Breaking News
Loading...

Syiah dan Fitnah Besar terhadap Khalifah Umar bin Khattab

Syiahindonesia.com - Dalam panggung sejarah peradaban Islam, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berdiri tegak sebagai salah satu pilar utama yang memperkokoh fondasi dakwah Islam pasca-wafatnya Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok yang digelari oleh Nabi SAW sebagai Al-Faruq—sang pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Di bawah kepemimpinan beliau yang adil dan asketis, Islam mengalami ekspansi besar-besaran, meruntuhkan keangkuhan imperium besar Romawi dan Persia, serta menegakkan tatanan keadilan sosial yang dikagumi kawan maupun lawan. Rasulullah SAW bahkan memberikan testimoni teologis yang sangat agung mengenai kekuatan iman Umar, di mana setan sekalipun akan memilih lari mencari jalan lain jika berpapasan dengan beliau.

Namun, di dalam narasi dogma teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), sosok Umar bin Khattab justru diposisikan sebagai musuh nomor satu yang paling dibenci. Keberhasilan Umar dalam meruntuhkan imperium Majusi Persia tampaknya meninggalkan luka historis mendalam yang kemudian diwujudkan dalam bentuk produksi fitnah dan pabrikasi riwayat palsu yang sangat keji. Kelompok Syiah menjadikan tindakan melaknat dan mencaci maki Sayyidina Umar bukan sekadar luapan emosi sejarah, melainkan sebagai bentuk ritual ibadah harian yang diangkat ke dalam rukun akidah mereka.

1. Fitnah Keji Dongeng "Penyerangan Rumah Sayyidah Fatimah"

Fitnah terbesar, paling fiktif, dan paling masif yang dipelihara oleh kaum Syiah untuk memantik dendam pengikutnya terhadap Sayyidina Umar adalah dongeng tragis mengenai penyerangan rumah Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Ulama-ulama Syiah mengklaim bahwa pasca-wafatnya Rasulullah SAW, Umar bin Khattab memimpin pasukan untuk memaksa Sayyidina Ali berbaiat kepada Abu Bakar.

Dalam narasi palsu tersebut, Umar dituduh dengan kejam mendobrak dan membakar pintu rumah Fatimah, menggugurkan janin yang ada di dalam kandungan Fatimah (yang mereka namai Muhsin), hingga mematahkan tulang rusuk putri kesayangan Rasulullah SAW tersebut. Dongeng melankolis inilah yang setiap tahun dirayakan oleh kaum Syiah untuk membangun histeria massa dan memelihara kebencian abadi kepada Umar.

Bantahan Ilmiah dan Logis Terhadap Fitnah Penyerangan:

Jika kita membedah dongeng ini menggunakan kacamata logika sejarah yang sehat dan karakter ksatria Ahlul Bait, maka narasi Syiah ini akan runtuh berkeping-keping:

  1. Menghina Keberanian Sayyidina Ali: Sayyidina Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai Asadullah (Singa Allah), pahlawan Perang Badar, Uhud, dan Khaibar yang tidak pernah takut mati. Sangat tidak masuk akal secara logika jika ada sekelompok orang datang membakar rumahnya dan menganiaya istrinya (putri Nabi), lalu Sayyidina Ali hanya diam menonton di dalam rumah tanpa melakukan pembelaan sama sekali karena dalih Taqiyyah (takut). Narasi Syiah ini secara tidak langsung justru merendahkan harga diri dan keberanian Sayyidina Ali.

  2. Pernikahan Ummu Kultsum dengan Umar: Fakta sejarah yang mutawatir dan tercatat dalam kitab sejarah Sunni maupun Syiah (seperti Kitab al-Kafi) menyatakan bahwa beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, Sayyidina Ali bin Abi Thalib menikahkan putri kandungnya, Ummu Kultsum (anak dari Fatimah Az-Zahra), dengan Khalifah Umar bin Khattab. Bagaimana mungkin seorang ayah yang berakal sehat bersedia menyerahkan putri tercintanya untuk dinikahi oleh laki-laki yang dituduh telah membunuh istrinya dan menggugurkan anak bayinya? Pernikahan silang ini adalah bukti otentik bahwa hubungan antara Ali dan Umar dipenuhi oleh rasa cinta dan persaudaraan yang erat.

2. Doktrin Tabarra’: Melembagakan Laknat terhadap Umar di Setiap Salat

Bagi umat Islam Ahlus Sunnah, mendoakan keridaan bagi para Sahabat adalah hal yang melekat dalam lisan kita. Namun, dalam kitab-kitab induk teologi Syiah, seperti Biharul Anwar karya Al-Majlisi, terdapat doktrin wajib bernama Tabarra’ (berlepas diri dari musuh-musuh Imam). Dalam implementasinya, ulama Syiah menciptakan sebuah doa khusus yang dipenuhi sumpah serapah keji bernama Doa Shanamay Quraisy (Dua Berhala Quraisy).

Dalam doa tersebut, mereka secara terang-terangan melaknat Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar dengan sebutan "Dua Berhala Quraisy", "Dua Jibt", dan "Dua Thaghut". Pengikut Syiah diajarkan bahwa melaknat Umar setelah selesai melaksanakan salat memiliki pahala yang lebih besar daripada zikir-zikir sunnah lainnya. Ini adalah bukti nyata bahwa Syiah membangun fondasi spiritualnya di atas kubangan kebencian dan caci maki terhadap manusia-manusia yang telah dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW.

3. Pengagungan Terhadap Abu Lu'lu'ah Al-Majusi (Sang Pembunuh Umar)

Bukti paling valid bahwa Syiah didorong oleh dendam nasionalisme Persia (Majusi) yang hancur di tangan Umar adalah cara mereka memperlakukan Abu Lu'lu'ah al-Majusi (Fairuz), seorang budak Majusi yang menikam Khalifah Umar bin Khattab hingga wafat saat beliau sedang mengimami salat subuh.

Di dalam Islam yang lurus, Abu Lu'lu'ah adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang terkutuk karena membunuh seorang Khalifah yang sedang beribadah. Namun, di dalam dunia Syiah, Abu Lu'lu'ah diangkat derajatnya sebagai pahlawan besar dan diberi julukan mulia "Baba Syuja'uddin" (Bapak Pemberani Agama).

Bahkan, di kota Kasyan, Iran, kelompok Syiah membangun sebuah kuburan dan monumen megah yang diklaim sebagai makam Abu Lu'lu'ah. Tempat tersebut dijadikan situs suci tempat penganut Syiah berziarah, merayakan kematian Umar, dan memohon keberkahan. Pengagungan terhadap seorang pembunuh Majusi ini mempertegas bahwa esensi ajaran Syiah bertolak belakang dengan nilai-nilai keadilan Islam.

4. Pembelaan Al-Qur'an dan Hadis terhadap Kemuliaan Umar bin Khattab

Setiap bait fitnah yang dilemparkan oleh kaum Syiah terhadap Sayyidina Umar akan selalu kandas ketika dibenturkan dengan teks-teks wahyu yang suci. Allah SWT telah memberikan stempel keridaan-Nya kepada Umar bin Khattab dan para sahabat lainnya yang ikut serta dalam peristiwa Bai'atur Ridhwan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Fath ayat 18:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat."

Umar bin Khattab adalah salah satu tokoh utama yang berada di bawah pohon tersebut dan dibaiat langsung oleh Nabi SAW. Mengafirkan Umar sama saja dengan mendustakan pengumuman rida Allah yang tercantum di dalam ayat ini.

Rasulullah SAW juga menegaskan posisi teologis Umar yang sangat tinggi dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:

إِنَّهُ قَدْ كَانَ فِيمَا مَضَى قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ، وَإِنَّهُ إِنْ كَانَ فِي أُمَّتِي هَذِهِ مِنْهُمْ أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ بنُ الخَطَّابِ

"Sesungguhnya pada umat-umat sebelum kalian terdapat orang-orang yang diberi ilham (oleh Allah). Jika salah seorang di antara umatku ada yang mendapatkannya, maka dialah Umar bin al-Khattab."

Kesimpulan: Waspada terhadap Infiltrasi Kebencian Syiah di Indonesia

Fitnah besar yang dilancarkan oleh sekte Syiah terhadap Khalifah Umar bin Khattab adalah bukti konkrit bahwa gerakan ini membawa misi destruktif untuk menghancurkan pilar-pilar sejarah Islam dari dalam. Di Indonesia, propaganda ini sering kali disusupkan secara halus melalui pengaburan fakta sejarah, pementasan drama teaterikal melankolis tentang kematian Fatimah, serta penyebaran pamflet digital yang menggiring opini bahwa Sahabat Umar adalah sosok yang kasar dan memusuhi keturunan Nabi.

Masyarakat Muslim Indonesia yang berasaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah wajib memperkuat benteng literasi sejarah mereka. Kita harus tegas menolak setiap narasi yang mencoba mengotori nama baik Khulafaur Rasyidin. Mencintai Ahlul Bait tidak akan pernah sah tanpa menghormati para Sahabat Nabi, karena kedua kelompok suci tersebut hidup dalam keharmonisan iman yang kokoh. Menjaga kehormatan Sayyidina Umar bin Khattab adalah bagian dari ikhtiar kita menjaga kemurnian syariat Islam di bumi nusantara dari rongrongan ajaran sesat sekte Syiah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: