Breaking News
Loading...

Syiah dan Penolakan terhadap Hadis yang Bertentangan dengan Aqidahnya

Syiahindonesia.com - Salah satu fondasi terpenting dalam menjaga kemurnian ajaran Islam adalah kedudukan Sunnah atau Hadis sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an. Dalam tradisi keilmuan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, penetapan keabsahan suatu hadis diuji melalui metodologi yang sangat ketat, mencakup kebersambungan sanad, keadilan perawi, keakuratan hafalan (dhabth), serta terbebas dari kejanggalan (syadz) dan cacat tersembunyi ('illah). Namun, dalam metodologi keagamaan Syiah, kriteria otentisitas hadis sering kali digeser. Mereka cenderung menolak hadis-hadis shahih yang bertentangan dengan doktrin dan akidah pokok sekte mereka, khususnya berkaitan dengan konsep keimamaan (imamah), sikap terhadap para sahabat, dan kemaksuman para imam.

Metodologi Syiah dalam Memilih dan Membuang Hadis

Berbeda dengan metodologi ilmiah ilmu musthalah hadits yang menilai perawi secara obyektif berdasarkan integritas moral dan intelektualnya, kelompok Syiah menetapkan parameter ideologis sebagai tolok ukur utama keterimaan suatu riwayat.

1. Tolok Ukur Akidah di Atas Validitas Sanad

Dalam pandangan Syiah Rafidhah, sebuah riwayat—meskipun memiliki sanad yang tersambung dan diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya secara historis—akan langsung ditolak apabila isinya bertentangan dengan pokok-pokok akidah mereka. Prinsip ini menyebabkan teks agama tunduk pada ideologi kelompok, bukan sebaliknya.

2. Penolakan Massal Perawi dari Golongan Sahabat

Syiah memiliki doktrin bahwa mayoritas sahabat Nabi SAW telah murtad atau menyimpang setelah wafatnya Rasulullah SAW karena dianggap mengabaikan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib RA. Implikasi dari akidah ini sangat fatal: ribuan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat utama seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, Aisyah binti Abu Bakar, Abu Hurairah, dan Anas bin Malik RA ditolak secara mentah-mentah.

Padahal, Allah SWT telah memberikan pujian dan jaminan keridhaan-Nya kepada para sahabat di dalam Al-Qur'an:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah...” (QS. At-Taubah: 100)

3. Pembatasan Sumber Riwayat Hanya dari Jalur Imam Ma'shum

Bagi Syiah, hadis baru dianggap valid jika bersumber dari jalur imam-imam mereka yang diyakini terbebas dari dosa dan salah (ma'shum). Pengesampingan terhadap khazanah hadis yang dihimpun oleh para ulama ahli hadis Suni seperti Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i, dan Ibnu Majah menjadi konsekuensi logis dari doktrin tersebut.

Contoh-Contoh Hadis Shahih yang Ditolak oleh Syiah

Untuk membuktikan bagaimana kelompok Syiah membuang riwayat shahih demi mempertahankan akidahnya, berikut adalah beberapa contoh hadis shahih yang ditolak atau disimpangkan maknanya:

1. Hadis tentang Keutamaan Abu Bakar dan Umar RA

Rasulullah SAW bersabda mengenai kedudukan dua sahabat utamanya:

أَقْتَدُوا بِالَّذِينَ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

“Ikutilah petunjuk orang-orang setelahku: Abu Bakar dan Umar.” (HR. At-Tirmidzi no. 3662)

Alasan Penolakan Syiah: Riwayat ini bertentangan secara mendasar dengan akidah imamah yang mewajibkan kepemimpinan tunggal pada Ali bin Abi Thalib RA setelah Nabi wafat. Oleh karena itu, Syiah menuduh riwayat-riwayat tentang keutamaan Khulafaur Rasyidin selain Ali sebagai riwayat buatan penguasa Bani Umayyah.

2. Hadis Larangan Nikah Mut'ah (Nikah Kontrak)

Dalam Shahih Muslim dan Shahih al-Bukhari, diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA sendiri:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ، وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ

“Bahwasanya Rasulullah SAW melarang nikah mut'ah dan melarang memakan daging keledai jinak pada hari Perang Khaibar.” (HR. Bukhari no. 5115 & Muslim no. 1407)

Alasan Penolakan Syiah: Meskipun hadis ini diriwayatkan melalui jalur Ali bin Abi Thalib RA—sosok yang mereka agungkan—Syiah tetap membuang dan menolak kandungan hukumnya. Hal ini disebabkan karena nikah mut'ah telah dijadikan salah satu doktrin amalan utama dalam ajaran Syiah. Mereka memilih menafsirkan ulang atau menggunakan riwayat-riwayat lain yang sesuai dengan syahwat dan doktrin kelompok mereka.

3. Hadis Keutamaan Hari Asyura (10 Muharram)

Diriwayatkan dalam kitab shahih bahwa Rasulullah SAW menganjurkan berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk rasa syukur atas diselamatkannya Nabi Musa AS dari Firaun:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Alasan Penolakan Syiah: Syiah menolak kesunnahan puasa Asyura dan melarangnya. Bagi mereka, hari Asyura harus diisi dengan duka cita ekstrem, ratapan, serta aksi melukai diri sendiri untuk mengenang wafatnya Hussain bin Ali RA di Karbala. Mengamalkan puasa pada hari tersebut dianggap oleh Syiah sebagai bentuk mendukung musuh-musuh Hussain.

Perbandingan Metodologi Penerimaan Hadis

+-----------------------------------------------------------------------------------+
|                  PERBANDINGAN KRITERIA KETERIMAAN HADIS                           |
+------------------------------------+----------------------------------------------+
|     Ahlus Sunnah wal Jama'ah       |               Sekte Syiah                    |
+------------------------------------+----------------------------------------------+
| 1. Menilai perawi berdasarkan      | 1. Menilai perawi berdasarkan kesesuaian     |
|    kejujuran dan keakuratan hafalan|    paham dengan doktrin Syiah.               |
|                                    |                                              |
| 2. Menerima riwayat dari seluruh   | 2. Menolak riwayat sahabat secara masif,     |
|    sahabat Nabi yang adil.         |    kecuali segelintir yang mendukung Ali.    |
|                                    |                                              |
| 3. Teks hadis (*matan*) mengikat  | 3. Teks hadis dibuang jika bertentangan       |
|    dan membentuk akidah Islam.     |    dengan akidah imamah dan ma'shum.        |
+------------------------------------+----------------------------------------------+

Bahaya Metodologi Syiah Terhadap Keutuhan Ajaran Islam

Kebiasaan kelompok Syiah yang menolak hadis-hadis shahih demi membela doktrinnya mendatangkan berbagai ancaman nyata bagi akidah Umat Islam di Indonesia:

  • Terselenggaranya Pengrusakan Fondasi Agama: Jika ribuan hadis shahih ditolak hanya karena diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Aisyah, atau Umar bin al-Khaththab, maka syariat Islam seperti rincian tata cara shalat, zakat, puasa, dan haji akan kehilangan pijakan otentiknya.

  • Timbulnya Anarki Metodologis: Menjadikan perasaan dan doktrin kelompok sebagai penyaring hadis akan merusak tatanan ilmu pengetahuan Islam (ulimuddin) yang telah disusun secara ilmiah oleh para ulama selama berabad-abad.

  • Munculnya Sikap Ekstrem dan Taqiyyah: Untuk menutupi kecatatan metodologis ini di hadapan Umat Islam Suni, para da'i Syiah kerap menggunakan taqiyyah (pura-pura menyetujui hadis Suni) saat berdiskusi, namun tetap mengajarkan penolakan tersebut di internal kelompok mereka.

Langkah Benteng Akidah bagi Umat Islam

Sebagai bentuk kewaspadaan nasional dan keagamaan di Indonesia, beberapa langkah strategis perlu diperkuat:

  1. Membumikan Literasi Kutubuttisitah: Umat Islam harus terus didorong untuk mengenali dan mempelajari kitab-kitab hadis rujukan utama Suni agar tidak mudah digoyahkan oleh propaganda penolakan hadis.

  2. Menjelaskan Penyimpangan Metodologi Syiah: Para ulama dan akademisi perlu secara rutin memaparkan perbedaan mendasar antara metodologi hadis Ahlus Sunnah yang objektif dan ilmiah dengan metodologi Syiah yang subjektif-ideologis.

  3. Menguatkan Peran Ormas Islam dan Pesantren: Pembentukan benteng akidah melalui lembaga pendidikan Islam, pondok pesantren, dan majelis taklim di seluruh wilayah Indonesia harus terus ditingkatkan guna membendung infiltrasi ajaran yang merusak otoritas Sunnah Nabi.

Dengan memahami bahwa penolakan Syiah terhadap hadis shahih berakar dari prioritas ideologi di atas wahyu, Umat Islam di Indonesia dapat semakin waspada dan teguh di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: