Breaking News
Loading...

Syiah dan Upaya Mengaburkan Sejarah Islam

Syiahindonesia.com - Sejarah adalah cermin masa lalu yang menentukan arah perjalanan suatu umat di masa depan. Bagi umat Islam, sejarah generasi awal—terutama masa kehidupan Rasulullah SAW dan para Khulafaur Rasyidin—adalah rujukan emas yang merekam bagaimana syariat Islam diaplikasikan secara nyata. Kemurnian catatan sejarah ini dijaga ketat oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah melalui metodologi kritik riwayat yang jujur dan ilmiah.

Namun, di panggung peradaban, sekte Syi'ah Rafidhah menganggap catatan sejarah Islam yang otentik sebagai ancaman terbesar bagi kelangsungan doktrin mereka. Karena realita sejarah yang jujur tidak pernah berpihak pada konsep kepemimpinan gaib ataupun dinasti politik teokratis mereka, para teolog dan mullah Syiah menempuh jalan yang destruktif: melancarkan propaganda sistematis untuk mengaburkan, memotong, bahkan memalsukan fakta sejarah Islam. Artikel ini akan membongkar ragam taktik manipulasi sejarah yang dimainkan Syiah demi menyesatkan pemikiran umat Islam.

1. Menciptakan Dongeng "Konspirasi Saqifah" dan Pengkhianatan Sahabat

Salah satu upaya terbesar Syiah dalam mengaburkan sejarah adalah mendistorsi peristiwa di Saqifah Bani Sa'idah, yaitu momentum berkumpulnya kaum Muhajirin dan Anshar untuk bermusyawarah memilih Abu Bakar Ash-Shiddiq RA sebagai khalifah pasca-wafatnya Rasulullah SAW.

Dalam narasi sejarah versi Syiah, momentum mulia tersebut digambarkan secara keji sebagai sebuah "kudeta berdarah" dan konspirasi politik rahasia yang digawangi oleh Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah untuk merampas hak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib RA. Mereka mengaburkan fakta bahwa pemilihan di Saqifah berlangsung secara transparan, demokratis, dan didasarkan pada prinsip musyawarah Islam (Syura). Allah SWT telah memuji kebersihan hati para sahabat yang terlibat dalam baiat tersebut melalui Surah Al-Fath ayat 18:

لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat."

Dengan menggambarkan generasi terbaik Islam sebagai sekelompok orang yang haus kekuasaan dan langsung mengkhianati Nabi segera setelah beliau wafat, Syiah berusaha meruntuhkan kepercayaan umat terhadap orisinalitas agama ini.

2. Mengarang Tragedi Fiktif "Penyerangan Rumah Fatimah"

Untuk merawat bara dendam dan memelihara fanatisme pengikutnya, mullah Syiah memproduksi kisah-kisah tragis bernuansa fiktif. Salah satu dongeng sejarah yang paling gencar mereka embuskan adalah klaim bahwa Umar bin Khattab RA pernah mendobrak dan membakar pintu rumah Fatimah az-Zahra hingga menyebabkan putri Nabi tersebut keguguran anak yang bernama Muhsin.

Pengaburan sejarah ini dengan mudah ditolak oleh akal sehat dan dokumen sejarah yang shahih:

  • Ali bin Abi Thalib RA adalah singa Allah yang terkenal pemberani. Secara logika, tidak mungkin Ali hanya berdiam diri menyaksikan istrinya dianiaya di dalam rumahnya sendiri.

  • Hubungan antara Ali dan Umar pasca-peristiwa tersebut sangatlah harmonis. Ali bahkan menikahkan putrinya yang bernama Ummu Kultsum dengan Umar bin Khattab.

  • Ali juga menamai salah satu anak kandungnya dengan nama Umar (Umar bin Ali).

Menyembunyikan fakta keharmonisan keluarga Nabi dengan para sahabat dan menggantinya dengan narasi penganiayaan fiktif adalah bukti nyata betapa kejinya Syiah dalam memanipulasi memori kolektif umat.

3. Reduksionisme Sejarah: Mempersempit Makna "Ahlul Bait"

Syiah secara sepihak melakukan sensor sejarah terhadap definisi Ahlul Bait (Keluarga Nabi). Dalam catatan sejarah Islam yang utuh, yang termasuk dalam keluarga Nabi yang suci dan wajib dihormati adalah istri-istri Nabi (Ummul Mukminin), anak-anak perempuan Nabi, serta keturunan Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang beriman.

Namun, demi melanggengkan doktrin garis keturunan 12 Imam, Syiah memotong catatan sejarah tersebut. Mereka mendepak istri-istri Nabi—terutama Aisyah RA dan Hafshah RA—dari barisan Ahlul Bait. Tidak hanya mendepak, mereka bahkan memalsukan riwayat demi mencaci-maki dan menuduh Aisyah RA dengan tuduhan-tuduhan keji yang telah dibersihkan langsung oleh Allah di dalam Surah An-Nur. Pengaburan ini dilakukan agar umat Islam mengisolasi rasa cinta mereka hanya kepada figur tertentu yang menguntungkan teologi Syiah.

4. Menyusupkan Ranjau Riwayat Palsu ke dalam Kitab Tarikh Sunni

Para ulama klasik Syiah sadar bahwa buku-buku sejarah mereka sendiri tidak akan laku di kalangan akademisi Sunni. Oleh karena itu, mereka menggunakan taktik penyusupan. Di masa lalu, para perawi Syiah yang lihai berbohong (seperti Abu Mikhnaf dan Luth bin Yahya) sengaja menyusupkan riwayat-riwayat palsu seputar fitnah pembunuhan Utsman, Perang Jamal, dan Perang Shiffin ke dalam proyek kodifikasi sejarah ulama Sunni, seperti dalam beberapa volume awal Tarikh al-Thabari.

Di era modern, buku-buku yang telah disusupi ranjau riwayat palsu inilah yang dicetak ulang oleh penerbit Syiah atau dikutip sepotong-sepotong oleh para misionaris mereka. Ketika umat Islam yang awam membaca kutipan tersebut dari kitab sejarawan Sunni, mereka akan teperdaya dan mengira bahwa para sahabat Nabi memang seburuk yang dicitrakan oleh propaganda Syiah.

Kesimpulan

Upaya kelompok Syiah dalam mengaburkan sejarah Islam bukan sekadar perbedaan sudut pandang akademis, melainkan sebuah gerakan sistemis untuk mencabut akar identitas umat Islam. Dengan merusak citra para sahabat, mengarang tragedi fiktif, mereduksi makna keluarga Nabi, dan menyusupkan riwayat palsu, sekte Rafidhah ini berusaha menyakinkan dunia bahwa Islam telah gagal sejak generasi pertamanya.

Bagi umat Islam di Indonesia, kewaspadaan terhadap distorsi sejarah ini harus terus ditingkatkan. Membaca dan mengkaji sejarah Islam dari sumber-sumber Ahlussunnah wal Jama'ah yang menggunakan metode verifikasi sanad yang ketat adalah benteng utama untuk menepis setiap syubhat dan menjaga kemurnian kisah perjuangan para sahabat nabi di bumi nusantara.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: