Syiahindonesia.com - Kitab Shahih Al-Bukhari karya Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari rahimahullah menempati kedudukan yang sangat agung dalam tradisi keilmuan Islam. Di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, kitab ini disepakati sebagai kitab paling sahih setelah Al-Qur'an (Ashahhul Kutub Ba'da Kitabillah). Namun, keberadaan kitab monumental ini senantiasa menjadi target serangan dan tuduhan palsu dari kelompok Syiah. Serangan mendasar terhadap sosok Imam Bukhari beserta karya masterpiecesnya dilakukan secara masif karena Shahih Al-Bukhari merupakan benteng kokoh yang memuat ribuan riwayat otentik yang meruntuhkan doktrin-doktrin sentral Syiah, seperti Imamah, Ismah, serta tuduhan murtadnya para sahabat Nabi.
Untuk menggoyahkan kepercayaan umat Islam terhadap kitab rujukan utama ini, para penganjur ajaran Syiah menyebarkan berbagai tuduhan yang tidak berbasis ilmiah. Mereka berusaha mencitrakan Imam Bukhari sebagai sosok yang tidak netral, membenci Ahlul Bait, hingga menuduh beliau memalsukan riwayat demi membela penguasa pada zamannya.
Membongkar Tuduhan Membenci Ahlul Bait (Nawashib)
Salah satu tuduhan palsu yang kerap diulang-ulang oleh Syiah adalah klaim bahwa Imam Bukhari memusuhi atau menutupi keutamaan Ahlul Bait (keluarga Rasulullah). Mereka menuduh beliau sengaja menyeleksi dan membuang hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan, dan Husein radhiyallahu 'anhum.
Tuduhan ini merupakan bentuk fitnah yang bertolak belakang dengan fakta isi kitab Shahih Al-Bukhari itu sendiri. Imam Bukhari menuliskan bab khusus dalam kitab sahihnya yang bertajuk Kitab Fadhail Ash-Shahabah (Bab Keutamaan Para Sahabat), di mana di dalamnya terdapat pasal-pasal khusus mengenai keagungan Ahlul Bait.
Beberapa contoh riwayat otentik yang dirawikan oleh Imam Bukhari perihal Ahlul Bait antara lain:
Keutamaan Fathimah radhiyallahu 'anha: Imam Bukhari meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي فَمَنْ أَغْضَبَهَا أَغْضَبَنِي
"Fathimah adalah bagian dari diriku, barangsiapa yang membuatnya marah maka ia telah membuatku marah."
Keutamaan Hasan dan Husein radhiyallahu 'anhuma: Beliau meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam merangkul keduanya seraya berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا
"Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya."
Kedudukan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu: Beliau meriwayatkan sabda Nabi kepada Ali saat Perang Khaibar:
أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلاَّ أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي
"Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?"
Penulisan riwayat-riwayat keutamaan ini membatalkan tuduhan kebencian tersebut. Ahlus Sunnah melalui Imam Bukhari memuliakan Ahlul Bait sesuai petunjuk Nabi tanpa bersikap ghuluw (berlebihan) dan tanpa menaikkan derajat mereka menjadi setingkat tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh Syiah.
Tuduhan Membuang Riwayat dari Jalur Imam Ahlul Bait
Syiah sering memunculkan keraguan dengan mempertanyakan mengapa Imam Bukhari tidak banyak meriwayatkan hadis dari jalur Ja'far Ash-Shadiq atau para imam Ahlul Bait lainnya, lalu dituduhkan bahwa beliau menolak riwayat mereka.
Sebab mendasar dari fenomena ini diterangkan secara lugas dalam metodologi ilmu hadis (Mushthalah al-Hadits). Imam Bukhari menerapkan syarat kesahihan yang amat ketat (syarat asy-syaikhain). Beliau tidak meriwayatkan hadis dari seorang perawi kecuali setelah menyeleksi keadilan ('adalah), keakuratan hafalan (dhabth), serta kontinuitas sanad yang tidak terputus secara langsung (liqā').
Pada masa hidup Imam Ja'far Ash-Shadiq dan para imam Ahlul Bait, Kota Kufah dan sekitarnya dipenuhi oleh para pemalsu hadis dari kalangan Rafidhah (Syiah ekstrem) yang sering mencatut dan memalsukan riwayat atas nama Imam Ja'far. Imam Bukhari menyeleksi dengan sangat hati-hati perantara-perantara (rijal as-sanad) yang membawakan riwayat tersebut untuk memisahkan mana sabda murni dari Ahlul Bait dan mana rekayasa perawi Syiah. Jadi, yang disaring dan dibuang oleh Imam Bukhari bukanlah sosok para imam Ahlul Bait, melainkan perawi-perawi pendusta yang menyalahgunakan nama agung Ahlul Bait.
Ketatnya Metodologi Ilmiah Imam Bukhari vs Kerancuan Literatur Syiah
Serangan Syiah terhadap Imam Bukhari sebenarnya lahir dari kecemburuan akademis dan kekalahan metodologis. Sistem penyeleksian riwayat yang dibangun oleh Imam Bukhari diakui oleh para sejarawan dunia sebagai puncak akurasi ilmiah. Beliau menyaring ratusan ribu hadis yang dihafalnya selama belasan tahun melalui penelitian riwayat hidup perawi ('Ilm ar-Rijal) serta shalat istikharah pada setiap hadis yang dimasukkan.
Sebaliknya, kitab-kitab induk rujukan Syiah—seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini—memuat ribuan riwayat yang terputus (mursal), menggunakan perawi anonim/misterius (majhul), serta berisi pertentangan doktrin. Bahkan, ulama-ulama Syiah sendiri mengakui bahwa lebih dari separuh riwayat dalam kitab Al-Kafi tergolong lemah (dha'if) atau rekaan.
Ketika kitab rujukan mereka sendiri rapuh secara transmisi, kelompok Syiah berusaha meruntuhkan Shahih Al-Bukhari agar posisi kitab-kitab mereka yang penuh kedustaan terlihat setara di mata masyarakat awam.
Bahaya Membiarkan Propaganda Tuduhan terhadap Imam Bukhari
Upaya mendegradasi kredibilitas Imam Bukhari dan kitab Shahih Al-Bukhari adalah langkah awal dari pembongkaran ajaran Islam itu sendiri. Apabila kepercayaan masyarakat Muslim terhadap Shahih Al-Bukhari berhasil dirusak, maka keraguan akan dengan mudah disuntikkan kepada seluruh hukum fikih, tata cara shalat, zakat, puasa, dan akhlak yang diriwayatkan melalui kitab tersebut.
Al-Qur'an menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga syariat ini melalui transmisi orang-orang yang jujur. Allah berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 119:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur)."
Imam Bukhari dan para imam ahli hadis adalah barisan orang-orang jujur yang dipilih oleh Allah untuk menjaga kemurnian sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dari pemalsuan kelompok-kelompok penyesat.
Langkah Strategis Membentengi Umat di Indonesia
Penyebaran syubhat dan tuduhan palsu terhadap Imam Bukhari oleh kelompok Syiah di Indonesia perlu diantisipasi melalui langkah-langkah konkret dan berkelanjutan:
Penguatan Literasi Ilmu Hadis: Mengajarkan kaidah-kaidah dasar Mushthalah al-Hadits dan sejarah pembukuan hadis (Tadwin as-Sunnah) di pesantren, perguruan tinggi Islam, dan majelis taklim agar masyarakat memahami keunggulan metodologi Imam Bukhari.
Kajian Tematik Shahih Al-Bukhari: Menggalakkan pembacaan dan pembedahan kitab Shahih Al-Bukhari secara rutin, khususnya bab-bab yang menjelaskan tentang keutamaan Ahlul Bait dan Sahabat Nabi, guna membuktikan secara langsung kebohongan tuduhan Syiah.
Respon Cepat terhadap Syubhat Media Digital: Menghadirkan konten-konten edukatif di platform media sosial untuk membantah tuduhan dan pemotongan teks yang sering dilancarkan oleh propaganda Syiah terhadap riwayat-riwayat Bukhari.
Peran Aktif Para Dai dan Akademisi: Mendorong para ilmuwan dan ulama Ahlus Sunnah untuk terus menerbitkan karya-karya ilmiah yang menelanjangi kerapuhan argumentasi Syiah saat menyerang tokoh-tokoh keilmuan Islam.
Tuduhan palsu Syiah terhadap Imam Bukhari adalah upaya terencana untuk merusak tatanan keilmuan dan akidah Islam. Dengan terus menjaga, mempelajari, dan membela kitab-kitab hadis yang sahih, umat Islam di Indonesia akan senantiasa berdiri kokoh di atas sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan terhindar dari kesesatan paham sektarian.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: