Syiahindonesia.com – Keabsahan sebuah hujah dalam Islam sangat ditentukan oleh autentisitas fondasi penyusunnya. Umat Islam tidak dapat mengklaim suatu perkara sebagai bagian dari syariat atau akidah tanpa adanya pijakan dalil yang valid dan teruji melalui metodologi kritik sanad. Di sinilah letak kemuliaan ilmu hadis Ahlus Sunnah wal Jama’ah, di mana setiap individu yang membawa riwayat diperiksa secara ketat biografi, kejujuran, ingatan, hingga kesinambungan jalurnya demi memisahkan yang emas (sahih) dari yang loyang (daif/palsu).
Namun, pemandangan yang kontras akan kita dapati ketika mengamati dinamika dakwah dan penyebaran ideologi Syiah Itsna Asyariyyah. Demi mempertahankan doktrin-doktrin sentral mereka yang asing dari pondasi awal Islam, kaum Syiah kerap kali memiliki kebiasaan kronis dalam mengandalkan dalil-dalil yang tidak sahih, riwayat-riwayat majhul (misterius), hingga hadis-hadis palsu (maudhu’). Kebiasaan ini bukan sekadar kekhilafan individu, melainkan kebutuhan sistematis agar bangunan teologi mereka tidak runtuh.
Berikut adalah beberapa modus dan karakteristik kebiasaan Syiah dalam menggunakan dalil yang tidak sahih:
1. Menyandarkan Akidah pada Riwayat Kaum Ghalat dan Pendusta
Di dalam kitab-kitab induk rujukan Syiah sendiri—seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini—bertebaran ribuan riwayat yang jalur transmisinya melewati para perawi yang telah dicap sebagai pendusta, pemalsu hadis, atau penganut paham ekstrem (ghuluw).
Sebagai contoh, banyak doktrin mengenai keajaiban para imam, sifat-sifat ketuhanan yang disematkan kepada mereka, hingga pengafiran para Sahabat, diriwayatkan oleh figur-figur bermasalah seperti Jabir bin Yazid al-Ju'fi. Dalam dunia kritik perawi (Rijalul Hadits) Sunni, Jabir al-Ju'fi dikenal sebagai pembuat ribuan hadis palsu yang meyakini konsep reinkarnasi (raj'ah).
Tragisnya, dalam tradisi intelektual Syiah, perawi-perawi model inilah yang justru menjadi tumpuan utama aliran informasi keagamaan mereka. Ketika sebuah mazhab menjadikan pendusta sebagai pilar periwayatan, maka produk hukum dan akidah yang dihasilkan pun secara otomatis akan dipenuhi kecacatan.
2. Dominasi Sanad yang Terputus (Mursal) dan Misterius (Majhul)
Jika kita membedah kitab Al-Kafi—yang posisinya di mata Syiah setara dengan kesucian Shahih al-Bukhari di mata Sunni—para ulama kontemporer pun mengakui bahwa mayoritas isi kitab tersebut tidak sahih secara sanad. Dari belasan ribu riwayat di dalamnya, lebih dari separuhnya berstatus daif, mursal, atau majhul.
Misionaris Syiah sangat sering menggunakan dalil yang sanadnya terputus puluhan atau ratusan tahun. Al-Kulaini (yang hidup di abad ke-3 Hijriah), misalnya, sering kali menuliskan: "Dari sekelompok sahabat-sahabat kami, dari seorang laki-laki, dari Imam..."
Siapakah "sekelompok sahabat" tersebut? Siapakah "seorang laki-laki" misterius itu? Dalam kaidah ilmiah, menyandarkan urusan surga, neraka, dan syariat pada penuturan orang yang tidak jelas identitasnya adalah bentuk kecacatan fatal. Namun bagi Syiah, riwayat-riwayat cacat ini tetap diproduksi dan dibacakan di atas mimbar-mimbar mereka seolah-olah itu adalah wahyu yang mutlak.
3. Menghidupkan Hadis-Hadis Palsu yang Telah Dibuang Ulama Sunni
Modus operandi lain yang sering digunakan kaum Syiah untuk menipu masyarakat awam di Indonesia adalah mencari hadis-hadis yang statusnya sudah dinyatakan palsu atau batil oleh para pakar hadis Sunni, lalu menyebarkannya kembali seolah-olah itu adalah hujah yang disepakati.
Contoh Kasus: Hadis "Kota Ilmu" Mereka gemar mengutip riwayat: "Aku adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya." Mereka menjadikannya dalil mutlak bahwa ilmu agama hanya boleh diambil dari jalur Ali dan keturunannya.
Fakta Ilmiah: Para ulama besar ahli kritik hadis—seperti Imam Al-Bukhari, Abu Hatim, hingga Yahya bin Ma’in—telah menegaskan bahwa hadis tersebut statusnya daif jiddan (sangat lemah) atau bahkan maudhu' (palsu) karena di dalam sanadnya terdapat para pemalsu hadis. Fakta akademis mengenai kepalsuan hadis ini sengaja disembunyikan oleh propagandis Syiah agar umat Islam awam terpesona dan meyakini doktrin eksklusivitas keilmuan imam mereka.
4. Budaya Kisah dan Dongeng Melodramatis dalam Majelis Duka
Kebiasaan menggunakan dalil tidak sahih ini tumbuh subur karena didukung oleh budaya kultus duka cita (Asyura) dalam tradisi Syiah. Dalam majelis-majelis meratapi kematian Sayyidina Husain di Karbala, para penceramah Syiah (khathib) dituntut untuk menguras air mata jemaah.
Demi membakar emosi, kesedihan, dan kemarahan pengikutnya, para penceramah ini memproduksi dan membacakan narasi-narasi sejarah yang penuh hiperbola, dongeng, dan khurafat yang tidak memiliki sanad sama sekali. Tragisnya, cerita-cerita fiktif bin palsu ini lambat laun bergeser statusnya di benak jemaah awam menjadi sebuah "dalil" agama yang wajib diyakini dan diamalkan, sehingga memicu kebencian mendalam kepada pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh sejarah mereka.
Kesimpulan
Kebiasaan kelompok Syiah dalam menggunakan dalil yang tidak sahih membuktikan bahwa bangunan ideologi mereka tidak ditopang oleh fondasi wahyu yang murni, melainkan oleh rekayasa sejarah dan fanatisme sektarian. Ketika sebuah kelompok membuang metodologi ilmiah yang jujur dan memilih akrab dengan riwayat-riwayat palsu, maka mereka telah tersesat dari jalan yang lurus.
Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, fenomena ini menuntut kita untuk selalu mengedepankan prinsip tabayun dan memeriksa keabsahan setiap dalil yang disodorkan. Jangan mudah terbuai oleh retorika manis atau kutipan-kutipan dramatis sebelum mengujinya di atas timbangan ilmu hadis yang sahih. Menolak dalil yang tidak sahih adalah cara kita menjaga kesucian agama dari noda-noda kebohongan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: