Syiahindonesia.com - Kejujuran (shiddiq) merupakan mahkota akhlak dalam Islam yang menjadi pembeda utama antara keimanan dan kemunafikan. Rasulullah ﷺ diutus ke muka bumi dengan integritas moral yang tanpa cacat, hingga digelari Al-Amin (yang terpercaya) jauh sebelum wahyu kenabian turun. Di dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni), menyampaikan kebenaran agama harus dilakukan dengan cara-cara yang jujur, transparan, dan kesatria. Keharusan bertindak jujur ini berlaku mutlak, baik dalam forum ilmiah, dakwah di mimbar umum, maupun saat berinteraksi dengan kelompok yang berbeda keyakinan.
Namun, di dalam operasional dakwah dan penyebaran ideologi sekte Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), prinsip kejujuran universal ini mengalami keruntuhan yang sangat sistematis. Demi menyusupkan ajaran mereka ke tengah-tengah mayoritas umat Islam, para rabi dan misionaris Syiah melegalisasi, melestarikan, dan mempraktikkan metode ketidakjujuran ilmiah serta kamuflase informasi. Dengan berbekal doktrin teologis yang mewajibkan kepura-puraan, gerakan Syiah di berbagai negara—termasuk infiltrasi masif mereka di Indonesia—bergerak bagaikan bunglon yang pandai berganti warna demi menipu masyarakat awam Sunni yang polos.
1. Menjadikan Taqiyyah Sebagai Legitimasi Teologis untuk Berbohong
Pilar utama di balik watak ketidakjujuran penyebaran ajaran Syiah adalah doktrin Taqiyyah (menyembunyikan akidah asli dan menampakkan hal yang sebaliknya). Jika dalam Islam yang murni menyembunyikan iman hanya merupakan dispensasi (rukhshah) darurat ketika nyawa terancam di hadapan kafir harbi, Syiah justru mengangkatnya menjadi bagian dari pilar ibadah harian.
Di dalam kitab-kitab babon mereka yang paling otoritatif, ketidakjujuran ini dikemas sebagai bentuk kesalehan tertinggi. Sebagai contoh, Al-Kulaini dalam kitab Al-Kafi (Vol. 2, hal. 217) mencantumkan riwayat palsu yang berbunyi:
"Taqiyyah adalah bagian dari agamaku dan agama nenek moyangku. Dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki Taqiyyah."
Dampak Lapangan: Berdasarkan doktrin radikal ini, seorang misionaris Syiah tidak akan merasa berdosa atau bersalah ketika membohongi umat Islam Sunni. Bagi mereka, bersandiwara, memuji sahabat di depan publik Sunni, dan menyembunyikan kitab-kitab asli mereka yang sarat pelaknatan adalah sebuah "ibadah suci" yang mendatangkan pahala besar demi kejayaan sekte.
2. Modus Operandi Ketidakjujuran Misionaris Syiah di Indonesia
Di bumi Nusantara, di mana mayoritas mutlak penduduknya adalah penganut akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kaum Syiah tidak akan pernah berani menyebarkan ajaran mereka secara terang-terangan menggunakan wajah asli. Mereka memodifikasi strategi dakwah lewat pola-pola kamuflase yang sangat rapi:
A. Pembajakan Istilah "Pecinta Ahlul Bait"
Misionaris Syiah secara tidak jujur menyembunyikan nama kelompok mereka dan memilih menggunakan baju samar seperti "Yayasan Pencinta Ahlul Bait", "Majelis Taklim Kekeluargaan", atau "Studi Kajian Sejarah Islam". Mereka mengeksploitasi rasa cinta alami masyarakat Sunni Indonesia (khususnya kaum tradisionalis) kepada keturunan Nabi ﷺ. Umat awam digiring untuk percaya bahwa mengikuti mereka hanyalah bentuk ekspresi cinta kepada Ahlul Bait, padahal di balik itu, mereka sedang disuntikkan racun pengafiran sahabat dan pembatalan rukun Islam.
B. Infiltrasi ke Ormas Islam Besar (NU dan Muhammadiyah)
Untuk mendapatkan legitimasi sosial, tokoh-tokoh Syiah di Indonesia sering kali secara tidak jujur mengaku sebagai bagian dari warga Nahdlatul Ulama (NU) atau memiliki kedekatan kultural dengan Muhammadiyah. Mereka menyusup ke forum-forum seminar nasional, menulis artikel di media massa umum, dan ikut serta dalam kegiatan tahlilan atau maulidan masyarakat, semata-mata untuk mengaburkan pembatas akidah (barro') dan menciptakan opini seolah-olah Sunni dan Syiah adalah mazhab yang sama-sama sah dalam Islam.
3. Matriks Taktik Ketidakjujuran Ilmiah Syiah
Dalam ranah akademis dan penyebaran literatur, sekte Syiah mengabaikan amanah ilmiah demi memenangkan perdebatan atau menarik simpati. Berikut adalah matriks bentuk ketidakjujuran ilmiah yang sering mereka lancarkan:
4. Pelanggaran Teologis Terhadap Larangan Berbohong dalam Al-Qur'an
Dengan merumuskan ketidakjujuran sebagai strategi beragama (Taqiyyah), sekte Syiah telah mendustakan ayat-ayat Al-Qur'an yang secara tegas mengharamkan perilaku menyembunyikan kebenaran dan mencampuradukkannya dengan kebatilan. Allah SWT berfirman di dalam Surah Al-Baqarah ayat 42:
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, padahal kamu mengetahui."
Rasulullah ﷺ juga telah menegaskan bahwa kebohongan adalah jalan menuju kebinakaan rohani dan kehancuran iman:
"Sesungguhnya kebohongan itu menuntun kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan itu menuntun ke dalam neraka." (HR. Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607).
Ketika sekte Syiah mendesain sebuah sistem dakwah yang didasarkan pada kepura-puraan dan penyesatan informasi, mereka secara otomatis menempatkan diri mereka di luar koridor akhlak nubuwwah yang mulia.
Kesimpulan
Ketidakjujuran sekte Syiah dalam menyebarkan ajarannya merupakan konsekuensi logis dari sebuah ideologi yang tidak memiliki hujah ilmiah yang lurus. Karena doktrin-doktrin ekstrem mereka—seperti Imamah, pemurtadan sahabat, dan Wilayah Takwimiyyah—pasti akan langsung ditolak oleh fitrah suci umat Islam Indonesia jika disampaikan secara jujur, maka jalan satu-satunya bagi mereka untuk bertahan hidup dan berkembang adalah dengan menggunakan topeng kepalsuan (Taqiyyah).
Sebagai benteng pertahanan umat Islam di Indonesia, kita wajib memiliki tingkat kewaspadaan dan kecerdasan spritual yang tinggi (fathanah). Kita tidak boleh menilai gerakan Syiah dari apa yang keluar dari lisan-lisan manis mereka di panggung seminar persatuan umat, melainkan harus melihat pada apa yang tertulis di dalam kitab-kitab rujukan utama yang mereka ajarkan secara sembunyi-sembunyi kepada para kadernya. Membongkar topeng ketidakjujuran Syiah adalah ikhtiar penyelamatan akidah nasional demi menjaga keutuhan umat Islam dan bangsa Indonesia dari bahaya laten perpecahan sektarian.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: