Syiahindonesia.com - Akidah Islam merupakan fondasi utama yang menentukan sah atau tidaknya keimanan seorang Muslim. Fondasi ini dibangun di atas pilar-pilar tauhid yang murni, sebagaimana diturunkan melalui wahyu Al-Qur'an dan dicontohkan secara sempurna oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beserta para sahabatnya. Namun, sepanjang sejarah pemikiran Islam, muncul berbagai sekte yang menyimpang dari garis lurus (ash-shirath al-mustaqim). Salah satu kelompok yang memiliki pergeseran mendasar dan signifikan dalam pemahaman akidah adalah aliran Syiah.
Penyebaran doktrin-doktrin Syiah di Indonesia kerap dibungkus dengan narasi cinta kepada Ahlul Bait (keluarga Nabi) atau propaganda persatuan umat. Padahal, jika dikaji secara mendalam melalui literatur keilmuan Islam, penyimpangan Syiah bukan sekadar perbedaan pendapat pada ranah fikih (furu'iyyah), melainkan menyangkut pokok-pokok keyakinan (usuluddin). Pemahaman yang salah terhadap prinsip-prinsip akidah ini dapat mengikis kemurnian tauhid dan merusak tatanan keagamaan yang telah disepakati oleh mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama'ah).
Penyimpangan Konseptual dalam Pemahaman Tauhid
Keagungan akidah Islam terletak pada kemurnian tauhid, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Rububiyyah, Uluhiyyah, serta Asma' wa Shifat. Syiah, khususnya sekte Rafidhah / Imamiyah Itsna 'Asyariyah (Dua Belas Imam), telah menyisipkan konsep-konsep yang mencederai pemahaman tauhid yang murni tersebut.
1. Pengagungan Berlebihan (Ghuluw) terhadap Para Imam
Dalam doktrin Syiah, para imam yang dua belas diberikan kedudukan spiritual yang sangat ekstrem hingga melampaui batas kewajaran seorang manusia biasa. Mereka meyakini bahwa para imam memiliki pengetahuan gaib secara mutlak, menguasai partikel alam semesta (wilayah takwiniyyah), serta terbebas dari kesalahan dan dosa ('ismah).
Sifat 'ismah (keatsamaan) yang mutlak sejatinya hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul dalam menyampaikan wahyu Allah. Penyematan sifat maksum dan pengetahuan gaib mutlak kepada para imam jelas bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah An-Naml ayat 65:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah', dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan."
Pengagungan yang berlebihan ini juga mendorong munculnya praktik kepenerimaan doa atau permohonan pertolongan (istighatsah) secara langsung kepada para imam yang telah meninggal dunia. Praktik semacam ini mencederai hak mutlak Allah dalam Uluhiyyah (peribadatan).
2. Konsep Bada' (Kekeliruan dalam Pengetahuan Allah)
Salah satu penyimpangan akidah yang sangat mendasar dalam ajaran Syiah adalah doktrin Al-Bada'. Secara bahasa, bada' berarti tampak setelah tersembunyi atau munculnya pikiran baru setelah sebelumnya tidak tahu. Dalam teologi Syiah, mereka mengklaim bahwa Allah bisa mengubah keputusan atau takdir-Nya karena baru mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui-Nya.
Konsep ini pada mulanya diciptakan oleh tokoh-tokoh Syiah untuk membela ramalan-ramalan atau klaim para imam mereka yang tidak terbukti di kenyataan. Doktrin bada' secara langsung menuduh Allah memiliki sifat bodoh atau lupa, wal 'iyadzu billah. Hal ini secara tegas membatalkan kesempurnaan ilmu Allah sebagaimana ditegaskan dalam Surah Thaha ayat 52:
قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ ۖ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى
"Musa menjawab: 'Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa'."
Kesalahan dalam Memahami Kedudukan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Prinsip dasar akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah yang dijamin keasliannya oleh Allah hingga akhir zaman, sedangkan As-Sunnah adalah penjelas resmi yang diriwayatkan oleh para sahabat yang adil. Sebaliknya, Syiah memiliki pandangan yang cacat terhadap dua sumber utama ajaran Islam ini.
1. Tuduhan Penyimpangan dan Pemalsuan Al-Qur'an (Tahrif)
Dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini dan Fashl al-Khitab karya An-Nuri Ath-Thabrasi, terdapat banyak riwayat yang menyatakan bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam saat ini telah diubah, dikurangi, atau ditambahi oleh para sahabat setelah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka mengklaim bahwa Al-Qur'an yang utuh hanya ada pada Imam Mahdi versi mereka.
Keyakinan akan adanya tahrif (perubahan) pada Al-Qur'an merupakan kekufuran yang nyata, karena mendustakan jaminan pemeliharaan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al-Hijr ayat 9:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."
2. Penolakan terhadap Mayoritas Hadis Nabi
Akidah Syiah menolak mayoritas riwayat hadis yang ditransmisikan oleh para sahabat Nabi seperti Abu Hurairah, Umar bin Khattab, Aisyah, dan sahabat-sahabat lainnya. Mereka hanya menerima riwayat yang disandarkan melalui jalur para imam mereka saja. Akibat penolakan ini, mereka terputus dari mayoritas syariat dan petunjuk otentik Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu menggantinya dengan riwayat-riwayat rekaan dan dongeng politik sektarian.
Penyesatan Konsep Kedudukan Sahabat dan Ummul Mukminin
Salah satu cermin buruk dari kesesatan akidah Syiah adalah pandangan mereka terhadap generasi terbaik umat Islam, yaitu para Sahabat Nabi dan istri-istri beliau (Ummul Mukminin).
Ahlus Sunnah wal Jama'ah meyakini keadilan seluruh sahabat ('adalah as-sahabah) berdasarkan persaksian Al-Qur'an. Sebaliknya, doktrin Syiah mengajarkan bahwa mayoritas sahabat murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kecuali hanya beberapa orang saja seperti Salman Al-Farisi, Abu Dzarr Al-Ghifari, dan Miqdad bin Al-Aswad. Mereka melontarkan celaan, laknat, bahkan pengkafiran (takfir) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.
Celaan terhadap para sahabat sejatinya merupakan serangan terselubung terhadap ajaran Islam itu sendiri. Sebab, para sahabat adalah perantara yang menyampaikan Al-Qur'an dan As-Sunnah kepada generasi berikutnya. Jika perantaranya dituduh fasik dan murtad, maka secara otomatis kredibilitas syariat yang dibawanya ikut runtuh.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang keras tindakan mencaci para sahabatnya dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim:
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
"Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud (satu genggaman) pahala infak salah seorang dari mereka dan tidak pula separuhnya."
Kedudukan Rukun Iman Versi Syiah yang Disimpangkan
Seketika akidah disimpangkan, konsep Rukun Iman pun mengalami pergeseran mendasar. Bagi Syiah, doktrin Imamah dimasukkan ke dalam rukun iman yang paling utama. Seseorang dianggap tidak beriman dan amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah jika tidak meyakini kepemimpinan dua belas imam mereka.
Penyamaan kedudukan Imamah dengan rukun iman ini tidak memiliki landasan sedikit pun dalam Al-Qur'an maupun Hadis Jibril yang sangat terkenal. Dalam Hadis Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan rukun iman secara lugas:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
"Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk."
Tidak disebutkan sama sekali doktrin Imamah sebagai rukun iman. Menjadikan ideologi politik kepemimpinan sebagai syarat mutlah keimanan seseorang merupakan bentuk perombakan struktur pokok agama (tahrif ad-din).
Pentingnya Mewaspadai Penyebaran Akidah Syiah di Indonesia
Kesalahan-kesalahan mendasar dalam akidah Syiah ini menunjukkan bahwa aliran tersebut berada di luar kerangka pemahaman Islam yang lurus (Ahlus Sunnah wal Jama'ah). Di Indonesia, propaganda Syiah kerap ditutup-tutupi dengan taktik taqiyyah (berpura-pura dan menyembunyikan keyakinan sesungguhnya) demi menarik simpati masyarakat yang awam.
Langkah-langkah strategis yang perlu terus digalakkan oleh umat Islam Indonesia dalam mengantisipasi aliran ini antara lain:
Edukasi Akidah Ahlus Sunnah secara Masif: Memperkuat pengajaran akidah yang shahih berdasarkan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan pemahaman Salafus Shalih di pesantren, sekolah, majelis taklim, serta media massa.
Meningkatkan Kewaspadaan terhadap Literatur Syiah: Menyaring buku, majalah, dan konten digital yang mencoba mengaburkan fakta sejarah sahabat Nabi atau menyusupkan pemahaman ghuluw terhadap Ahlul Bait.
Menguatkan Sikap Kritis dan Tabayyun: Tidak dengan mudah terkecoh oleh retorika manis atas nama persatuan yang mengorbankan prinsip-prinsip dasar akidah Islam.
Dukungan terhadap Fatwa dan Panduan Ulama: Memperhatikan dan menyebarluaskan fatwa-fatwa resmi lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah menerbitkan panduan dan peringatan tentang bahaya penyimpangan ajaran Syiah.
Menjaga kemurnian akidah adalah kewajiban tertinggi setiap Muslim. Dengan memahami titik-titik kesalahan ajaran Syiah dalam memahami Islam, umat Islam di Indonesia diharapkan mampu membentengi diri, keluarga, dan masyarakat dari ancaman pemikiran yang menyesatkan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: