Syiahindonesia.com - Di dalam konseptualisasi teologi sekte Syiah, terutama Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), terdapat sebuah cara pandang ekstrem yang memandang mayoritas generasi sahabat Nabi ﷺ sebagai para pelaku makar dan pengkhianat agama. Penilaian radikal ini sangat kontras dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) yang memuliakan seluruh sahabat sebagai generasi terbaik, adil ('udul), dan diridhai oleh Allah SWT.
Mengapa sekte Syiah begitu gigih membangun narasi bahwa para pejuang awal Islam tersebut adalah para pengkhianat? Landasan utamanya bukan sekadar perbedaan interpretasi sejarah, melainkan karena doktrin esensial dalam agama mereka menuntut adanya konspirasi besar pasca-wafatnya Rasulullah ﷺ. Ada beberapa alasan teologis dan ideologis mengapa Syiah memvonis semua sahabat (kecuali segelintir kecil) sebagai pengkhianat.
1. Demi Mempertahankan Doktrin Mutlak Imamah dan Nash
Akar dari segala tuduhan pengkhianatan ini bermuara pada satu doktrin tunggal Syiah: Imamah. Syiah meyakini bahwa kepemimpinan (khilafah) setelah Rasulullah ﷺ wafat bukanlah urusan kemaslahatan umat yang ditentukan lewat musyawarah (Syura), melainkan perkara rukun iman yang diangkat langsung oleh Allah SWT melalui teks suci (Nash). Menurut klaim mereka, Nabi ﷺ telah menunjuk Ali bin Abi Thalib r.a. sebagai penerus sah di Ghadir Khum.
Namun, realitas sejarah mencatat bahwa pasca-wafatnya Nabi ﷺ, kaum Muhajirin dan Anshar bersepakat membaiat Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. sebagai khalifah pertama melalui musyawarah di Saqifah Bani Sa'idah.
Agar doktrin Nash dan Imamah buatan Syiah ini tetap terlihat benar, mereka terpaksa membuat premis baru: para sahabat sengaja bersekongkol untuk mengabaikan perintah Nabi ﷺ.
Oleh karena itu, para sahabat dicap sebagai "pengkhianat" yang merampas hak ketuhanan Sayyidina Ali r.a. demi ambisi kekuasaan duniawi.
Jika Syiah mengakui bahwa para sahabat bertindak jujur dan tulus dalam membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka secara otomatis seluruh konsep teologi Imamah yang menjadi ruh agama Syiah akan runtuh.
2. Konsekuensi Radikal dari Doktrin Pengafiran (Takfir)
Di dalam kitab-kitab induk rujukan utama Syiah seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini, tuduhan pengkhianatan ini tidak berhenti pada label moral, melainkan meningkat hingga status hukum murtad. Salah satu riwayat yang disucikan dalam teks mereka mengeklaim bahwa seluruh sahabat telah murtad (keluar dari Islam) setelah Nabi ﷺ wafat, kecuali tiga atau empat orang saja (di antaranya Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Al-Miqdad bin Al-Aswad).
Bagi Syiah, membaiat atau rida terhadap kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah bentuk kekufuran terbesar yang menghapus seluruh amal salih. Karena mayoritas mutlak kaum Muhajirin dan Anshar menyetujui kekhalifahan Khulafaur Rasyidin yang tiga, maka dalam pandangan Syiah, seluruh generasi tersebut telah berkhianat terhadap Islam dan keluar dari koridor iman.
3. Upaya Meruntuhkan Sumber Hukum Islam (Al-Qur'an dan As-Sunnah)
Tuduhan bahwa para sahabat adalah pengkhianat juga digunakan sebagai alat untuk menggoyahkan validitas syariat Islam yang dipegang oleh kaum Sunni. Islam sampai kepada umat hari ini melalui jalur penukilan (transmisi) para sahabat. Merekalah yang mengumpulkan mushaf Al-Qur'an dan meriwayatkan ribuan hadis Nabi ﷺ.
Dengan membangun narasi bahwa para sahabat adalah sekumpulan pengkhianat dan pembohong, Syiah bermaksud menanamkan keraguan (syubhat) di hati umat:
Bagaimana mungkin mempercayai Al-Qur'an yang dikumpulkan oleh orang-orang yang dituduh berkhianat (seperti era Abu Bakar dan Utsman)?
Bagaimana mungkin mempercayai hadis-hadis hukum yang dibawa oleh para penghafal besar seperti Abu Hurairah r.a. atau Ibunda Aisyah r.a.?
Dengan meruntuhkan kepercayaan terhadap para sahabat, Syiah berusaha memutus mata rantai umat Islam dari sumber aslinya, lalu mengarahkan umat untuk hanya menerima agama dari jalur "Imam-Imam Maksum" versi dongeng teologi mereka sendiri.
4. Matriks Perbedaan Sudut Pandang: Sunni vs Syiah
Kesimpulan
Sekte Syiah menganggap hampir semua sahabat Nabi sebagai pengkhianat karena hal itu merupakan kebutuhan teologis yang mutlak bagi eksistensi ajaran mereka. Jikalau mereka tidak memfitnah para sahabat sebagai pengkhianat, maka doktrin Imamah yang mereka agungkan akan kehilangan pijakan sejarahnya. Doktrin kebencian ini sengaja dirawat demi memisahkan pengikut Syiah dari tubuh arus utama umat Islam sedunia.
Sebagai umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kita wajib membentengi diri dari racun pemikiran ini dengan senantiasa mempelajari sejarah para sahabat dari sumber-sumber yang sahih dan objektif. Menjaga kecintaan dan pembelaan terhadap kehormatan seluruh sahabat Nabi ﷺ adalah tolok ukur utama keselamatan akidah kita dari infiltrasi ideologi sektarian Syiah yang menyesatkan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: