Breaking News
Loading...

Syiah dan Kebiasaan Menyebarkan Isu Perpecahan di Tengah Umat

Syiahindonesia.com – Di dalam menjaga keutuhan masyarakat, persatuan di atas kalimat tauhid dan ukhuwah islamiyah merupakan pilar utama yang terus dirawat oleh umat Islam Ahlussunnah wal Jama'ah. Islam mengajarkan kaum muslimin untuk saling berkasih sayang, merapatkan barisan, dan menghindari segala bentuk perselisihan yang dapat melemahkan kekuatan umat.

Namun, dalam catatan sejarah dan dinamika sosiologis, eksistensi sekte Syi'ah Rafidhah selalu menjadi faktor pemicu keretakan. Di mana pun paham ini berkembang, mereka membawa habit (kebiasaan) menyebarkan isu perpecahan, memelihara luka masa lalu, dan meretakkan sendi-sendi harmoni umat Islam yang telah mapan. Artikel ini akan membedah bagaimana ideologi Syiah secara inheren memproduksi isu-isu polarisasi yang memecah belah kaum muslimin.

1. Merawat Dendam Sejarah sebagai Fondasi Keagamaan

Jika ditarik pada akar teologinya, sekte Syiah tidak berdiri di atas basis hukum yang positif, melainkan di atas narasi "ketertindasan" dan dendam sejarah. Struktur keagamaan mereka sengaja dirancang untuk terus mengungkit perselisihan politik masa lalu—seperti Perang Jamal, Perang Shiffin, dan tragedi Karbala—bukan sebagai pelajaran sejarah, melainkan sebagai bahan bakar doktrin kebencian yang harus diwariskan dari generasi ke generasi.

Setiap tahun, melalui ritual-ritual massal seperti perayaan Asyura, para pengikut Syiah dicekoki dengan khotbah-khotbah histeris yang meratapi kematian Husain bin Ali RA, seraya mengarahkan telunjuk tertuduh kepada mayoritas umat Islam (Ahlussunnah) sebagai representasi dari kelompok penindas. Kebiasaan merawat luka lama ini secara otomatis menutup pintu perdamaian sejati dan terus menyulut api polarisasi di tengah umat.

2. Penyusupan Syubhat Menggunakan Isu Khilafiyah

Di negara-negara dengan mayoritas muslim Sunni seperti Indonesia, para misionaris Syiah kerap menggunakan taktik adu domba sosiologis. Mereka sangat gemar menyusup ke dalam lingkaran perdebatan masalah furu'iyyah (cabang hukum/fikih) yang terjadi di antara sesama ormas atau manhaj Sunni (misalnya perdebatan seputar qunut, tahlilan, atau maulid).

Taktik adu domba ini dimainkan dengan cara yang sangat licik:

  • Mereka mendekati salah satu kelompok Sunni dan mengaku memiliki kesamaan amalan kultural untuk mengambil simpati.

  • Di saat yang sama, mereka memprovokasi kelompok tersebut untuk membenci kelompok Sunni lainnya dengan label-label ekstrem.

  • Ketika sesama komponen Ahlussunnah sibuk berkonflik dan saling melemahkan, kelompok Syiah memanfaatkan momentum tersebut untuk menyebarkan pengaruh mereka tanpa hambatan.

3. Doktrin Saling Mengafirkan (Takfir) yang Ekstrem

Propaganda luar kelompok Syiah sering kali mendengungkan jargon toleransi dan persatuan umat (Taqrib). Namun, jika kita membuka lembaran kitab akidah internal mereka, doktrin asli mereka justru sangat radikal dan eksklusif.

Syiah menetapkan bahwa keimanan seseorang tidak akan sah dan tidak akan diterima oleh Allah SWT jika tidak mengimani silsilah kepemimpinan 12 imam maksum (Imamah). Implikasi dari doktrin ini sangat mengerikan: ratusan juta umat Islam di seluruh dunia yang tidak meyakini konsep teokratis ala Syiah tersebut secara otomatis dicap sebagai kelompok Awam yang tidak memiliki iman sejati, atau bahkan dianggap keluar dari koridor Islam yang murni. Menanamkan pandangan bahwa kelompok mayoritas muslim adalah entitas yang menyimpang secara fundamental merupakan hulu terbesar dari lahirnya perpecahan.

4. Politisasi Geopolitik dan Polarisasi Sosial

Di era modern, gerakan penyebaran paham Syiah tidak bisa dilepaskan dari misi geopolitik global negara pengusungnya (seperti Iran). Mereka mengekspor revolusi ideologis ke berbagai negara muslim melalui pembentukan sel-sel kultural, yayasan, dan organisasi kemasyarakatan.

Ketika sel-sel ini telah menguat, mereka mulai berani menggugat konsensus-konsensus nasional, menyerang otoritas keagamaan resmi setempat (seperti MUI atau lembaga ulama lokal), serta menuntut keistimewaan-keistimewaan komunal yang berpotensi memicu gesekan horizontal. Politisasi agama yang mereka mainkan kerap kali berakhir pada ketegangan sosial di tengah-tengah masyarakat yang awalnya hidup rukun dan damai.

Kesimpulan

Kebiasaan sekte Syiah dalam menyebarkan isu perpecahan di tengah umat bukanlah sebuah kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari doktrin mereka sendiri. Ideologi yang dibangun di atas fondasi pelaknatan terhadap sahabat Nabi, takwil batiniah yang liar, dan pemeliharaan dendam sejarah, mustahil dapat melahirkan kedamaian dan persatuan yang tulus.

Bagi umat Islam di Indonesia, menjaga kewaspadaan terhadap pola-pola provokasi dan infiltrasi syubhat Syiah adalah kebutuhan mutlak. Memperkokoh ukhuwah islamiyah sesama Ahlussunnah wal Jama'ah, fokus pada dakwah tauhid yang substantif, serta berpegang teguh pada tuntunan para ulama otoritatif merupakan cara terbaik untuk mematikan setiap benih perpecahan yang berusaha ditaburkan oleh gerakan Rafidhah di bumi nusantara.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: