Breaking News
Loading...

Syiah dan Kesalahannya dalam Memahami Asma' wa Sifat

Syiahindonesia.com - Memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah (Asma' wa Sifat) merupakan bagian paling mendasar dalam ilmu tauhid. Keagungan, kemurnian, dan kebenaran iktikad seorang Muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana pemahamannya terhadap konsep ketuhanan yang diajarkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Di Indonesia, menjaga akidah tauhid yang lurus dari ancaman penetrasi ajaran-ajaran penyimpangan menjadi tanggung jawab bersama. Salah satu bentuk deviasi teologis yang sangat krusial untuk dikaji dan diwaspadai adalah penyimpangan doktrin Syiah dalam memahami konsep Asma' wa Sifat.

Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, kelompok Syiah—khususnya aliran Rafidhah atau Imamiyah Istanatsariyah—telah menyerap berbagai metodologi teologi rasionalistis yang melenceng, terutama dari paham Mu'tazilah. Akibat dari adopsi pemikiran tersebut, kelompok Syiah terjerumus ke dalam dua kutub kesalahan ekstrem dalam memahami sifat-sifat Allah, yaitu penolakan sifat-sifat Allah (ta'thil) di satu sisi, dan penyerupaan sifat Allah dengan makhluk (tasybih/tajsim) pada segelintir doktrin internal mereka, serta pengangkatan derajat manusia (para Imam) hingga menyamai sifat-sifat khusus ketuhanan.

Pemahaman Hakiki Asma' wa Sifat Menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Untuk memahami letak kesalahan Syiah, umat Islam perlu memegang teguh kaidah dasar Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam memahami Asma' wa Sifat. Prinsip utama Aswaja adalah menetapkan seluruh nama dan sifat yang telah Allah tetapkan untuk Diri-Nya dalam Al-Qur'an atau yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits-hadits yang shahih, tanpa melakukan tahrif (pengubahan makna), ta'thil (penolakan), takyif (mempertanyakan hakikat/cara), maupun tamtsil (penyerupaan dengan makhluk).

Allah SWT secara tegas berfirman dalam Al-Qur'an tentang kesucian sifat-sifat-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)

Ayat ini mengandung dua fondasi utama: mensucikan Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk (tanzih), sekaligus menetapkan sifat-sifat-Nya secara hakiki (itsbat) sebagaimana yang Dia kabarkan.

Bentuk-Bentuk Kesalahan Syiah dalam Memahami Asma' wa Sifat

Pengkajian terhadap kitab-kitab rujukan utama Syiah menunjukkan adanya penyimpangan mendasar dalam menetapkan konsep keesaan nama dan sifat Allah. Di antara bentuk-bentuk penyimpangan tersebut meliputi:

1. Membuang dan Menolak Sifat-Sifat Allah (Ta'thil)

Terpengaruh secara kuat oleh filsafat Mu'tazilah, mayoritas ulama teologi Syiah menolak sifat-sifat zatiyyah maupun fi'liyyah Allah yang tertera dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Mereka beranggapan bahwa menetapkan sifat bagi Allah berarti membagi Diri Allah menjadi banyak bagian (ta'addud al-qudama'). Akibatnya, mereka memalingkan makna-makna eksplisit dari sifat Allah—seperti Sifat Wajah, Tangan, Istiwa, serta Ridha dan Murka Allah—menjadi sekadar kiasan atau bahkan menolaknya secara total.

Penolakan terhadap sifat-sifat ini pada hakikatnya membuat sesembahan yang mereka yakini menjadi sosok yang abstrak dan tidak memiliki hakikat keberadaan yang nyata dalam peribadatan, berbeda dengan ajaran Al-Qur'an yang menggambarkan Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan.

2. Doktrin Bada': Menuduh Allah Mengalami Perubahan Ilmu

Salah satu bentuk pelecehan teologis paling serius dalam doktrin Syiah terhadap sifat Ilmu Allah adalah konsep Bada'. Secara bahasa, bada' berarti tampak setelah sebelumnya tersembunyi, atau timbulnya pengetahuan baru setelah sebelumnya tidak tahu. Dalam kitab-kitab utama Syiah seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini, terdapat bab-bab khusus yang menyatakan bahwa Allah bisa mengalami bada'—yakni Allah baru mengetahui suatu perkara setelah perkara itu terjadi, atau Allah mengubah keputusan-Nya karena baru menyadari kondisi baru.

Paham ini secara nyata menisbatkan kebodohan (jahl) dan ketidaktahuan kepada Allah SWT sebelum terjadinya sesuatu. Ini jelas merupakan bentuk kekufuran dan penyimpangan yang sangat nyata. Allah SWT berfirman:

وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

"Dan bahwasanya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu." (QS. At-Thalaq: 12)

Ilmu Allah bersifat azali, sempurna, dan tidak mengalami penambahan, pengurangan, maupun perubahan sebagaimana yang dituduhkan dalam doktrin bada' Syiah.

3. Mengatribusikan Sifat-Sifat Khusus Ketuhanan Kepada Para Imam

Kesalahan fatal lainnya dalam akidah Syiah adalah tindakan melampaui batas (ghuluw) dengan menyematkan sifat-sifat khusus Allah SWT kepada para Imam Dua Belas mereka. Dalam doktrin Syiah, para Imam diyakini:

  • Mengetahui Hal Gaib Mutlak: Mereka mengklaim bahwa para Imam mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, serta tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari mereka.

  • Memiliki Wewenang Mengatur Alam Semesta (Wilayah Takwiniyah): Para Imam dianggap memiliki kuasa untuk mengatur atom-atom di alam semesta, menghidupkan dan mematikan, serta mengampuni dosa.

Tindakan menisbatkan ilmu gaib dan kekuasaan mutlak kepada manusia jelas merupakan bentuk syirik dalam Rububiyah dan Asma' wa Sifat. Allah SWT berfirman menegaskan keterbatasan ilmu gaib hanya pada Diri-Nya:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.'" (QS. An-Naml: 65)

4. Mengartikan Asma'ul Husna Sebagai Para Imam

Dalam beberapa tafsir dan riwayat Syiah, mereka melmelintir makna ayat Al-Qur'an tentang Asma'ul Husna. Ketika membaca firman Allah:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

"Hanya milik Allah nama-nama yang husna (sangat baik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu." (QS. Al-A'raf: 180)

Ulama-ulama Syiah menafsirkannya secara manipulatif dengan menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Asma'ul Husna dalam ayat tersebut bukanlah nama-nama Allah, melainkan para Imam Syiah itu sendiri. Mereka mengklaim bahwa Allah tidak akan menerima amalan hamba kecuali dengan bertawasul dan mengenal para Imam sebagai "Nama-Nama Allah" yang berjalan di bumi.

Dampak Penyimpangan Akidah Tauhid Syiah

Kesalahan dalam memahami Asma' wa Sifat bukan sekadar perdebatan teoretis, melainkan memiliki konsekuensi praktis yang merusak tatanan keagamaan:

  • Merusak Kemurnian Tauhid: Pengangkatan derajat para Imam hingga memiliki sifat-sifat Ilahiyah merusak konsep keesaan Allah (Tauhidullah) dan mengarahkan pengikutnya pada praktik kemusyrikan.

  • Membuka Pintu Keraguan Terhadap Al-Qur'an: Penolakan terhadap sifat-sifat Allah yang tertera jelas dalam Al-Qur'an memaksa mereka melakukan ta'wil liar yang merusak keutuhan makna tekstual Al-Qur'an.

  • Menyebarkan Kebingungan Teologis: Doktrin seperti bada' merusak kepercayaan hamba terhadap takdir dan mahailmunya Allah, menciptakan ketidakpastian dalam beragama.

Membentengi Umat Islam di Indonesia dari Syubhat Syiah

Di Indonesia, penguatan pemahaman akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang berbasis pada Al-Qur'an dan Sunnah menurut pemahaman Salafus Shalih harus terus ditingkatkan. Memahami keagungan sifat-sifat Allah sebagaimana mestinya adalah kunci untuk menjaga kemurnian tauhid dari segala bentuk kesesatan.

Rasulullah SAW telah mewanti-wanti umatnya untuk selalu berpegang teguh pada ajaran yang murni:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

"Aku telah meninggalkan bersama kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat selama-lamanya jika berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya." (HR. Malik)

Kesalahan Syiah dalam memahami Asma' wa Sifat menjadi pelajaran berharga bagi setiap Muslim akan pentingnya menuntut ilmu syar'i dari sumber-sumber yang otentik. Dengan memahami hakikat keesaan nama dan sifat Allah secara benar, umat Islam di Indonesia akan memiliki perisai yang kokoh dalam membendung setiap narasi penyimpangan dan menjaga keutuhan akidah Aswaja.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: