Breaking News
Loading...

Benarkah Syiah Menganggap Diri sebagai Satu-satunya yang Benar?

Syiahindonesia.com - Klaim kebenaran tunggal (truth claim) merupakan fenomena yang dapat ditemukan dalam hampir setiap ideologi, agama, maupun sekte keagamaan di dunia. Namun, dalam konteks sekte-sekte yang lahir di dalam Islam, kelompok Syiah Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam) memiliki karakteristik yang sangat unik dan ekstrem dalam memandang keabsahan iman orang-orang di luar kelompok mereka.

Di ruang publik atau forum-forum lintas mazhab, perwakilan Syiah sering kali menampilkan narasi yang inklusif. Mereka kerap mengeklaim bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah hanyalah sebatas perbedaan madrasah fikih yang setara, mirip seperti perbedaan antara Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanafi. Namun, apakah klaim toleran tersebut mencerminkan hakikat teologi mereka yang sesungguhnya? Jika kita merujuk pada kitab-kitab akidah otentik yang ditulis oleh para ulama klasik dan kontemporer mereka, jawabannya adalah: Ya, Syiah menganggap diri mereka sebagai satu-satunya kelompok yang benar, selamat, dan memiliki iman yang sah.

Berikut adalah penelusuran ilmiah mengenai bagaimana teologi Syiah memandang diri mereka sebagai satu-satunya pemilik kebenaran mutlak, dan bagaimana mereka memandang mayoritas umat Islam (Sunni):

1. Konsep Imamah sebagai Batas Antara Iman dan Kafir

Bagi umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), rukun iman yang menjadi penentu keislaman seseorang telah jelas termaktub dalam hadis Jibril, yaitu iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-Kitab, Rasul-Rasul, Hari Akhir, dan Qada-Qadar. Siapa saja yang mengikrarkan dua kalimat syahadat dan meyakini rukun-rukun tersebut, maka ia adalah seorang muslim yang sah darah dan kehormatannya.

Namun, dalam struktur teologi Syiah, mereka menambahkan satu pilar mutlak yang posisinya berada di atas rukun-rukun lainnya, yaitu Imamah (keyakinan terhadap kepemimpinan dua belas imam maksum keturunan Ali bin Abi Thalib). Dalam pandangan Syiah, Imamah bukan sekadar urusan politik atau cabang agama (furu'uddin), melainkan inti dari ushuluddin (pokok akidah).

Dampaknya secara hukum teologis sangat radikal: Barangsiapa yang tidak meyakini kekhalifahan dua belas imam Syiah, maka seluruh amal ibadahnya batal dan status keimanannya gugur. Tokoh besar Syiah, Al-Majlisi, dalam kitabnya Bihar al-Anwar, menegaskan konsensus (ijma') ulama Syiah bahwa orang yang mengingkari salah satu dari imam-imam mereka statusnya sama dengan orang yang mengingkari seluruh nabi, alias berada di luar benteng keimanan yang sejati.

2. Status Kaum Sunni dalam Pandangan Teologi Syiah

Karena Syiah menganggap kelompoknya sebagai satu-satunya pemegang kebenaran, muncul pertanyaan: Bagaimana status mayoritas umat Islam (Sunni) di mata mereka?

Dalam literatur internal Syiah, kaum Sunni sering disebut dengan istilah Al-Ammah (kaum awam/massa) atau An-Nawasib (orang-orang yang memusuhi Ahlul Bait—meski secara faktual Sunni sangat mencintai Ahlul Bait). Secara hukum fikih duniawi, demi kemaslahatan taktis dan menjalankan doktrin Taqiyah (kamuflase), kelompok Syiah modern umumnya bersedia menganggap kaum Sunni sebagai "muslim" secara lahiriah—artinya mereka boleh dinikahi secara formal atau disalati jenazahnya.

Namun, secara hukum ukhrawi (akhiat), para ulama rujukan Syiah sepakat bahwa kaum Sunni tidak akan mencium bau surga selama mereka tetap berada di atas mazhabnya. Ulama besar Syiah, Syekh Al-Mufid, secara tegas menulis dalam kitabnya Al-Awa'il al-Maqalat:

"Kaum Imamiyyah (Syiah) sepakat bahwa barangsiapa yang mengingkari imamah salah seorang dari para imam, dan mengingkari kewajiban ketaatan yang digariskan Allah kepadanya, maka dia adalah seorang yang sesat, kafir, dan berhak kekal di dalam neraka."

3. Klaim Eksklusivitas sebagai Al-Firqah An-Najiyah (Golongan yang Selamat)

Umat Islam tentu akrab dengan hadis nabi mengenai perpecahan umat menjadi 73 golongan, di mana hanya ada satu golongan yang selamat (Al-Firqah An-Najiyah). Dalam metodologi Sunni, golongan yang selamat adalah mereka yang menetapi apa yang dijalani oleh Nabi SAW dan para Sahabatnya (Ma Ana 'Alaihi wa Ashhabi).

Secara sepihak, kelompok Syiah mengeklaim bahwa merekalah satu-satunya faksi yang dimaksud oleh hadis tersebut. Mereka mereduksi makna keselamatan hanya bagi orang-orang yang mengambil agama dari jalur periwayatan dua belas imam versi mereka.

Melalui doktrin ini, mereka menolak seluruh khazanah keilmuan Islam yang dibangun oleh para ulama besar lintas abad—mulai dari para penyusun kitab hadis seperti Imam Bukhari dan Muslim, hingga para imam mazhab fikih seperti Imam Syafi'i, Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad bin Hanbal. Di mata teologi Syiah, warisan intelektual dunia Islam yang agung tersebut dianggap sebagai kesesatan karena tidak distempel oleh restu keimaman versi mereka.

4. Manipulasi Publik Melalui Taqiyah dan Wajah Ganda

Jika teologi mereka begitu eksklusif dan mengafirkan pihak luar, mengapa di Indonesia para tokoh Syiah sering kali menyuarakan jargon-jargon persatuan umat (Ukhuwah Islamiyah) dan toleransi?

Di sinilah letak peran vital doktrin Taqiyah (menyembunyikan keyakinan asli demi keselamatan atau kemaslahatan mazhab). Para misionaris Syiah sangat sadar bahwa jika mereka secara jujur mendengungkan akidah aslinya di hadapan mayoritas Muslim Indonesia, mereka akan langsung dikucilkan dan ditolak secara total.

Oleh sebab itu, klaim "menghargai perbedaan" dan "menyederhanakan konflik Sunni-Syiah" hanyalah strategi defensif jangka pendek. Topeng inklusif ini digunakan untuk meredam kewaspadaan umat Islam awam, merembes masuk ke dalam institusi-institusi keagamaan, dan secara perlahan menyebarkan pengaruh ideologi mereka hingga posisi mereka cukup kuat untuk menunjukkan wajah aslinya.

Kesimpulan

Benarkah Syiah menganggap diri mereka sebagai satu-satunya yang benar? Jawabannya didukung oleh ribuan teks di dalam kitab induk mereka sendiri. Di balik retorika manis tentang persatuan dan kebersamaan di panggung-panggung publik, teologi Syiah Itsna Asyariyyah pada hakikatnya berdiri di atas pondasi eksklusivisme radikal yang mengafirkan dan menyesatkan siapa saja yang berada di luar garis komando dua belas imam mereka.

Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, realitas teologis ini harus disikapi dengan kecerdasan literasi yang tinggi. Kita tidak boleh mudah terpedaya oleh jargon-jargon toleransi semu yang diproduksi lewat jalur Taqiyah. Memahami akidah asli mereka secara objektif berdasarkan kitab rujukan utamanya adalah benteng terpenting untuk menjaga kemurnian iman, serta melindungi stabilitas kehidupan beragama di bumi Nusantara dari infiltrasi ideologi yang gemar mengafirkan generasi awal Islam.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: