Breaking News
Loading...

Syiah dan Klaim Berlebihan terhadap Para Imam

Syiahindonesia.com – Keberadaan para imam dalam konstelasi pemikiran Islam menempati posisi terhormat sebagai guru, teladan, dan penjaga nilai-nilai syariat. Bagi mayoritas kaum muslimin (Ahlussunnah wal Jama'ah), para tokoh Ahlul Bait seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan, Husain, hingga Ali Zainal Abidin adalah manusia-manusia mulia yang wajib dicintai, dihormati, dan diikuti keteladanannya tanpa harus menaikkan derajat mereka melampaui batas kemanusiaan.

Namun, di dalam tubuh sekte Syi'ah Rafidhah, penghormatan tersebut telah bergeser menjadi bentuk pengultusan yang ekstrem (Ghuluw). Para mullah Syiah telah merumuskan berbagai klaim teologis yang luar biasa berlebihan, yang tidak hanya menyejajarkan para imam dengan para nabi, tetapi dalam banyak aspek justru menempatkan mereka di atas derajat kemanusiaan dan memasuki wilayah hak-hak khusus ketuhanan (Rububiyyah). Artikel ini akan menguliti berbagai bentuk klaim berlebihan tersebut berdasarkan literatur primer mereka sendiri.

1. Klaim Kedudukan di Atas Para Nabi dan Malaikat Jibril

Salah satu bentuk ghuluw yang paling terang-terangan dalam teologi Syiah adalah keyakinan bahwa kedudukan 12 imam mereka jauh lebih tinggi daripada seluruh nabi dan rasul terdahulu (kecuali Nabi Muhammad SAW), serta lebih mulia daripada para malaikat terdekat Allah seperti Jibril dan Mikail.

Doktrin ini ditulis secara gamblang oleh tokoh pemikir besar modern mereka, Ayatullah Khomeini, dalam kitabnya yang sangat terkenal, Al-Hukumah Al-Islamiyyah. Khomeini menyatakan:

"Sesungguhnya di antara perkara yang menjadi aksioma dalam mazhab kami (Syiah) adalah bahwa para imam kami memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat terdekat pun, dan tidak pula oleh nabi yang diutus."

Klaim ini merupakan pelecehan nyata terhadap hierarki ketauhidan yang telah ditetapkan Allah SWT, di mana para nabi ulul azmi (seperti Ibrahim, Musa, dan Isa) yang dipuji di dalam Al-Qur'an diturunkan derajatnya di bawah para imam versi kreasi teologi Syiah.

2. Mengklaim Para Imam Menguasai dan Mengatur Alam Semesta

Dalam akidah Islam yang murni, pengaturan alam semesta—mulai dari hidup, mati, turunnya hujan, hingga pergerakan benda-benda langit—adalah hak mutlak dan kuasa tunggal Allah SWT (Tauhid Rububiyyah). Tidak ada satu pun makhluk yang diberi otoritas untuk ikut campur dalam urusan penciptaan dan pengaturan ini.

Sangat kontras dengan prinsip dasar ini, kitab induk Syiah, Al-Kafi karya Al-Kulaini (kitab paling otoritatif di kalangan mereka), memuat bab khusus yang berjudul: "Bab bahwa bumi ini seluruhnya milik para imam." Di dalam literatur tersebut, mereka meyakini doktrin Wilayah Takwiniyyah, yaitu sebuah keyakinan bahwa seluruh atom di alam semesta ini tunduk di bawah kendali dan kemauan para imam. Menisbatkan pengaturan dan kepemilikan alam semesta kepada manusia, meskipun mereka adalah keturunan Nabi, adalah bentuk penyimpangan akidah yang sangat fatal dan menjurus pada kesyirikan.

3. Klaim Mengetahui Segala Perkara Gaib (Ilmul Ghaib)

Al-Qur'anul Karim secara tegas mengetuk pintu keyakinan kita bahwa urusan gaib adalah milik Allah semata, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali atas izin-Nya yang diberikan secara terbatas kepada para rasul terpilih untuk kepentingan wahyu (QS. Al-Jinn: 26-27). Bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri diperintahkan Allah untuk menyatakan bahwa beliau tidak mengetahui perkara gaib jika tidak diberi wahyu (QS. Al-A'raf: 188).

Namun, misionaris Syiah mendoktrinkan hal yang sebaliknya kepada para pengikutnya. Mereka mengeklaim bahwa para imam mengetahui segala hal yang telah terjadi di masa lalu, apa yang sedang terjadi hari ini, dan apa yang akan terjadi di masa depan secara detail tanpa batas. Masih di dalam kitab Al-Kafi, terdapat bab yang berbunyi: "Bahwa para imam apabila mereka ingin mengetahui sesuatu, maka mereka akan mengetahuinya" dan "Bahwa para imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan mereka tidak mati kecuali atas pilihan mereka sendiri."

4. Legalisasi Hak Legislasi Hukum Mutlak (Tasyri')

Bagi umat Islam, otoritas untuk menghalalkan dan mengharamkan sesuatu (Tasyri') secara mutlak adalah milik Allah SWT, yang kemudian disampaikan dan dijelaskan melalui lisan suci Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah SAW wafat, agama Islam telah dinyatakan sempurna (QS. Al-Ma'idah: 3), sehingga tidak ada lagi ruang bagi manusia siapa pun dia untuk menambah atau mengurangi syariat.

Di pihak lain, sekte Syiah mempercayai bahwa para imam mereka memiliki otoritas Tasyri' yang setara dengan Nabi. Perkataan, tindakan, dan persetujuan para imam diposisikan sebagai sumber hukum primer yang sakral dan sejajar dengan Al-Qur'an. Dampak dari klaim berlebihan ini adalah lahirnya berbagai ritual ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW—seperti ritual menyiksa diri pada hari Asyura, kewajiban membayar upeti satu perlima harta (Khums) kepada para mullah, hingga perubahan lafal azan.

Kesimpulan

Klaim berlebihan atau ghuluw terhadap para imam di dalam akidah Syiah bukan sekadar wujud rasa cinta yang kebablasan, melainkan sebuah rekonstruksi teologis yang berbahaya karena telah mengaburkan batas antara hak-hak khalik (Pencipta) dengan sifat-sifat makhluk (ciptaan). Dengan menobatkan manusia biasa ke derajat maksum yang mengatur alam, mengetahui hal gaib, dan mengubah hukum agama, sekte ini telah keluar jauh dari koridor tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Ahlul Bait yang asli.

Membentengi umat dari propaganda pengultusan tokoh ini adalah tugas krusial. Umat Islam harus terus disadarkan bahwa mencintai keluarga Nabi (Ahlul Bait) yang sesungguhnya adalah dengan menempatkan mereka secara proporsional: sebagai ulama-ulama besar pembela sunnah, bukan sebagai figur spiritual mistis yang disembah atau dijadikan tandingan bagi keagungan Allah SWT.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: