sifat ilahiah (al-khasha'ish al-ilahiyyah) kepada manusia.

Antisipasi terhadap penyebaran ajaran sesat Syiah di Indonesia menjadi agenda yang sangat vital demi melindungi kemurnian tauhid umat Islam. Salah satu doktrin paling berbahaya yang disusupkan oleh paham ini adalah pemuliaan terhadap 12 Imam Syiah yang dinaikkan derajatnya melebihi para nabi dan malaikat, bahkan diberi kedudukan serta kemampuan yang hanya milik Allah semata. Pengkultusan ini bukan sekadar penghormatan biasa, melainkan bentuk penyimpangan akidah yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam kesyirikan yang nyata.

Kedudukan Tauhid dan Batasan Penghormatan kepada Makhluk

Dalam syariat Islam yang lurus, sebesar apa pun kedudukan dan derajat seorang hamba—baik ia seorang Nabi, Rasul, maupun wali—ia tetaplah makhluk yang memiliki keterbatasan, tidak memiliki daya dan upaya kecuali atas izin Allah, serta tidak boleh disembah atau disematkan sifat-sifat khusus ketuhanan padanya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surah Ash-Syura ayat 11:

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri secara tegas melarang umatnya untuk melampaui batas dalam mengagungkan diri beliau, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari:

لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

"Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji (Isa) putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR. Bukhari)

Jika kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saja umat Islam dilarang bertindak ghuluw (berlebih-lebihan), maka tentu lebih dilarang lagi mengkultuskan manusia lain di bawah derajat beliau.

Bentuk Pengkultusan Imam dengan Sifat Ilahiah dalam Ajaran Syiah

Dalam literatur utama ajaran Syiah (seperti kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini dan Biharul Anwar karya Al-Majlisi), terdapat doktrin-doktrin yang secara terang-terangan menyematkan sifat-sifat ketuhanan kepada para Imam mereka. Beberapa bentuk penyimpangan tersebut di antaranya:

1. Keyakinan Bahwa Imam Mengetahui Hal Gaib ('Ilmul Ghaib)

Salah satu bentuk pengkultusan utama dalam Syiah adalah keyakinan bahwa para Imam mengetahui seluruh hal gaib, tahu kapan mereka akan mati, serta tidak akan mati kecuali atas pilihan mereka sendiri. Bahkan dalam kitab Al-Kafi terdapat bab khusus berjudul "Bahwasanya para Imam mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari mereka".

Padahal, Al-Qur'an secara tegas menyatakan bahwa pengetahuan hal gaib adalah hak mutlak Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Naml ayat 65:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلْغَيْبَ إِلَّا ٱللَّهُ

"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.'"

2. Doktrin Wilayah Takwiniyyah (Kekuasaan Mengatur Alam Semesta)

Syiah meyakini bahwa para Imam diberikan kekuasaan Takwiniyyah, yaitu wewenang untuk mengatur atom-atom alam semesta, membagikan rezeki, menghidupkan, dan mematikan. Tokoh Syiah terkemuka, Ayatullah Khomeini, dalam bukunya Al-Hukumah Al-Islamiyyah secara eksplisit menuliskan:

"Sesungguhnya di antara doktrin darurat dalam mazhab kita adalah bahwasanya para Imam kita memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat muqarrabun maupun Nabi yang diutus... dan seluruh atom di alam semesta ini tunduk di bawah kekuasaan dan wilayah para Imam."

Keyakinan ini merupakan bentuk perampasan terhadap Tauhid Rububiyah, karena hanya Allah semata Pencipta dan Pengatur alam semesta. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-A'raf ayat 54:

أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ

"Ingatlah, menciptakan dan meremehkan (mengatur) adalah hak mutlak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam."

3. Akidah Infallibilitas Mutlak ('Ishmah)

Syiah mengajarkan bahwa para Imam memiliki sifat ma'shum (terjaga secara mutlak dari segala dosa, lupa, dan kesilapan) sama seperti para Nabi, bahkan dalam sebagian literatur dianggap lebih tinggi. Kedudukan ini membuat ucapan para Imam disamakan tingkat hukumnya dengan wahyu Al-Qur'an dan As-Sunnah.

4. Menjadikan Imam sebagai Pemegang Kunci Surga dan Neraka

Penganut Syiah meyakini bahwa para Imam—khususnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu—adalah pembagi surga dan neraka (qasimul jannati wan nar). Barangsiapa yang berwilayah (setia) kepada Imam akan masuk surga meskipun berbuat maksiat, dan barangsiapa yang menolak kepemimpinan Imam akan masuk neraka meskipun taat beribadah.

Perbandingan Kedudukan Imam: Perspektif Islam vs Syiah

Untuk memperjelas jurang pemisah antara ajaran Islam yang murni (Ahlussunnah) dengan ajaran Syiah mengenai kedudukan pemimpin/Imam, berikut adalah tabel perbandingannya:

KarakteristikAhlussunnah wal Jama'ah (Sunni)Syiah (Imamiyah)
Status KemanusiaanManusia biasa yang saleh, bisa berbuat salah dan lupa.Memiliki sifat ma'shum (bebas dari salah dan dosa).
Pengetahuan GaibTidak tahu hal gaib kecuali yang diwahyukan kepada Nabi.Mengetahui seluruh hal yang gaib di masa lalu dan depan.
Kekuasaan AlamTidak memiliki daya untuk mengatur alam semesta.Memiliki Wilayah Takwiniyyah atas seluruh materi alam.
Otoritas HukumTunduk pada Al-Qur'an dan Sunnah shahihah.Ucapan Imam bernilai wahyu dan dapat menghapus hukum.
Hak IbadahDilarang keras diseru/didoakan dalam ibadah.Diseru dan dimintai pertolongan (Istighatsah/Tawassul).

Bahaya Laten Pengkultusan Imam bagi Akidah Umat di Indonesia

Penyebaran paham yang mengkultuskan manusia dengan sifat-sifat ilahiah ini membawa ancaman yang sangat merusak bagi tatanan keagamaan masyarakat Indonesia:

  1. Merobohkan Bangunan Tauhid: Menyeret masyarakat awam ke dalam bentuk kesyirikan modern dengan mengabaikan Allah dan lebih bergantung pada seruan kepada para Imam.

  2. Pelecehan terhadap Syariat Islam: Menjadikan ketaatan kepada Imam sebagai syarat tunggal diterimanya amal, sehingga shalat, puasa, dan zakat dianggap sia-sia tanpa adanya ikatan wilayah kepada Imam Syiah.

  3. Pemberontakan terhadap Otoritas Agama: Menanamkan rasa tidak percaya kepada para ulama dan sahabat Nabi yang membawa risalah Islam, karena dianggap telah mengkhianati wasiat pengangkatan Imam.

Benteng Perlindungan Akidah dari Bahaya Pengkultusan

Untuk membendung gelombang pengkultusan Imam yang diusung oleh ajaran Syiah di Indonesia, beberapa langkah nyata harus ditegakkan secara konsisten:

  • Memurnikan Pengajaran Tauhid Asma' wa Sifat: Menggiatkan dakwah yang mengajarkan kemahatinggian sifat-sifat Allah agar umat mampu mengenali mana hak khusus Allah dan mana keterbatasan makhluk.

  • Menyebarkan Sikap Proporsional kepada Ahlul Bait: Mengajarkan cara mencintai dan menghormati Ahlul Bait Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sesuai tuntunan syariat, tanpa bertindak ghuluw (ekstrim) sebagaimana Syiah atau nashb (membenci) sebagaimana Khawarij.

  • Kritis Terhadap Bacaan dan Liturgi Syiah: Mewaspadai buku-buku, doa-doa, dan majelis yang mempromosikan pemujaan kepada para Imam dengan lafaz-lafaz yang mengandung unsur kesyirikan.

Kesimpulan

Pengkultusan Imam dengan sifat-sifat ilahiah dalam ajaran Syiah merupakan puncak penyimpangan yang merusak fondasi tauhid dalam Islam. Menisbatkan pengetahuan gaib, kekuasaan mengatur alam semesta, dan hak pengampunan dosa kepada manusia—siapa pun dia—adalah perbuatan yang merampas hak ketuhanan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Umat Islam di Indonesia wajib membuka mata, mempelajari akidah yang murni berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salafus Shalih, serta membentengi keluarga dan masyarakat dari racun ajaran sesat Syiah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: