Breaking News
Loading...

Syiah dan Kedustaan tentang Peristiwa Saqifah

Syiahindonesia.com - Wafatnya Rasulullah SAW merupakan momentum kedukaan terdalam sekaligus ujian konsolidasi perdana bagi eksistensi umat Islam generasi awal. Di tengah suasana berkabung yang menyelimuti Madinah, sebuah potret gemilang mengenai kedewasaan berpolitik, ketulusan iman, dan keagungan jiwa para Sahabat Nabi terekam abadi dalam sebuah pertemuan bersejarah di Saqifah Bani Sa'idah. Musyawarah yang dihadiri oleh pemuka kaum Muhajirin dan Ansar tersebut berhasil melahirkan konsensus nasional untuk mendaulat Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu sebagai Khalifah pertama, demi mencegah terjadinya disintegrasi kepemimpinan dan menjaga stabilitas dakwah Islam.

Namun, lembaran emas sejarah Islam ini diputarbalikkan secara radikal menjadi sebuah tragedi konspirasi yang gelap di dalam narasi dogma teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas). Demi melegitimasi doktrin hak ketuhanan atas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, para ideolog Syiah memproduksi pabrikasi kedustaan dan manipulasi sejarah yang sangat keji terkait Peristiwa Saqifah. Mereka menggambarkan pertemuan tersebut bukan sebagai forum musyawarah yang syar'i, melainkan sebagai sebuah ajang makar, kudeta politik, dan pengkhianatan massal yang dilakukan oleh para Sahabat utama demi merebut kekuasaan dari tangan Ahlul Bait.

1. Kedustaan Syiah: Menuduh Saqifah sebagai "Kudeta Terencana"

Propaganda hitam yang terus direproduksi dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah mengklaim bahwa Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah telah lama merencanakan sebuah konspirasi rahasia untuk merebut tampuk kekhalifahan sejak Rasulullah SAW masih hidup. Kaum Syiah menuduh bahwa begitu Nabi SAW wafat, para Sahabat utama ini sengaja mengabaikan proses pengurusan jenazah suci Nabi demi bergegas ke Saqifah Bani Sa'idah untuk melakukan kudeta politik dan membagi-bagi kekuasaan di antara kelompok mereka.

Bantahan Historis dan Logis:

Fakta sejarah yang otentik dan mutawatir secara total meruntuhkan premis konspirasi imajiner versi Syiah ini:

  • Inisiatif Spontan Kaum Ansar: Pertemuan di Saqifah Bani Sa'idah sama sekali tidak diprakarsai oleh Abu Bakar atau Umar. Forum tersebut berkumpul atas inisiatif spontan dari kaum Ansar (suku Khazraj dan Aus) yang dipimpin oleh Sa'ad bin Ubadah. Mereka berkumpul karena kekhawatiran yang logis bahwa wafatnya Nabi akan memicu kekosongan kekuasaan di Madinah yang dapat dimanfaatkan oleh kaum munafik atau musuh luar untuk menghancurkan Islam.

  • Kehadiran yang Tidak Direncanakan: Sayyidina Abu Bakar dan Umar baru mengetahui adanya perkumpulan di Saqifah setelah dilaporkan oleh seorang Sahabat. Mereka bergegas menuju lokasi justru untuk mendampingi kaum Ansar agar keputusan politik yang diambil tidak sepihak dan tidak menimbulkan perpecahan internal antara kaum Muhajirin (penduduk asli Makkah yang hijrah) dan kaum Ansar (penduduk asli Madinah). Pertemuan itu terjadi secara mendadak, cair, dan penuh dengan argumentasi terbuka, jauh dari karakter sebuah kudeta terencana.

2. Membaca Dinamika Saqifah: Dialog Iman, Bukan Syahwat Kekuasaan

Narasi Syiah selalu menggambarkan situasi Saqifah sebagai medan pertempuran yang dipenuhi ambisi ketamakan duniawi. Padahal, jika kita membedah literatur sejarah yang lurus, perdebatan yang terjadi di Saqifah adalah potret keikhlasan mutlak untuk mencari sosok terbaik yang mampu memikul beban dakwah Islam.

Kaum Ansar pada awalnya mengusulkan agar pemimpin dipilih dari kalangan mereka karena merekalah yang telah menolong dan menyediakan tempat bernaung bagi dakwah Nabi. Namun, Sayyidina Abu Bakar dengan penuh hikmah dan kelembutan mengingatkan sebuah realitas sosiologis dan sabda Nabi bahwa kepemimpinan Arab pada masa itu hanya akan disegani dan dipatuhi secara luas jika berada di tangan suku Quraisy (kaum Muhajirin).

Mendengar hujah yang sangat kuat dan logis tersebut, kaum Ansar secara ksatria menerima argumen Abu Bakar. Ketulusan para Sahabat semakin terbukti ketika Abu Bakar menyodorkan dua nama lain, yaitu Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah, seraya berkata: "Pilihlah salah satu dari dua orang ini yang kalian ridhai." Namun, Umar justru menolak dan langsung memegang tangan Abu Bakar seraya berkata: "Engkau adalah orang yang diperintahkan Nabi untuk mengimami salat kami saat beliau sakit, engkau adalah Sahabat terbaik di dalam gua, maka kamulah yang paling berhak!" Umar pun membaiat Abu Bakar, diikuti oleh seluruh Sahabat Ansar dan Muhajirin yang hadir dengan penuh sukacita dan keikhlasan.

3. Kedustaan tentang Sikap Sayyidina Ali terhadap Baiat Saqifah

Untuk melengkapi efek dramatis dari dongeng makar ini, teolog Syiah menciptakan riwayat fiktif yang mengklaim bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib meradang, menolak hasil keputusan Saqifah, dan menganggap kekhalifahan Abu Bakar sebagai kekuasaan tirani yang tidak sah.

Fakta Sikap Nyata Sayyidina Ali:

Memang benar bahwa Sayyidina Ali tidak hadir di Saqifah karena beliau sedang fokus memimpin pengurusan jenazah Rasulullah SAW bersama keluarga dekat. Namun, setelah proses pemakaman selesai dan konsensus Saqifah dibawa ke Masjid Nabawi untuk pembaiatan umum (Bai'at Ammah), Sayyidina Ali bin Abi Thalib ikut hadir dan secara resmi memberikan baiat kesetiaannya kepada Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq.

Di dalam kitab sejarah Sunni maupun pengakuan tidak langsung di kitab Syiah, Sayyidina Ali menegaskan bahwa keterlambatannya memberikan baiat selama beberapa waktu bukan karena ia menolak keabsahan Abu Bakar, melainkan karena ia merasa jengkel tidak dilibatkan dalam musyawarah awal di Saqifah. Setelah kesalahpahaman tersebut diluruskan, Ali berdiri di mimbar dan menyatakan dukungannya secara total. Sepanjang masa pemerintahan Abu Bakar, Ali bertindak sebagai penasihat agung, ikut serta dalam merumuskan strategi Perang Riddah (melawan kaum murtad), dan menerima santunan baitul mal secara normal. Jika Saqifah adalah sebuah kebatilan, mustahil sosok pemberani seperti Ali sudi bersekutu dengan kebatilan tersebut.

4. Prinsip Syura: Bantahan Al-Qur'an terhadap Konsep Teokrasi Syiah

Kesalahan fundamental Syiah dalam memandang Peristiwa Saqifah bersumber dari dogma mereka yang menolak prinsip Syura (musyawarah) dalam menentukan pemimpin duniawi. Mereka bersikeras bahwa pemimpin harus ditunjuk melalui ketetapan langit (Nash Ilahi) berdasarkan garis keturunan biologis, sebuah konsep yang menyerupai sistem monarki absolut.

Konsep teokrasi Syiah ini dibantah secara telak oleh Al-Qur'an al-Karim, di mana Allah SWT menjadikan musyawarah sebagai syariat dan manhaj utama bagi kaum mukminin dalam mengelola urusan publik mereka.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali 'Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarah-lah dengan mereka dalam urusan itu...”

Melalui ayat ini, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bermusyawarah dengan para Sahabat dalam urusan keduniaan dan strategi kemasyarakatan (al-amr). Peristiwa Saqifah adalah aplikasi paling murni dan paling agung dari perintah musyawarah ini. Para Sahabat menjalankan perintah Al-Qur'an secara sempurna, sementara Syiah justru mencela tindakan bermusyawarah tersebut sebagai sebuah dosa dan pengkhianatan.

Kesimpulan: Bahaya Propaganda Penyesatan Saqifah di Indonesia

Kedustaan yang dibangun oleh kelompok Syiah mengenai Peristiwa Saqifah merupakan hulu ledak ideologis yang sangat berbahaya bagi persatuan umat Islam, termasuk di Indonesia. Narasi penyesatan ini disusupkan secara sistematis melalui penulisan novel sejarah melankolis, pementasan teater duka, dan konten-konten digital yang didesain untuk memancing air mata dan emosi umat awam.

Tujuan utama dari propaganda penyesatan Saqifah ini adalah:

  1. Menanamkan Kebencian kepada Khulafaur Rasyidin: Dengan menggambarkan Abu Bakar dan Umar sebagai perampas kekuasaan di Saqifah, Syiah berusaha meruntuhkan rasa cinta dan hormat umat Islam Indonesia kepada para Sahabat mulia tersebut.

  2. Mendelegitimasi Hukum Islam: Ketika legitimasi para Sahabat yang memimpin Saqifah runtuh, maka secara otomatis seluruh kodifikasi hadis, fikih, dan sejarah yang mereka bawa ikut runtuh di mata korban propaganda Syiah.

Umat Islam di Indonesia wajib membentengi diri dengan pemahaman sejarah (Tarikh) yang otentik berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kita harus memahami bahwa Peristiwa Saqifah adalah bukti nyata keberhasilan para Sahabat dalam menyelamatkan bahtera umat Islam dari perpecahan, sebuah konsensus suci yang didasari oleh ketakwaan, ukhuwah, dan kepatuhan terhadap prinsip syura yang diajarkan oleh Al-Qur'an dan Rasulullah SAW.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: