Syiahindonesia.com - Hadis atau Sunnah merupakan sumber hukum kedua dalam Islam setelah Al-Qur'an. Bagi umat Islam yang murni (Ahlussunnah wal Jama'ah), sebuah hadis hanya bisa dijadikan sandaran hukum jika memenuhi kriteria kesahihan yang ketat, seperti rantai sanad (transmisi) yang bersambung, para perawi yang adil dan kuat hafalannya (dhabit), serta bersih dari kejanggalan (syadz) maupun cacat tersembunyi ('illat). Kriteria ilmiah inilah yang melahirkan kitab-kitab monumental seperti Kutubus Sittah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan lainnya).
Namun, di dalam ekosistem teologi Syiah (khususnya Syiah Dua Belas Imam atau Rafidhah), fondasi epistemologi hadis ini mengalami penyelewengan yang sangat fatal. Mereka menolak mayoritas hadis yang diriwayatkan oleh para Sahabat Nabi dan menggantinya dengan kitab-kitab hadis buatan para mullah mereka sendiri. Kitab-kitab ini dipenuhi oleh jalur transmisi yang terputus, perawi fiktif, serta narasi yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan akal sehat.
1. Penolakan Massal Terhadap Hadis Sahabat Nabi
Akar dari tidak otentiknya sistem hadis Syiah bermula dari doktrin pengafiran massal yang mereka sematkan kepada para Sahabat Nabi. Karena Syiah meyakini bahwa mayoritas Sahabat telah murtad pasca wafatnya Nabi (karena tidak membaiat Ali), maka secara otomatis mereka menolak seluruh hadis yang ditransmisikan melalui jalur para Sahabat utama.
Dampak Pemboikotan Hadis:
Syiah membuang ratusan ribu hadis sahih yang diriwayatkan oleh figur-figur agung seperti Abu Hurairah, Sayyidah Aisyah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas'ud, dan para sahabat lainnya. Akibatnya, mereka kehilangan mata rantai asli dari ajaran Rasulullah SAW.
Untuk mengisi kekosongan hukum dan teologi akibat pemboikotan ini, para ulama klasik Syiah mulai mempabrikasi riwayat-riwayat baru yang diklaim bersumber dari para Imam Ahlul Bait (terutama Imam Ja'far Ash-Shadiq). Narasi-narasi ini dibuat secara sepihak untuk melegitimasi doktrin-doktrin sektarian mereka, seperti Imamah, Taqiyyah, dan Mut'ah.
2. Mengintip "Kutubul Arba'ah": Empat Kitab Induk Syiah yang Rapuh
Jika umat Islam memiliki kitab-kitab Shahih sebagai standar tertinggi, Syiah memiliki empat kitab rujukan utama yang dikenal dengan istilah Kutubul Arba'ah. Namun, berbanding terbalik dengan namanya, kitab-kitab ini justru menjadi sarang bagi ribuan hadis palsu dan lemah secara metodologis.
Berikut adalah keempat kitab induk Syiah beserta kerancuan di dalamnya:
Al-Kafi karya Al-Kulaini (Wafat 329 H): Ini adalah kitab paling suci di kalangan Syiah, kedudukannya setara dengan Shahih Bukhari bagi mereka. Kitab ini memuat lebih dari 16.000 riwayat. Kontradiksinya, ulama besar Syiah sendiri, seperti Al-Majlisi (penulis Biharul Anwar), melakukan penelitian terhadap isi Al-Kafi dalam kitabnya Mir’at al-Uqul dan menyimpulkan bahwa lebih dari 9.000 riwayat di dalam Al-Kafi berstatus lemah (dhaif) atau palsu. Bagaimana mungkin kitab yang menjadi rukun utama mazhab ternyata dihuni oleh mayoritas hadis cacat?
Man La Yahdhuruhu al-Faqih karya Ibnu Babawayh / Syaikh As-Saduq (Wafat 381 H): Kitab fiqih utama ini memiliki cacat metodologis yang sangat parah di mata ilmu hadis. Syaikh As-Saduq menulis ribuan hadis di dalamnya secara Mursal (memotong rantai sanad langsung meloncat ke Imam), tanpa menyebutkan siapa saja perantara di antara dirinya dan sang Imam. Hadis tanpa sanad yang jelas seperti ini tidak memiliki nilai ilmiah dan tidak bisa dijadikan hujah.
Al-Tahdzib dan Al-Ibtibshar karya Abu Ja'far At-Tusi (Wafat 460 H): Dua kitab terakhir ini disusun oleh At-Tusi untuk mengatasi banyaknya riwayat di internal Syiah yang saling bertabrakan dan kontradiktif satu sama lain. Alih-alih menyaring hadis dengan ketat, At-Tusi justru memasukkan riwayat-riwayat dari para perawi ekstrem (Ghulat) dan penganut sekte lain demi mencocokkan logika hukum yang ia inginkan.
3. Penyimpangan Parameter: Ucapan Imam Setara dengan Sabda Nabi
Penyelewengan epistemologis paling mendasar dalam ilmu hadis Syiah adalah penyetaraan status antara ucapan para Imam 12 dengan sabda Rasulullah SAW. Bagi Syiah, hadis tidak hanya terbatas pada perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW, melainkan juga mencakup seluruh perkataan dan perbuatan para Imam mereka yang diklaim maksum.
Kerancuan Teologis:
Ketika Syiah menganggap ucapan Imam Ja'far atau Imam Baqir sebagai "hadis suci" yang setara dengan wahyu, mereka telah membuka pintu lebar-lebar bagi masuknya dongeng mistis dan tradisi lokal (terutama pengaruh budaya Persia kuno) ke dalam ranah syariat. Akibatnya, banyak hadis dalam literatur Syiah yang tidak memiliki jalur sanad sama sekali ke Rasulullah SAW; sanadnya berhenti di tangan para Imam, namun statusnya diklaim mengikat secara mutlak layaknya firman Allah.
Tabel Komparasi: Otoritas Otentisitas Hadis
Untuk memudahkan pembaca scannable dalam memahami jurang pemisah yang tegas antara ilmu hadis Islam yang ilmiah dengan dogma Syiah, berikut adalah tabel perbandingannya:
Kesimpulan
Penggunaan kitab hadis yang tidak otentik oleh sekte Syiah Rafidhah adalah konsekuensi logis dari rusaknya pondasi akidah mereka. Ketika mereka memutuskan untuk memusuhi para Sahabat—yang notabene merupakan para saksi mata sejarah penurun wahyu—mereka secara otomatis telah memutus jalur komunikasi ilmiah dengan Rasulullah SAW. Kitab-kitab induk seperti Al-Kafi terbukti rapuh secara akademik dan dipenuhi oleh riwayat palsu yang dipabrikasi demi syahwat politik sektarian masa lalu.
Bagi umat Islam di Indonesia, menjaga kemurnian sumber hukum Islam dari infiltrasi hadis-hadis palsu versi Syiah adalah urusan yang sangat mendasar. Kita wajib menyadari bahwa hukum-hukum syariat dan akidah tidak boleh dibangun di atas landasan riwayat yang cacat, tanpa sanad, dan dipenuhi dendam sejarah. Kesucian agama ini hanya bisa dirawat dengan memegang teguh Al-Qur'an dan Sunnah yang otentik, yang dijaga oleh generasi Sahabat dan dibukukan oleh para ulama hadis yang jujur dan tepercaya.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: