Syiahindonesia.com - Di dalam konsep teologi Syiah Dua Belas Imam (Rafidhah), doktrin Ismah (kemaksuman) merupakan pilar yang sangat vital. Mereka meyakini bahwa dua belas imam mereka memiliki sifat maksum—yaitu suci secara mutlak dari segala bentuk dosa besar, dosa kecil, kelalaian, kesalahan, bahkan lupa (sahw), terhitung sejak mereka lahir hingga wafat. Kedudukan ini diletakkan sejajar, bahkan dalam beberapa literatur ekstrem mereka, melampaui derajat kemaksuman para Nabi dan Rasul.
Namun, apabila doktrin ini dibedah secara kritis dan ilmiah, akan ditemukan berbagai kontradiksi logis dan teologis yang sangat tajam. Konsep maksum versi Syiah ini tidak hanya bertabrakan dengan realitas sejarah tindakan para imam itu sendiri, tetapi juga runtuh ketika dihadapkan pada teks-teks Al-Qur'an dan kitab-kitab rujukan utama mereka sendiri.
1. Kontradiksi Sikap Politik: Bai'at Ali dan Perdamaian Hasan
Kontradiksi paling nyata dari doktrin Ismah ini muncul ketika kita membenturkannya dengan keputusan-keputusan politik krusial yang diambil oleh para imam yang mereka klaim maksum.
Dilema Bai'at Sayyidina Ali kepada Tiga Khalifah
Syiah meyakini bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah para perampas hak kekhalifahan Ali yang sah, bahkan dianggap sebagai thaghut. Namun, fakta sejarah mencatat bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA akhirnya berbai'at (menyatakan setia) dan membantu pemerintahan ketiga khalifah tersebut.
Jika Ali adalah seorang imam yang maksum (tidak mungkin salah dan memiliki keberanian mutlak), maka tindakan berbai'at kepada pihak yang dianggap "zalim" melahirkan dua konsekuensi logis yang merusak doktrin Syiah sendiri:
Jika Ali berbai'at karena itu adalah tindakan yang benar, maka klaim Syiah bahwa tiga khalifah sebelumnya adalah perampas kekuasaan adalah batil.
Jika Ali berbai'at karena takut atau sekadar berpura-pura (Taqiyyah), maka sifat maksum dan keberanian luar biasa yang diklaim ada pada diri seorang imam runtuh seketika, karena ia dianggap berkompromi dengan kebatilan.
Perdamaian Sayyidina Hasan dengan Mu'awiyah
Pada tahun yang dikenal sebagai Amul Jama'ah (Tahun Persatuan), Sayyidina Hasan bin Ali RA secara sukarela menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada Sayyidina Mu'awiyah bin Abi Sufyan demi mencegah pertumpahan darah di antara umat Islam.
Bagi teologi Syiah yang memandang Mu'awiyah sebagai musuh utama, keputusan Hasan ini adalah sebuah kontradiksi besar. Bagaimana mungkin seorang imam yang maksum dan dibimbing langsung oleh langit menyerahkan kepemimpinan spiritual dan fisik umat Islam kepada orang yang mereka anggap tidak layak? Keputusan Hasan membuktikan bahwa kepemimpinan politik bukanlah perkara teologis yang bersifat dogmatis-maksum, melainkan ijtihad politik demi kemaslahatan umat.
2. Kontradiksi Teologis: Melampaui Batas Kemanusiaan Para Nabi
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menegaskan bahwa para Nabi dan Rasul—manusia terbaik pilihan Allah—pun tidak luput dari sifat kemanusiaan seperti lupa, keliru dalam ijtihad non-wahyu, atau ditegur langsung oleh Allah SWT.
Nabi Adam AS melakukan kekhilafan dengan mendekati pohon terlarang (QS. Thaha: 121).
Nabi Yunus AS meninggalkan kaumnya sebelum ada perintah (QS. Al-Anbya: 87).
Nabi Muhammad SAW pernah ditegur Allah karena bermuka masam (Surah Abasa) dan ketika mengharamkan apa yang dihalalkan Allah demi menyenangkan hati istrinya (Surah At-Tahrim).
Anehnya, teologi Syiah mengeklaim bahwa para imam mereka bersih dari segala bentuk sifat kemanusiaan ini. Para imam diklaim tidak pernah lupa, tidak pernah keliru, dan selalu mengetahui kapan mereka akan wafat. Pengkultusan ini memicu kontradiksi teologis yang sangat parah: Bagaimana mungkin kedudukan seorang imam (yang bukan penerima wahyu baru) bisa lebih tinggi, lebih sempurna, dan lebih suci daripada para Nabi pengemban risalah Ilahi?
3. Kontradiksi Internal dalam Literatur Klasik Syiah
Jika kita menelusuri kitab-kitab hadis dan doa resmi Syiah, kita akan menemukan teks-teks di mana para imam itu sendiri mengakui keterbatasan mereka, memohon ampunan atas dosa-dosa mereka, dan menolak dikultuskan secara berlebihan.
Pengakuan Lupa dan Salah dari Para Imam
Dalam kitab Al-Kafi (kitab rujukan utama hadis Syiah) jilid 1, halaman 345, disebutkan riwayat bahwa Imam Ja'far Ash-Shadiq berkata:
"Demi Allah, sesungguhnya kami tidak mengetahui hal ghaib, dan sesungguhnya kami adalah makhluk yang mati... terkadang aku memarahi pembantuku, kemudian dia menghilang dariku dan aku tidak tahu di ruangan mana dia berada."
Selain itu, doa-doa yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Imam Ali Zainal Abidin (seperti Doa Kumail dan Doa Abu Hamzah Al-Tsumali) dipenuhi dengan rintihan permohonan ampun yang sangat mendalam atas dosa, kelalaian, dan kesalahan.
Bagi ulama Syiah, untuk menyelamatkan doktrin Ismah dari teks-teks doa ini, mereka terpaksa melakukan senam logika (akrobat teologis) dengan mengeklaim bahwa para imam membaca doa-doa tersebut hanya untuk "mengajari umat", bukan karena mereka benar-benar merasa bersalah. Penafsiran manipulatif ini jelas mereduksi ketulusan ibadah dan taubat para imam itu sendiri.
Tabel Komparasi: Hakikat Ma'shum dalam Islam vs Doktrin Syiah
Untuk memberikan visualisasi yang ringkas dan jelas mengenai pertentangan konsep ini, berikut adalah tabel perbandingannya:
4. Pandangan Islam yang Adil terhadap Kehormatan Para Imam
Ahlussunnah wal Jama'ah sangat memuliakan para tokoh Ahlul Bait seperti Sayyidina Ali, Hasan, Husain, Ali Zainal Abidin, hingga Ja'far Ash-Shadiq. Islam menempatkan mereka sebagai ulama besar, teladan kesalehan, dan mercusuar ilmu yang wajib dihormati.
Namun, Islam yang lurus melarang sikap ghuluw (melampaui batas) dalam mengagungkan makhluk. Mengklaim seseorang memiliki sifat maksum mutlak setingkat dewa yang mengendalikan alam semesta dan mengetahui seluruh ilmu ghaib adalah bentuk perbuatan merusak sendi-sendi Tauhid.
Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah..." (QS. An-Naml: 65).
Ketika Syiah memaksakan konsep Ismah kepada para imam, mereka sebenarnya sedang meruntuhkan logika Al-Qur'an demi melestarikan legitimasi kekuasaan sekte mereka yang berakar pada doktrin kepemimpinan dinasti spiritual.
Kesimpulan
Konsep Ismah (kemaksuman) yang diyakini oleh sekte Syiah penuh dengan kontradiksi yang tidak dapat dipecahkan. Sikap politik para imam yang memilih berdamai dan berbai'at dengan para khalifah sebelumnya menunjukkan bahwa mereka adalah manusia mulia yang berijtihad demi maslahat, bukan figur kaku yang dikendalikan oleh dogma kesucian mutlak yang antipati terhadap realitas.
Bagi umat Islam di Indonesia, menyadari kerapuhan konsep maksum versi Syiah ini sangat penting agar tidak mudah tergelincir ke dalam kultus individu yang ekstrem. Cinta sejati kepada Ahlul Bait adalah dengan menghormati mereka sesuai dengan porsinya yang mulia sebagai manusia-manusia saleh penjaga sunnah, tanpa harus menodai kemurnian tauhid dengan menyematkan sifat-sifat ketuhanan kepada mereka.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: