Breaking News
Loading...

Syiah dan Kesalahan dalam Memahami Konsep Sunnah Nabi

Syiahindonesia.com - Di dalam fondasi epistimologi Islam, istilah Sunnah memiliki kedudukan yang sangat sakral. Secara konsensus ulama, Sunnah didefinisikan sebagai segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah SAW—baik berupa perkataan (qauliyah), perbuatan (fi'liyah), maupun ketetapan (taqririyah)—yang berfungsi sebagai penjelas dan pelengkap Al-Qur'an. Kedudukan ini bersifat eksklusif hanya bagi Nabi Muhammad SAW selaku utusan Allah yang menerima wahyu dan dijamin kemaksumannya ('ishmah).

Namun, konsep mendasar ini mengalami distorsi dan penyempitan makna yang sangat radikal di dalam teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam). Kaum Syiah tidak membatasi Sunnah hanya pada figur pribadi Rasulullah SAW. Demi melegitimasi doktrin kepemimpinan absolut imam mereka, teologi Syiah memperluas definisi Sunnah hingga mencakup seluruh perkataan dan perbuatan dari dua belas imam mereka, serta memosisikan kata-kata para imam setara dengan sabda Nabi dan wahyu Ilahi.

Berikut adalah beberapa poin kritis mengenai kesalahan fatal kelompok Syiah dalam memahami dan mengonseptualisasikan Sunnah Nabi:

1. Perluasan Makna Sunnah: Memosisikan Perkataan Imam Setara dengan Sabda Nabi

Kesalahan paling mendasar dalam metodologi Syiah adalah pencampuran antara posisi Nabi dan posisi Imam. Dalam kitab-kitab ushul fiqih Syiah, definisi Sunnah ditulis secara terang-terangan sebagai: "Segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan dari orang yang maksum (Nabi dan para Imam)."

Bagi mereka, ketika seorang imam berbicara, status hukum ucapan tersebut sama persis dengan hadis Nabi yang keluar langsung dari lisan Rasulullah SAW. Implikasinya, otoritas pembuat syariat (Syaari') yang di dalam Islam sesungguhnya telah selesai dan terputus seiring dengan wafatnya Rasulullah SAW, justru terus berlanjut di tangan para imam Syiah selama ratusan tahun berikutnya. Hal ini secara tidak langsung merupakan pengingkaran terhadap kesempurnaan agama yang telah dinyatakan Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Ma'idah ayat 3.

2. Doktrin 'Ishmah (Kemaksuman) Imam yang Overdosis

Akar dari pemosisian kata-kata imam sebagai Sunnah adalah keyakinan ekstrem (ghuluw) kaum Syiah terhadap sifat 'Ishmah (kemaksuman) para imam mereka. Syiah mendoktrinkan bahwa dua belas imam mereka bersih dari segala bentuk dosa, kesalahan, lupa, bahkan kekeliruan kecil sejak lahir hingga wafat.

Konsep kemaksuman versi Syiah ini bahkan melampaui konsep kemaksuman para Nabi dalam pandangan Sunni. Di dalam kitab Al-Hukumah al-Islamiyyah, tokoh besar Syiah modern, Khomeini, menuliskan pernyataan yang sangat berani:

“Sesungguhnya para Imam kita memiliki kedudukan yang tidak dicapai oleh malaikat yang paling dekat (kepada Allah) dan tidak pula oleh Nabi yang diutus.”

Ketika figur manusia biasa diangkat derajatnya hingga melampaui para Nabi, maka secara otomatis seluruh tindakan, ucapan, bahkan diamnya sang imam akan dipandang sebagai sumber syariat baru. Ini adalah sebuah kekeliruan berpikir yang merusak hierarki otoritas agama dalam Islam.

3. Penyempitan Jalur Transmisi Sunnah: Menolak Mayoritas Umat Islam

Ironisnya, di satu sisi Syiah memperluas makna Sunnah dengan memasukkan perkataan para imam, namun di sisi lain mereka justru melakukan penyempitan yang sangat ekstrem terhadap jalur periwayatan Sunnah yang asli dari Nabi SAW.

Bagi Syiah, Sunnah Nabi yang valid hanyalah riwayat yang ditransmisikan melalui jalur keluarga Nabi (Ahlul Bait) versi penafsiran mereka sendiri. Mereka menolak mentah-mentah jutaan hadis yang diriwayatkan melalui jalur mayoritas Sahabat Nabi, para tabi'in, dan para ulama pakar hadis yang tidak bermazhab Syiah.

Akibat dari isolasi sektarian ini, kaum Syiah kehilangan mata rantai Sunnah Nabi yang sesungguhnya. Mereka menolak sunnah-sunnah praktis harian yang dicontohkan Nabi di hadapan ribuan sahabatnya, dan menggantinya dengan narasi-narasi buatan yang diklaim didapatkan secara rahasia dari imam ke imam.

4. Inkonsistensi Internal: Sunnah yang Berubah Akibat Doktrin Bada'

Salah satu dampak paling merusak dari penyetaraan ucapan imam dengan Sunnah Nabi adalah munculnya kontradiksi hukum yang luar biasa di dalam kitab-kitab mereka. Karena perkataan para imam dianggap sebagai syariat, maka ketika ditemukan perkataan antar-imam yang saling bertabrakan atau prediksi masa depan seorang imam yang meleset, teolog Syiah terpaksa memformulasikan doktrin Bada'.

Bada' adalah keyakinan bahwa Allah bisa mengubah keputusan atau kehendak-Nya yang telah lalu setelah melihat adanya perkembangan baru. Di dalam ranah hukum, doktrin ini digunakan oleh para imam Syiah (atau para pembuat riwayat palsu yang mengatasnamakan mereka) untuk meralat ucapan atau fatwa hukum sebelumnya. Akibatnya, konsep "Sunnah" di dalam dunia Syiah menjadi sesuatu yang tidak konsisten, cair, dan bisa berubah-ubah tergantung pada situasi politik dan kepentingan sekte pada zamannya.

Kesimpulan

Kesalahan kelompok Syiah dalam memahami konsep Sunnah Nabi bersumber dari nafsu politik untuk menegakkan doktrin Imamah. Demi menjadikan para pemimpin mereka sebagai figur penguasa mutlak yang tidak boleh didebat, mereka nekat membajak istilah Sunnah dan memperluasnya ke luar batasan pribadi Rasulullah SAW.

Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Sunnah adalah warisan suci yang telah final, dijaga melalui metodologi kritik sanad yang ketat, dan bersumber murni hanya dari Nabi Muhammad SAW yang dipraktikkan secara terbuka oleh para Sahabatnya. Membentengi pemahaman umat dari pengaburan makna Sunnah versi Syiah adalah kewajiban ilmiah demi menjaga kemurnian wahyu dan keutuhan syariat Islam dari tangan-tangan para pembuat bid'ah teologis.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: