Syiahindonesia.com - Kemurnian ajaran Islam senantiasa terjaga melalui sistem transmisi keilmuan yang sangat ketat, khususnya melalui kaidah sanad dan verifikasi riwayat (isnad). Dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Aswaja), keabsahan suatu ajaran atau hukum agama wajib ditopang oleh sumber-sumber yang teruji kejujuran, kedisiplinan, dan keotentikannya. Namun, ketika mengkaji literatur utama kelompok Syiah, para peneliti dan ulama menemukan sebuah fenomena yang sangat memprihatinkan: maraknya kedustaan, riwayat palsu, serta pemutarbalikan fakta sejarah yang dijadikan sebagai dasar penyusunan doktrin keagamaan mereka.
Membedah kedustaan yang tersebar dalam kitab-kitab rujukan Syiah menjadi langkah krusial untuk membentengi umat Islam di Indonesia dari bahaya penetrasi ideologi sesat. Banyak masyarakat awam yang terbuai oleh narasi-narasi manis atas nama kecintaan kepada Ahlul Bait, tanpa menyadari bahwa narasi tersebut sering kali bersumber dari kitab-kitab yang penuh dengan kepalsuan, fabrikasi riwayat, serta manipulasi teks Al-Qur'an dan Hadits.
Kedudukan Sanad dan Kejujuran dalam Islam
Dalam Islam, kejujuran dalam menyampaikan riwayat adalah pilar utama keagamaan. Para ulama Salafus Shalih menetapkan bahwa sanad merupakan bagian tak terpisahkan dari agama. Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah menyatakan sebuah kaidah emas:
الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
"Sanad itu adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, niscaya setiap orang akan berkata apa saja yang dia kehendaki." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya)
Ahlus Sunnah menerapkan standar yang sangat ketat melalui ilmu Jarh wa Ta'dil untuk menyeleksi para perawi hadits. Jika seorang perawi terbukti pernah berdusta—meskipun hanya satu kali dalam urusan duniawi—maka seluruh riwayatnya akan ditolak secara mutlak. Sebaliknya, dalam tradisi Syiah, doktrin Taqiyyah (kebolehan bahkan kewajiban berdusta demi membela mazhab) justru dilegalisasi dan diajarkan sebagai bentuk ibadah, sehingga merusak integritas seluruh narasi dan kitab-kitab rujukan mereka.
Merekam Kedustaan dalam Kitab-Kitab Utama (Al-Kutub Al-Arba'ah) Syiah
Sama halnya dengan Ahlus Sunnah yang memiliki kitab-kitab rujukan utama, kelompok Syiah Imamiyah Itsnashariyah memiliki empat kitab pegangan induk (Al-Kutub Al-Arba'ah), yaitu: Al-Kafi karya Al-Kulaini, Man La Yahdhuruhu Al-Faqih karya Al-Saduq, serta Tahdzib Al-Ahkam dan Al-Istibshar karya Al-Tusi. Di dalam kitab-kitab induk inilah berbagai kedustaan teologis diproduksi dan disebarkan.
Berikut adalah beberapa bentuk kedustaan mendasar yang tertulis dalam kitab-kitab rujukan mereka:
1. Kedustaan dan Tuduhan Distorsi Terhadap Al-Qur'an (Tahrif)
Salah satu bentuk kepalsuan paling berbahaya yang dimuat dalam kitab induk Syiah adalah riwayat-riwayat yang menuduh bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam saat ini telah diubah, dikurangi, dan dipalsukan oleh para Sahabat Nabi. Dalam kitab Al-Kafi (Jilid 2, hal. 631), Al-Kulaini mencantumkan riwayat dusta yang mengatasnamakan Imam Ja'far Ash-Shadiq:
إِنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي جَاءَ بِهِ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ إِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ سَبْعَةَ عَشَرَ أَلْفَ آيَةٍ
"Sesungguhnya Al-Qur'an yang dibawa oleh Jibril 'alaihissalam kepada Muhammad SAW berjumlah tujuh belas ribu ayat."
Padahal, seluruh umat Islam sepakat bahwa jumlah ayat Al-Qur'an hanya berkisar 6.200-an ayat. Mengklaim bahwa Al-Qur'an aslinya berjumlah 17.000 ayat secara langsung menuduh bahwa lebih dari dua pertiga Al-Qur'an telah hilang atau disembunyikan. Ini adalah kedustaan nyata yang mendobrak firman Allah SWT tentang pemeliharaan Al-Qur'an:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9)
2. Fabrikasi Riwayat Pencatatan dan Pengkafiran Sahabat
Kitab-kitab Syiah dipenuhi oleh riwayat-riwayat palsu yang bertujuan merusak citra para Sahabat utama Nabi (Abu Bakar, Umar, Utsman, serta mayoritas Muhajirin dan Anshar). Dalam kitab Kitsb Sulaim bin Qais—salah satu kitab tertua yang diagungkan oleh Syiah—terdapat banyak riwayat fiktif yang menceritakan pendzaliman terhadap Fatimah RA dan penyerangan rumah beliau.
Selain itu, dalam Al-Kafi terdapat riwayat dusta yang menyatakan bahwa seluruh Sahabat telah murtad setelah wafatnya Rasulullah SAW, kecuali tiga atau empat orang saja (seperti Salman Al-Farisi, Abu Dzarr, dan Miqdad bin Al-Aswad). Kedustaan ini secara langsung memukul keabsahan risalah Islam, karena jika para perantara wahyu (para Sahabat) dituduh murtad, maka secara otomatis seluruh ajaran Islam yang ditransmisikan oleh mereka menjadi gugur.
3. Riwayat Fiktif Kedudukan Imam melebihi Para Nabi
Kedustaan lain yang tersebar luas dalam literatur Syiah adalah pemberian sifat-sifat ketuhanan dan mukjizat tak masuk akal kepada para Imam mereka. Dalam kitab-kitab mereka, dituliskan riwayat palsu bahwa para Imam mengetahui kapan mereka akan mati dan mereka tidak mati kecuali atas kehendak mereka sendiri, mengetahui seluruh bahasa di dunia, serta memegang kendali tata surya (Wilayah Takwiniyah).
Ulama besar Syiah seperti Ruhullah Khomeini bahkan menegaskan doktrin kepalsuan ini dalam kitabnya Al-Hukumat Al-Islamiyah:
وَإِنَّ مِنْ ضَرُورِيَّاتِ مَذْهَبِنَا أَنَّ لِأَئِمَّتِنَا مَقَامًا لاَ يَبْلُغُهُ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ
"Dan sesungguhnya di antara keniscayaan mazhab kami adalah bahwa para Imam kami memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat muqarrabin maupun nabi yang diutus."
Mengangkat kedudukan manusia biasa melampaui derajat para Nabi dan Rasul adalah bentuk rekayasa teologis yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan logika keimanan Islam.
Legalitas Kedustaan Melalui Doktrin Taqiyyah
Mengapa kedustaan dapat bertumbuh subur dan mengakar kuat dalam kitab-kitab rujukan Syiah? Jawabannya terletak pada doktrin Taqiyyah. Dalam kitab Al-Kafi, disandarkan sebuah riwayat palsu yang menyebutkan: "Taqiyyah adalah sembilan persepuluh dari agama, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak ber-taqiyyah."
Dengan meletakkan kelicikan dan kebohongan sebagai bagian terbesar dari keagamaan, para ulama Syiah memiliki lisensi penuh untuk:
Menciptakan riwayat-riwayat palsu atas nama Ahlul Bait.
Menyembunyikan akidah asli mereka ketika berhadapan dengan mayoritas umat Islam.
Mengubah-ubah fatwa dan pernyataan sesuai dengan situasi politik dan keuntungan kelompok.
Akibat dari doktrin Taqiyyah ini, tidak ada satu pun riwayat dalam kitab-kitab Syiah yang dapat dijamin keabsahannya, karena setiap teks selalu membuka ruang untuk diklaim sebagai "bentuk taqiyyah" apabila terbukti salah atau membahayakan mereka.
Bahaya Mengonsumsi Literatur Syiah Bagi Umat Islam
Penyebaran terjemahan dan kajian kitab-kitab rujukan Syiah di Indonesia membawakan dampak yang sangat destruktif:
Menanamkan Kebencian dan Keraguan: Membaca narasi palsu dalam kitab Syiah dapat menanamkan benih kebencian kepada para Sahabat Nabi serta meragukan kesucian Al-Qur'an.
Merusak Metodologi Keilmuan: Kebiasaan menerima riwayat tanpa sanad yang sahih dan memaklumi kedustaan (taqiyyah) merusak tradisi ilmiah kritis yang telah dibangun oleh para ulama hadits Aswaja.
Penyesatan Akidah Bertahap: Melalui strategi pengelabuan (mudarat), pemula sering kali diajarkan kitab-kitab yang tampak moderat sebelum secara bertahap dicekoki oleh kitab-kitab induk Syiah yang penuh fitnah dan kesesatan.
Benteng Perlindungan Umat di Indonesia
Untuk membendung bahaya kedustaan yang bersumber dari kitab-kitab Syiah, umat Islam di Indonesia harus berpegang teguh pada tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah yang ditransmisikan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Allah SWT berfirman:
وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 42)
Menyebarkan pemahaman tentang keotentikan literatur Aswaja, melatih daya kritis masyarakat terhadap riwayat-riwayat tak bersumber, serta membongkar kedustaan yang ada dalam kitab-kitab rujukan Syiah adalah ikhtiar nyata dalam membela kesucian ajaran Rasulullah SAW. Dengan kejelasan ilmu dan keteguhan akidah, umat Islam di Indonesia akan senantiasa terhindar dari tipu daya dan penyimpangan sekte sesat Syiah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: