Syiahindonesia.com - Sejak awal kemunculannya sebagai sekte teologis-politik, Syiah (khususnya Rafidhah) tidak hanya membangun doktrin-doktrin yang menyimpang dari Al-Qur'an dan Sunnah, tetapi juga menciptakan tembok pemisah yang tebal dengan mayoritas umat Islam. Untuk memelihara eksistensi sektenya dan membenarkan teologi kebencian yang mereka anut, para ulama Syiah merumuskan berbagai fitnah besar yang dialamatkan secara keji kepada Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Fitnah-fitnah ini didesain secara sistematis agar para pengikut Syiah merasa berada di pihak yang tertindas (mazlum), sekaligus menanamkan permusuhan abadi terhadap Ahlus Sunnah yang dituduh sebagai musuh-musuh Ahlul Bait. Artikel ini akan membedah secara ilmiah dan membongkar ragam fitnah besar yang dipabrikasi sekte Syiah terhadap Ahlus Sunnah.
1. Fitnah "An-Nashb" (Menuduh Ahlus Sunnah sebagai Pembenci Ahlul Bait)
Fitnah paling keji dan mendasar yang ditiupkan oleh teolog Syiah terhadap Ahlus Sunnah adalah pelabelan sebagai Nawashib (jamak dari Nashibi). Di dalam terminologi Syiah, Nashibi adalah sebutan bagi siapa saja yang memusuhi, membenci, atau menentang Ahlul Bait Nabi.
Kebohongan di Balik Pelabelan:
Para ulama besar Syiah, seperti Al-Hurr al-Amili dan Ni'matullah Al-Jaza'iri, secara tegas menulis di kitab-kitab mereka bahwa yang dimaksud dengan Nashibi pada hakikatnya adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah (kaum Sunni). Mereka mempabrikasi opini bahwa:
Ahlus Sunnah lebih mendahulukan Abu Bakar, Umar, dan Utsman karena dilandasi rasa benci kepada kepemimpinan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
Ahlus Sunnah dituduh menyembunyikan dan menghapus keutamaan-keutamaan Ahlul Bait dari kitab-kitab hadis mereka.
Hakikat Aqidah Ahlus Sunnah yang Sebenarnya:
Tuduhan ini adalah fitnah murahan yang bertolak belakang dengan realitas kitab-kitab rujukan Sunni.
Kewajiban Mencintai Ahlul Bait: Ahlus Sunnah sepakat bahwa mencintai Ahlul Bait yang bertauhid dan mengikuti sunnah Nabi adalah bagian dari iman, dan membenci mereka adalah kemunafikan.
Kitab Hadis Sunni Dipenuhi Keutamaan Ahlul Bait: Kitab-kitab babon hadis Sunni (seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Musnad Ahmad, dan Sunan At-Tirmidzi) memiliki bab khusus (Fadhail) yang memuat ratusan hadis sahih tentang kemuliaan Ali, Fatimah, Hasan, Husain, serta istri-istri Nabi.
Ahlus Sunnah memuliakan Ahlul Bait tanpa harus bersikap ekstrem (ghuluw) mendudukkan mereka sebagai tuhan atau nabi, dan di saat yang sama tetap memuliakan para Sahabat Nabi lainnya.
2. Fitnah "Wahabisasi" dan Label Radikal terhadap Setiap Upaya Dakwah Sunnah
Di era modern, khususnya di wilayah Nusantara, para misionaris Syiah menggunakan strategi propaganda baru yang sangat adaptif dengan isu sosial-politik. Setiap kali ada ulama atau dai Ahlus Sunnah yang membongkar kesesatan akidah Syiah berdasarkan kitab rujukan asli mereka, kaum Syiah akan langsung melancarkan fitnah dengan label "Wahabi", "Takfiri", atau "Sekte Radikal/Intoleran".
Tujuan di Balik Narasi "Wahabisasi":
Pengalihan Isu: Mereka ingin mengalihkan perdebatan dari ranah ilmiah-akidah (seperti masalah kemaksuman imam, nikah mut'ah, dan penghinaan sahabat) menjadi konflik politik internal Sunni.
Menarik Simpati Pemerintah dan Kaum Sufi: Dengan membenturkan istilah "Wahabi vs Aswaja", Syiah mencoba menyusup di tengah-tengah ormas Islam besar (seperti NU dan Muhammadiyah) seolah-olah Syiah adalah kawan dekat yang toleran, sedangkan pihak yang mengkritik mereka adalah kelompok radikal pemecah belah bangsa.
Ini adalah bentuk manipulasi publik yang sangat licik. Mereka mengeklaim toleransi dan persatuan Islam (Taqrib), namun di saat yang sama kitab-kitab rujukan utama mereka yang dicetak setiap tahun tetap memuat doktrin pengafiran terhadap mayoritas Sahabat Nabi dan seluruh umat Islam yang tidak mengimani 12 Imam mereka.
3. Fitnah "Penyelewengan Sanad" dan Tuduhan Memalsukan Ajaran Nabi
Sekte Syiah menuduh bahwa syariat Islam yang dipegang teguh oleh Ahlus Sunnah hari ini adalah syariat yang cacat, palsu, dan telah mengalami distorsi besar karena diriwayatkan melalui jalur para Sahabat Nabi yang mereka klaim telah murtad pasca-wafatnya Rasulullah SAW.
Tuduhan terhadap Periwayat Terbanyak:
Mereka mengarahkan panah fitnah secara khusus kepada para Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis, seperti Sayyidina Abu Hurairah RA dan Sayyidah Aisyah Radhiyallahu 'Anha. Abu Hurairah difitnah sebagai pendusta yang menjual hadis demi dunia, sementara ibunda Aisyah difitnah dengan berbagai tuduhan keji yang merusak kehormatan rumah tangga Nabi.
Konsekuensi dari Fitnah Ini:
Dengan merusak reputasi para perawi utama hadis, Syiah sebenarnya sedang mencoba meruntuhkan bangunan hukum Islam (Fikih, Tafsir, dan Akidah) secara keseluruhan. Jika Abu Hurairah dan Aisyah dianggap tidak kredibel, maka ribuan hadis sahih tentang tata cara shalat, puasa, zakat, dan muamalah akan gugur. Di sinilah Syiah menawarkan "solusi palsu" berupa hadis-hadis buatan mereka yang hanya bersumber dari jalur imam-imam mereka, yang sanadnya sering kali terputus dan dipenuhi periwayat fiktif.
Tabel Komparasi: Cara Pandang Syiah vs Realitas Ilmiah Ahlus Sunnah
Untuk melihat peta perbedaan yang tajam dan kontras mengenai fitnah ini, berikut tabel analisis perbandingannya:
4. Sikap Ahlus Sunnah yang Adil dan Proporsional
Meskipun dihujani dengan berbagai fitnah keji dari generasi ke generasi, Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak pernah membalasnya dengan mempabrikasi kebohongan serupa. Sikap Ahlus Sunnah senantiasa tegak di atas keadilan ilmiah (ilmiyyah) dan akhlak yang mulia.
Ketika mengkritik Syiah, para ulama Sunni tidak menggunakan dongeng atau prasangka, melainkan langsung merujuk pada kitab-kitab primer Syiah sendiri (seperti Al-Kafi oleh Al-Kulaini, Man La Yahdhuruhu al-Faqih oleh Ibnu Babawayh, atau Biharul Anwar oleh Al-Majlisi). Ahlus Sunnah selalu membedakan antara pimpinan Syiah yang sengaja menyesatkan dengan masyarakat awam mereka yang tertipu oleh slogan-slogan manis.
Allah SWT mengingatkan kita untuk selalu berlaku adil bahkan kepada kelompok yang membenci kita:
“...Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa...” (QS. Al-Ma'idah: 8).
Kesimpulan
Fitnah-fitnah besar yang dilancarkan oleh sekte Syiah terhadap Ahlus Sunnah merupakan bagian dari strategi bertahan hidup teologi mereka. Tanpa memelihara narasi palsu bahwa Ahlus Sunnah membenci Ahlul Bait dan merusak agama, sekte Syiah akan kehilangan alasan historis untuk tetap eksis dan menggalang fanatisme pengikutnya.
Bagi umat Islam di Indonesia, menyikapi fitnah-fitnah ini membutuhkan kecerdasan literasi sejarah dan keteguhan akidah. Kita tidak boleh terpancing oleh provokasi fisik, namun kita juga tidak boleh lengah membiarkan syubhat dan fitnah mereka merusak pemahaman generasi muda tentang kesucian para Sahabat, kemuliaan istri-istri Nabi, dan kemurnian ajaran Islam yang dibawa oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: