Syiahindonesia.com - Keridhaan Allah SWT (Ridha Allah) adalah puncak pencapaian spiritual tertinggi bagi setiap hamba yang beriman. Di dalam Al-Qur'an, Allah menggambarkan bahwa keridhaan-Nya merupakan nikmat yang jauh lebih besar daripada surga itu sendiri, sebagaimana firman-Nya: “...Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar” (QS. At-Tubah: 72). Dalam konsep Islam yang murni, keridhaan Allah diraih melalui pemurnian tauhid, ketakwaan, keikhlasan amal, serta ittiba' (mengikuti) sunnah Rasulullah SAW secara kaffah.
Namun, di dalam teologi Syiah (khususnya Rafidhah), pemahaman terhadap konsep agung ini mengalami pembelokan dan reduksi yang sangat radikal. Mereka mengikat dan menyandera konsep ridha Allah pada variabel-variabel buatan manusia yang sarat akan syubhat dan kultus individu. Artikel ini akan membedah secara ilmiah kesesatan teologis sekte Syiah dalam memahami dan menempatkan konsep Ridha Allah.
1. Menyandera Ridha Allah pada Ridha Para Imam
Salah satu kesalahan paling fatal dalam teologi Syiah adalah doktrin bahwa keridhaan Allah SWT tidak akan pernah bisa dicapai secara langsung oleh seorang hamba, melainkan sepenuhnya bergantung dan disandera oleh keridhaan para imam mereka.
Dalam berbagai literatur utama Syiah, mereka membangun keyakinan bahwa:
Para imam adalah perantara mutlak (wasilah) yang menentukan diterima atau ditolaknya amal ibadah seseorang.
Kemarahan imam adalah kemarahan Allah, dan ridha imam adalah ridha Allah secara mutlak, dalam artian personifikasi makhluk yang setara dengan pencipta.
Meskipun dalam Islam kita mengenal bahwa ridha orang tua adalah jalan menuju ridha Allah, hal itu berada dalam koridor hubungan sosial kemanusiaan yang dibatasi oleh ketaatan syariat (tidak boleh taat dalam maksiat). Sebaliknya, dalam Syiah, penyanderaan ridha Allah pada figur 12 imam diletakkan pada level akidah mutlak yang bersifat supranatural. Hal ini merusak hubungan langsung (direct connection) antara seorang hamba dengan Rabb-nya, serta memaksa umat untuk mengkultuskan manusia agar mendapatkan keselamatan di akhirat.
2. Mengaitkan Ridha Allah dengan Kebencian, Dendam, dan Laknat
Dalam konsep Islam, Ridha Allah dibangun di atas cinta karena Allah (Al-Hubb fillah) dan benci karena Allah (Al-Bugdh fillah) yang proporsional. Cinta terbesar diarahkan kepada Allah, Rasul-Nya, para Sahabat yang memperjuangkan Islam, serta seluruh mukminin.
Sebaliknya, dalam teologi Syiah, konsep meraih ridha Allah justru dirusak dengan kewajiban doktrinal untuk memelihara dendam sejarah dan melaknat mayoritas Sahabat Nabi serta istri-istri beliau (terutama Sayyidah Aisyah dan Sayyidah Hafshah). Doktrin ini dikenal dengan istilah Tabarra' (berlepas diri dan memusuhi para musuh Ahlul Bait—yang dalam definisi mereka mencakup Abu Bakar, Umar, Utsman, dan mayoritas Sahabat).
Paradoks Kebencian Syiah:
Mereka meyakini bahwa seseorang tidak akan mendapatkan keridhaan Allah dan syafaat di akhirat jika lisan dan hatinya bersih dari melaknat para Sahabat agung.
Ibadah ritual seperti shalat, puasa, dan haji dianggap tidak bernilai di hadapan Allah jika pelakunya tidak mengutuk generasi terbaik Islam.
Ini adalah penyimpangan konsep yang sangat mengerikan. Bagaimana mungkin keridhaan Allah—Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang—diklaim hanya bisa diraih dengan cara mengotori lisan melalui caci maki, meratapi kematian masa lalu secara ekstrem, dan memelihara dendam kesumat yang merobek persaudaraan sesama Muslim?
3. Ridha Palsu Melalui Doktrin Taqiyyah (Kemunafikan yang Diridhai)
Kesesatan berpikir berikutnya dalam memahami ridha Allah di tubuh sekte Syiah tercermin dalam doktrin Taqiyyah (kepura-puraan/berbohong demi menyembunyikan akidah asli).
Dalam kitab rujukan utama mereka, Al-Kafi (Jilid 2, Halaman 217), dinisbatkan riwayat palsu kepada Imam Ja'far Ash-Shadiq bahwa beliau berkata:
“Taqiyyah adalah bagian dari agamaku dan agama nenek moyangku, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki taqiyyah.”
Berdasarkan doktrin ini, kaum Syiah meyakini bahwa berbohong, memanipulasi kebenaran, dan menampakkan wajah manis di hadapan umat Islam Sunni sembari menyembunyikan kebencian di dalam hati adalah ibadah agung yang mendatangkan pahala besar dan diridhai oleh Allah.
Hal ini sangat kontradiktif dengan konsep akhlak dalam Islam. Allah SWT secara tegas melaknat sifat kemunafikan (nifaq) dan memuji sifat jujur (shidiq). Menjadikan dusta dan manipulasi sebagai instrumen ibadah untuk mencari ridha Allah adalah bentuk pelecehan nyata terhadap kesucian syariat Islam yang dibangun di atas pondasi kejujuran dan ketulusan.
Tabel Komparasi: Konsep Ridha Allah dalam Islam vs Teologi Syiah
Untuk memudahkan dalam melihat batasan yang tegas dan scannable, berikut adalah tabel analisis perbandingannya:
4. Bantahan Al-Qur'an: Allah Telah Ridha kepada Para Sahabat
Sekte Syiah mengeklaim bahwa jalan untuk meraih ridha Allah adalah dengan memusuhi para Sahabat Nabi. Klaim sepihak ini dihantam secara telak oleh wahyu Allah di dalam Al-Qur'an. Allah SWT secara eksplisit, tegas, dan abadi telah mengumumkan keridhaan-Nya kepada generasi Sahabat, khususnya para peserta Bai'atur Ridhwan:
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon...” (QS. Al-Fath: 18).
Allah juga menegaskan keridhaan-Nya yang bersifat timbal balik kepada kaum Muhajirin dan Anshar dalam Surah At-Taubah ayat 100:
“...Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah...” (QS. At-Taubah: 100).
Ketika Al-Qur'an mengumumkan bahwa Allah telah ridha kepada para Sahabat Nabi, lalu sekte Syiah datang dan mengeklaim bahwa untuk mendapatkan ridha Allah kita harus melaknat dan memusuhi para Sahabat tersebut, maka secara tidak langsung Syiah telah menentang keputusan Allah SWT. Ini adalah kesesatan teologis yang luar biasa nyata. Mereka memposisikan standar keridhaan kelompok mereka di atas ketetapan hukum yang telah digariskan oleh Allah dari atas langit yang tujuh.
Kesimpulan
Kesalahan fatal sekte Syiah dalam memahami konsep ridha Allah bersumber dari rusaknya pondasi tauhid dan masuknya virus ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap makhluk. Dengan menyandera ridha Allah pada figur-figur imam, menghalalkan kedustaan berkedok ibadah (Taqiyyah), serta mengaitkan kesucian jiwa dengan tradisi melaknat Sahabat yang telah diridhai Allah, Syiah telah menciptakan "agama baru" yang menyimpang dari esensi Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Bagi umat Islam di Indonesia, menjaga kemurnian pemahaman tentang cara meraih ridha Allah adalah hal yang mutlak. Kita wajib meyakini bahwa ridha Allah diraih dengan mentauhidkan-Nya secara murni, mencintai seluruh keluarga dan Sahabat Nabi tanpa tebang pilih, serta menghiasi diri dengan kejujuran batin, jauh dari noda kebencian sektarian yang ditebarkan oleh sekte Rafidhah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: