Breaking News
Loading...

Kesalahan Syiah dalam Memahami Sunnah Nabi

Syiahindonesia.com - Sunnah Nabi Muhammad SAW merupakan sumber hukum kedua dalam Islam setelah Al-Qur'an al-Karim. Keberadaan Sunnah sangat krusial karena ia berfungsi sebagai penjelas (bayan), pembatas keumuman, hingga penetap hukum-hukum yang belum termaktub secara rinci di dalam Kitabullah. Oleh karena itu, otentisitas dan metodologi dalam memahami Sunnah menjadi garis penentu antara akidah yang lurus dan pemikiran yang menyimpang.

Dalam konstelasi teologi, sekte Syi'ah Imamiyyah Atsna 'Asyariyyah (Dua Belas Imam) memiliki cacat epistemologi yang sangat fatal dalam memandang dan memahami Sunnah Nabi. Mereka merombak total definisi, jalur periwayatan, hingga standar kesahihan hadis yang telah disepakati oleh mayoritas ulama Islam. Akibatnya, pemahaman mereka terhadap Sunnah bergeser menjadi alat legitimasi politik kelompok yang sarat akan distorsi. Artikel ini akan membedah secara detail dan ilmiah mengenai letak kesalahan fatal Syiah dalam memahami Sunnah Nabi SAW.

1. Perluasan Makna "Sunnah" kepada Ucapan Para Imam

Kesalahan paling mendasar dari metodologi Syiah adalah pencampuran otoritas syariat. Bagi umat Islam Ahlussunnah wal Jama'ah, yang dimaksud dengan hadis atau Sunnah hanyalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun sifat beliau. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Najm ayat 3-4:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."

Namun, Syiah memperluas definisi ini secara sepihak. Bagi mereka, perkataan, perbuatan, dan ketetapan dari 12 Imam mereka juga disebut sebagai "Sunnah" yang wajib diikuti dengan tingkat kesakralan yang setara dengan sabda Nabi SAW. Mereka meyakini para imam memiliki sifat maksum (suci dari dosa dan salah) dan menerima ilham yang kedudukannya sejajar dengan wahyu kenabian.

Secara logika ilmiah, menyamakan kedudukan ucapan manusia biasa—meskipun mereka adalah keturunan Nabi—dengan wahyu Rasulullah SAW adalah bentuk pengabaian terhadap finalitas kenabian. Kesalahan konsektual ini membuat Syiah sering kali mengabaikan hadis asli dari Nabi SAW dan lebih memilih memenangkan fatwa-fatwa buatan yang disandarkan kepada para imam mereka di dalam kitab-kitab seperti Al-Kafi.

2. Memutus Sanad Hadis dengan Mengafirkan Para Sahabat

Sebuah Sunnah atau hadis dapat sampai ke generasi hari ini melalui jembatan emas yang bernama Sanad (rantai periwayatan). Generasi pertama yang menerima hadis langsung dari lisan dan perbuatan Nabi SAW adalah para sahabat Radhiallahu 'Anhum. Tanpa adanya integritas ('adalah) para sahabat, maka runtuhlah seluruh transmisi ajaran Islam.

Di sinilah letak kehancuran sistem hadis Syiah. Karena teologi mereka dibangun di atas doktrin kebencian dan pengafiran massal terhadap para sahabat Nabi—seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Khalid bin Walid, Abu Hurairah, hingga Ummul Mukminin Aisyah RA—maka secara otomatis mereka menolak seluruh hadis yang diriwayatkan melalui jalur para sahabat agung tersebut.

Akibatnya, Syiah mendepak ribuan hadis shahih yang ada di dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan kitab-kitab induk Islam lainnya. Sebagai gantinya, mereka hanya mau menerima hadis yang diriwayatkan oleh jalur kelompok mereka sendiri atau jalur Ahlul Bait versi mereka. Dengan memutus jembatan penyampai risalah ini, Syiah sebenarnya telah membuang mayoritas Sunnah Nabi yang asli dan menggantinya dengan riwayat fiktif yang baru disusun berabad-abad kemudian.

3. Menolak Konsep "Mutawatir" dan Kesepakatan Umat

Dalam ilmu hadis, terdapat tingkatan hadis Mutawatir, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi pada setiap tingkatan sanadnya, sehingga secara akal sehat mustahil mereka bersepakat untuk berbohong. Hadis mutawatir menghasilkan ilmu yang pasti (qath'i) dan tidak ada celah untuk diingkari.

Tragisnya, kelompok Syiah kerap kali menolak hadis-hadis mutawatir umat Islam jika isinya tidak sesuai dengan selera politik sekte mereka. Sebagai contoh, hadis-hadis mengenai keutamaan Abu Bakar dan Umar, atau hadis mengenai tata cara salat yang dicontohkan Rasulullah SAW secara massal, ditolak oleh Syiah dengan alasan para sahabat telah bersekongkol untuk menyembunyikan kebenaran setelah Nabi wafat.

Menuduh ribuan sahabat Nabi dari berbagai suku dan daerah bersekongkol melakukan kebohongan massal adalah sebuah kegilaan historis yang merusak akal sehat. Rasulullah SAW telah membantah klaim isolasi kebenaran ini dalam hadisnya:

إِنَّ اللهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan." (HR. Tirmidzi)

4. Legalisasi Kedustaan Melalui Doktrin "Taqiyyah"

Faktor pelengkap yang membuat Syiah mustahil memahami Sunnah Nabi secara jujur adalah doktrin Taqiyyah (berpura-pura atau berbohong demi maslahat kelompok). Dalam kitab rujukan mereka, Al-Kafi, terdapat bab khusus yang menyatakan bahwa para imam sengaja mengeluarkan fatwa yang saling bertentangan kepada murid yang berbeda-beda untuk mengelabui pemerintah Sunni saat itu.

Ketika kedustaan dan sandiwara dilegalkan sebagai bagian dari rukun agama, maka hancurlah nilai keandalan sebuah teks. Para ulama Syiah sendiri akhirnya kebingungan ketika menyaring riwayat mereka: mana sabda imam yang merupakan hukum asli, dan mana sabda imam yang lahir dari unsur kepura-puraan (Taqiyyah)? Di atas fondasi metodologi yang penuh dengan kepalsuan ini, Sunnah Nabi akhirnya dipelintir sesuka hati oleh para mullah demi mengontrol ketaatan para pengikut awamnya.

Kesimpulan

Kesalahan Syiah dalam memahami Sunnah Nabi berakar dari penyakit fanatisme politik yang ekstrem. Mereka merusak definisi hadis, mengafirkan generasi pembawa wahyu (sahabat), menolak ijma' umat, dan menghalalkan kedustaan melalui instrumen Taqiyyah. Apa yang mereka sebut sebagai "Sunnah" hari ini di dalam kitab-kitab Rafidhah tidak lain adalah kompilasi opini politik dan dongeng mistis yang sengaja diproduksi untuk menjauhkan umat dari Islam yang murni.

Bagi kaum muslimin di Indonesia, memahami kerapuhan epistemologi hadis Syiah ini adalah langkah penting untuk membentengi diri dari penyebaran syubhat. Sunnah Nabi yang sejati adalah yang terjaga kemurniannya melalui metodologi sanad Ahlussunnah yang jujur, transparan, dan ilmiah, bukan yang diselimuti oleh kabut dendam sejarah ala Rafidhah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: