Syiahindonesia.com – Dalam dunia akademik dan dakwah Islam, kejujuran ilmiah (amanah ilmiyyah) merupakan mahkota tertinggi yang menjaga validitas sebuah ilmu. Ketika seorang ulama atau peneliti menukil pendapat orang lain, ia berkewajiban menyampaikan kutipan tersebut secara utuh, jujur, dan sesuai dengan konteks aslinya.
Namun, demi memuluskan agenda infiltrasi ideologis dan mencari legitimasi di hadapan mayoritas Muslim Sunni, sekte Syi'ah Rafidhah kerap kali menabrak rambu-rambu etika ilmiah ini. Salah satu strategi propaganda yang paling sering mereka gunakan di mimbar, buku, maupun media sosial adalah kebiasaan memalsukan, memotong, dan memelintir perkataan para ulama terkemuka Ahlussunnah wal Jama'ah.
Artikel ini akan membongkar ragam modus operandi distorsi literatur yang dilakukan oleh misionaris Syiah untuk mengelabui umat Islam yang awam.
1. Modus Tasyrih (Memotong Kalimat di Tengah Jalan)
Salah satu taktik paling klasik yang digunakan oleh para mullah Syiah dalam memalsukan pemikiran ulama Sunni adalah dengan metode potong-tempel kalimat (quote mining). Mereka sengaja mengutip bagian awal dari penjelasan seorang ulama Sunni yang terkesan mendukung opini Syiah, namun dengan sengaja membuang kalimat berikutnya yang berisi bantahan atau kesimpulan asli ulama tersebut.
Contoh Kasus: Mubaligh Syiah sering kali menukil pernyataan Imam Ibnu Katsir atau Imam Adz-Dzahabi saat mereka sedang memaparkan argumen-argumen atau riwayat yang digunakan oleh kelompok Syiah dalam kitab-kitab tafsir atau tarikh mereka. Kaum Syiah akan berkata kepada publik, "Lihat, Ibnu Katsir saja mengakui riwayat ini!"
Padahal, jika pembaca membuka lembaran kitab asli tersebut secara utuh, tepat satu paragraf di bawahnya, Imam Ibnu Katsir atau Imam Adz-Dzahabi secara tegas menulis: "Dan riwayat ini adalah batil, sanadnya runtuh, dan dibuat oleh para pendusta Rafidhah." Menghilangkan kesimpulan akhir sang ulama dan hanya mengambil pemaparan argumen lawan adalah bentuk manipulasi tekstual yang sangat keji.
2. Memalsukan Identitas dan Status Perawi Kitab Hadis
Untuk membuat narasi bahwa ajaran mereka memiliki akar di dalam kitab-kitab induk Sunni (seperti Shahih Bukhari atau Shahih Muslim), para teolog Syiah sering kali melakukan manipulasi terhadap biografi perawi (Rijalul Hadits).
Ketika mereka menemukan sebuah hadis yang bisa dipelintir maknanya untuk mendukung konsep Imamah atau keutamaan ekstrem Ahlul Bait, mereka akan mengeklaim bahwa perawi hadis tersebut adalah seorang ulama Sunni besar yang diakui. Sebaliknya, jika ada perawi Sunni yang meriwayatkan hadis tentang keutamaan Abu Bakar atau Umar, mereka akan mencari celah untuk menuduh perawi tersebut sebagai pembohong atau pembenci keluarga Nabi (Nashibi), meskipun ulama ahli hadis sejagat telah menyepakati kesahihannya.
3. Penerbitan Ulang Kitab Sunni dengan "Sensor Internal"
Di era modern, modus pengaburan ini bergerak ke tingkat yang lebih canggih, yaitu melalui jalur industri percetakan. Beberapa lembaga publikasi dan penerbitan yang terafiliasi dengan Syiah di Timur Tengah diketahui pernah membeli atau mencetak ulang kitab-kitab karya ulama klasik Sunni.
Tragisnya, sebelum buku-buku tersebut dilempar ke pasaran, mereka melakukan proses penyuntingan sepihak (sensor tersembunyi). Paragraf-paragraf di mana ulama Sunni tersebut mengkritik tajam kesesatan akidah Rafidhah, mengharamkan nikah mut'ah, atau membela kehormatan Aisyah RA, sengaja dihapus atau diubah bahasanya di dalam catatan kaki (catatan kaki manipulatif). Dengan cara ini, mereka berharap generasi muda Sunni yang membeli kitab tersebut akan mengira bahwa ulama klasik mereka bersikap kompromis terhadap penyimpangan Syiah.
4. Memanfaatkan Kitab Syamardali dan Riwayat Lemah (Dhaif)
Para misionaris Syiah sangat gemar berburu di "pasar loak" literatur Sunni. Mereka sengaja mengabaikan kitab-kitab induk yang sudah mapan seperti Kutubus Sittah (Enam Kitab Hadis Utama) dan justru beralih mengutip kitab-kitab Sunni yang sifatnya kompilasi sejarah sekunder atau kitab yang memang dipenuhi riwayat-riwayat lemah dan palsu (seperti Yanabi'ul Mawaddah karya Al-Qunduzi yang diklaim bermazhab Hanafi, padahal sarat akan penyusupan paham Syiah).
Perkataan ulama Sunni yang masih berupa perdebatan spekulatif atau riwayat yang telah dinyatakan dhaif (lemah) oleh konsensus ulama, diangkat oleh Syiah seolah-olah merupakan akidah resmi dan kesepakatan (ijma') seluruh ulama Ahlussunnah.
Kesimpulan
Kebiasaan memalsukan dan memelintir perkataan ulama Sunni merupakan bukti nyata dari rapuhnya fondasi argumentasi sekte Syiah. Karena akidah mereka tentang kepemimpinan gaib 12 imam dan pengafiran sahabat tidak memiliki pijakan yang valid di dalam sumber hukum Islam yang murni, mereka terpaksa menggunakan cara-cara yang tidak jujur secara ilmiah demi membangun opini publik.
Bagi umat Islam di Indonesia, menghadapi trik manipulasi kutipan ini memerlukan sikap kritis yang tinggi (Tabayyun). Jangan mudah teperdaya oleh kutipan-kutipan bombastis yang dibawa oleh para misionaris Rafidhah di media sosial. Memeriksa kembali (cross-check) kitab asli yang dirujuk, membaca konteksnya secara utuh, serta merujuk pada penjelasan ulama Ahlussunnah yang otoritatif adalah benteng utama untuk menyelamatkan akidah umat dari tipu daya propaganda palsu.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: