Breaking News
Loading...

Syiah dan Fitnah terhadap Para Khulafaur Rasyidin

Syiahindonesia.com - Kedudukan para Khulafaur Rasyidin—Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhum—merupakan pilar-pilar utama penegak peradaban Islam pasca-wafatnya Rasulullah ﷺ. Mereka adalah murid-murid langsung madrasah kenabian yang telah mengorbankan jiwa, harta, dan keluarga demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi. Di bawah kepemimpinan mereka, wilayah Islam meluas, keadilan ditegakkan, dan kodifikasi Al-Qur'an diselesaikan. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) sepakat menempatkan para khalifah rasyidin ini pada kedudukan yang paling mulia setelah para Nabi dan Rasul.

Namun, di dalam konseptual teologi sekte Syiah, terutama Syiah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam), tiga khalifah pertama—Abu Bakar, Umar, dan Utsman—tidak dipandang sebagai pemimpin yang adil, melainkan sebagai objek fitnah, caci maki, dan pengafiran. Demi mempertahankan dogma Imamah (bahwa kepemimpinan harus berada di tangan keturunan Ali secara mutlak berdasarkan mandat ilahi), para rabi Syiah menciptakan ribuan narasi fiktif yang memfitnah para sahabat agung tersebut. Fitnah-fitnah keji ini terus diproduksi dan disebarkan ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke tengah-tengah umat Islam di Indonesia, sebagai strategi meruntuhkan keyakinan Sunni dari akarnya.

1. Fitnah Syiah Terhadap Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq r.a.

Sayyidina Abu Bakar r.a. adalah sahabat paling utama yang menemani Rasulullah ﷺ di dalam gua saat hijrah, dan merupakan sosok yang paling dicintai oleh beliau. Namun, di dalam kitab-kitab babon Syiah, beliau kerap difitnah dengan tuduhan yang sangat kejam.

A. Tuduhan Perampasan Khilafah

  • Klaim Distorsif Syiah: Misionaris Syiah menuduh bahwa Abu Bakar r.a. melakukan makar politik di Tsaqifah Bani Saidah untuk merebut kekuasaan yang seharusnya menjadi hak Ali bin Abi Thalib r.a. Mereka mengeklaim bahwa baiat kepada Abu Bakar adalah tindakan ilegal dan bentuk pembangkangan terhadap perintah Nabi ﷺ.

  • Fakta Sejarah yang Benar: Pemilihan Abu Bakar r.a. berlangsung secara demokratis melalui musyawarah mufakat antara kaum Muhajirin dan Anshar. Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. sendiri pada akhirnya membaiat Abu Bakar dengan sukarela dan menjadi penasihat utama beliau selama masa kekhalifahannya. Hubungan keduanya sangat erat, bahkan Ali r.a. menamai salah seorang putranya dengan nama Abu Bakar—sebuah fakta sejarah yang selalu disembunyikan oleh Syiah dari para pengikutnya.

B. Fitnah Perampasan Tanah Fadak

  • Klaim Distorsif Syiah: Abu Bakar difitnah telah menzalimi Sayyidah Fatimah r.a. dengan merebut tanah Fadak (tanah milik Nabi ﷺ) dari tangan beliau pasca-wafatnya Rasulullah ﷺ.

  • Fakta Sejarah yang Benar: Abu Bakar r.a. hanya menjalankan sabda Rasulullah ﷺ yang berbunyi:

لَانُورَثُ،مَاتَرَكْنَاصَدَقَةٌ

"Kami (para Nabi) tidaklah diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah." (HR. Bukhari no. 3093 dan Muslim no. 1759).

Abu Bakar tidak mengambil tanah tersebut untuk kepentingan pribadinya, melainkan mengelolanya untuk kepentingan umat Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ semasa hidup. Bahkan, ketika Sayyidina Ali r.a. menjadi Khalifah ke-4, beliau tetap mempertahankan kebijakan Abu Bakar tersebut dan tidak mengubah status tanah Fadak menjadi harta warisan keluarga.

2. Fitnah Syiah Terhadap Sayyidina Umar bin Khattab r.a.

Sayyidina Umar bin Khattab r.a. adalah sosok Al-Faruq (pembeda antara kebenaran dan kebatilan) yang ditakuti oleh setan. Di masa beliaulah imperium besar Persia (yang menjadi cikal bakal bangsa Iran) berhasil ditaklukkan oleh pasukan Islam. Akibat dendam sejarah atas runtuhnya imperium tersebut, Syiah menumpahkan kebencian paling ekstrem kepada Umar r.a.

A. Fitnah Penyerangan Rumah Fatimah r.a.

Seperti yang telah dibahas pada bagian sejarah, Syiah memabrikasi dongeng bahwa Umar mendobrak pintu rumah Fatimah hingga menyebabkan keguguran janinnya yang bernama Muhsin. Ini adalah fitnah yang menodai kehormatan keluarga Ahlul Bait dan merendahkan keberanian Sayyidina Ali r.a. yang digambarkan diam saja melihat istrinya dianiaya.

B. Pengagungan Terhadap Pembunuh Umar r.a.

Kebencian Syiah terhadap Umar r.a. sangat tampak dari bagaimana mereka memuliakan Abu Lu'lu'ah Al-Majusi, seorang budak penyembah api (Majusi) asal Persia yang menikam Umar r.a. saat mengimami shalat subuh. Di Iran, Abu Lu'lu'ah digelari sebagai "Baba Syuja'uddin" (Bapak Pemberani Pembela Agama) dan kuburannya dibangun dengan megah layaknya tempat suci untuk diziarahi. Ini adalah bukti nyata bahwa ideologi Syiah lebih berpihak kepada seorang Majusi pembunuh daripada seorang Amirul Mukminin yang sah.

3. Fitnah Syiah Terhadap Sayyidina Utsman bin Affan r.a.

Sayyidina Utsman bin Affan r.a. adalah pemilik dua cahaya (Dzun Nurain) karena menikahi dua putri Rasulullah ﷺ. Beliau adalah sosok yang sangat pemalu hingga malaikat pun malu kepadanya.

  • Klaim Distorsif Syiah: Syiah menuduh Utsman r.a. sebagai khalifah yang korup, melakukan nepotisme massal dengan hanya mengangkat pejabat dari kalangan dinasti Umayyah, serta mengubah-ubah hukum Allah demi kepentingan syahwat politik keluarganya.

  • Fakta Sejarah yang Benar: Pengangkatan pejabat di masa Utsman didasarkan pada kapabilitas dan kemaslahatan dakwah pada masa itu. Utsman adalah seorang miliarder yang dermawan, yang justru menyedekahkan seluruh harta pribadinya untuk membiayai sumur kaum muslimin dan memperluas Masjid Nabawi. Tuduhan-tuduhan keji terhadap Utsman ini sebenarnya merupakan replika dari syubhat yang dahulu diembuskan oleh Abdullah bin Saba' (seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam), tokoh yang memprovokasi pemberontakan hingga menyebabkan terbunuhnya Utsman r.a. dalam keadaan syahid sedang membaca Al-Qur'an.

4. Matriks Distorsi Syiah terhadap Khulafaur Rasyidin

Untuk mempermudah pemetaan syubhat, berikut adalah matriks taktik fitnah yang digunakan oleh teolog Syiah terhadap para Khulafaur Rasyidin:

Figur KhalifahNarasi Fitnah ala SyiahDoktrin Pengafiran dalam Kitab Syiah
Abu Bakar As-Siddiq r.a.Perampas takhta Ali r.a. dan penzalim Sayyidah Fatimah r.a.Dianggap sebagai berhala Quraisy yang wajib dilaknat dalam doa-doa ritual Syiah.
Umar bin Khattab r.a.Pembunuh janin Muhsin, perubah syariat nabi, dan penghancur dinasti Persia.Dianggap sebagai musuh nomor satu, dan hari kematiannya dirayakan sebagai hari raya kegembiraan.
Utsman bin Affan r.a.Pemimpin nepotis yang lemah dan memanipulasi teks-teks Al-Qur'an.Dinilai telah keluar dari garis keimanan karena dianggap tidak berhukum dengan hukum Allah.

5. Kedustaan Syiah Atas Nama Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.

Siasat paling licik dari sekte Syiah adalah mereka mengeklaim sangat mencintai Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a., namun di saat yang sama mereka memfitnah karakter Ali secara tidak langsung. Dengan menggambarkan bahwa tiga khalifah sebelum Ali adalah para perampas dan penjahat, Syiah secara logis menuduh bahwa Sayyidina Ali r.a. adalah seorang penakut dan munafik karena mau berbaiat, hidup berdampingan, bahkan menjadi penasihat bagi orang-orang yang mereka cap kafir tersebut.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah membersihkan nama Sayyidina Ali r.a. dari penghinaan terselubung ini. Ali r.a. adalah seorang kesatria yang jujur. Beliau membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman karena beliau meyakini kesalehan dan keutamaan mereka. Persaudaraan di antara para Khulafaur Rasyidin ini diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur'an Surah Al-Hijr ayat 47:

وَنَزَعْنَامَافِيصُدُورِهِمْمِنْغِلٍّإِخْوَانًاعَلَىٰسُرُرٍمُتَقَابِلِينَ

"Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan."

Kesimpulan

Fitnah sekte Syiah terhadap para Khulafaur Rasyidin bukan sekadar masalah sentimen sejarah, melainkan sebuah agenda teologis terstruktur untuk meruntuhkan kredibilitas generasi terbaik Islam. Ketika umat Islam—khususnya di Indonesia—mulai terpengaruh oleh fitnah-fitnah ini dan meragukan integritas moral Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka legitimasi hukum-hukum Islam yang diwariskan melalui jalur kekhalifahan mereka akan ikut hancur.

Membentengi umat dari bahaya laten Syiah harus dilakukan dengan cara menanamkan kembali rasa cinta dan takzim kepada seluruh Khulafaur Rasyidin secara adil dan proporsional. Menolak segala bentuk distorsi sejarah dan narasi penuh kebencian yang dibawa oleh misionaris Syiah adalah wujud nyata dari upaya menjaga kemurnian akidah Islam dan kehormatan para sahabat yang telah diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: