Syiahindonesia.com - Dalam perdebatan teologis dan ilmiah antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) dan Syiah, salah satu fenomena yang paling sering dijumpai adalah kegemaran para misionaris Syiah menyodorkan riwayat-riwayat yang bermasalah. Ketika mencoba meyakinkan kaum Sunni di forum publik, mereka kerap mengutip hadis-hadis yang setelah dibedah melalui jalur silsilah periwayatan (sanad) ternyata berstatus lemah (dhaif), sangat lemah (matruk), bahkan palsu (maudhu').
Bagi seorang Muslim Sunni yang terbiasa dengan standar ketat ilmu hadis (musthalahil hadis) seperti yang diterapkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, metode pencomotan dalil ini tentu terasa ganjil. Muncul sebuah pertanyaan mendasar: Mengapa kelompok Syiah sering menggunakan hadis lemah atau cacat untuk mendukung ajaran mereka?
Apabila kita menganalisis metodologi dakwah dan struktur teologi mereka, langkah ini diambil bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena keterpaksaan ideologis dan strategi propaganda yang terstruktur. Berikut adalah beberapa alasan utamanya:
1. Ketiadaan Dalil Sahih yang Eksplisit Mengenai Doktrin Imamah
Alasan paling mendasar mengapa Syiah berpaling pada hadis-hadis lemah atau multitafsir adalah kelangkaan dalil sahih yang secara tegas mendukung rukun agama mereka sendiri.
Bagi Syiah, doktrin Imamah (keyakinan bahwa kepemimpinan absolut umat Islam wajib dipegang oleh dua belas imam maksum dari keturunan Ali bin Abi Thalib) adalah pilar akidah yang setara—bahkan di atas—rukun Islam lainnya. Namun, ketika dicari di dalam Al-Qur'an maupun hadis-hadis yang disepakati kesahihannya oleh umat Islam, tidak ada satu pun ayat atau teks eksplisit (sharih) yang menyebutkan nama-nama dua belas imam tersebut atau kewajiban menaati mereka sebagai konsep teologis.
Karena jalur dalil yang otoritatif dan sahih tidak mereka temukan, para propagandis Syiah terpaksa mengais-ngais riwayat di kitab-kitab sejarah (tarikh) atau kitab hadis sekunder Sunni yang memuat riwayat-riwayat lemah, lalu memotong dan memaksakan maknanya demi melegitimasi doktrin politik-keagamaan mereka.
2. Strategi Izhharul Hujjah (Meminjam Kitab Sunni untuk Menjebak Awam)
Dalam berdakwah di lingkungan mayoritas Sunni seperti di Indonesia, misionaris Syiah jarang menggunakan kitab suci mereka sendiri (seperti Al-Kafi atau Bihar al-Anwar) sebagai hulu dalil. Mereka sangat sadar bahwa kaum Sunni tidak akan menerima hujah dari kitab Syiah.
Oleh karena itu, mereka menggunakan taktik meminjam kitab-kitab rujukan Sunni, lalu mencari hadis-hadis lemah yang sekilas "menguntungkan" posisi mereka (misalnya hadis tentang keutamaan berlebihan sebagian keluarga Nabi atau celaan terhadap Sahabat tertentu). Strategi ini bertujuan untuk membangun opini publik: "Lihat, di kitab Sunni sendiri pun ada hadis yang mendukung ajaran kami."
Bagi masyarakat awam yang tidak dibekali ilmu risrijal (kritik perawi hadis), trik ini sangat mematikan. Orang awam sering kali terpukau hanya karena sebuah hadis tercantum dalam kitab berekreasi Sunni (seperti Tafsir Ath-Thabari atau Musnad Ahmad), tanpa tahu bahwa para ulama Sunni sendiri telah memberi catatan bahwa riwayat tersebut berstatus lemah dan tidak bisa dijadikan sandaran hukum akidah.
3. Standar Penilaian Hadis Syiah yang Bersifat Subjektif-Politis
Dalam epistemologi Islam, kesahihan sebuah hadis diukur dari ketersambungan sanad, keadilan moral perawi, dan kuatnya hafalan (dhabith). Namun, dalam metodologi Syiah, standar ini digeser menjadi sangat subjektif dan sarat muatan politis.
Bagi mereka, definisi perawi yang "adil" dan "terpercaya" bukanlah orang yang jujur secara universal, melainkan orang yang setia dan mendukung kepemimpinan Sayyidina Ali dan para imam. Sebaliknya, para Sahabat senior Nabi yang agung (seperti Abu Hurairah, Sayyidah Aisyah, dan Anas bin Malik) yang merwayatkan ribuan hadis sahih justru mereka cap sebagai penipu karena dianggap tidak mendukung konsep Imamah.
Akibat dari rusaknya parameter ini, hadis-hadis yang dinilai palsu atau cacat oleh ulama Sunni karena di dalam sanadnya terdapat perawi pendusta dari golongan Syiah (Rafidhah), justru diangkat statusnya oleh ulama Syiah menjadi hadis "sahih" versi mereka karena perawi pendusta tersebut dinilai berjasa membela mazhab.
4. Eksploitasi Hadis-Hadis Sejarah dan Sastra (Fadhail)
Banyak hadis lemah yang digunakan Syiah berada dalam ranah Fadhailul A'mal (keutamaan amal) atau kisah-kisah bergenre sastra historis yang menceritakan tragedi keluarga Nabi. Secara metodologi keilmuan Sunni, hadis dalam bab fadhail atau sejarah memang cenderung diberi kelonggaran oleh sebagian ulama klasik jika hanya digunakan sebagai motivasi ibadah, bukan untuk menetapkan hukum halal-haram, apalagi sebagai pondasi akidah.
Celah kelonggaran inilah yang dieksploitasi oleh kelompok Syiah. Mereka mengambil riwayat-riwayat sejarah yang longgar dan dipenuhi bumbu-bumbu fiktif tersebut, lalu menaikkan kelasnya secara paksa menjadi dalil mutlak untuk mengafirkan para Sahabat Nabi atau mewajibkan ritual-ritual baru yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Kesimpulan
Ketergantungan sekte Syiah terhadap hadis-hadis lemah, cacat, dan palsu merupakan cerminan dari rapuhnya fondasi teologis ajaran mereka. Sebuah bangunan akidah yang lurus semestinya ditopang oleh tiang-tiang dalil yang kokoh, jelas, dan sahih dari generasi ke generasi. Ketika sebuah kelompok harus memotong konteks sejarah, memalsukan riwayat, dan memanipulasi kitab milik kelompok lain demi mempertahankan eksistensinya, hal itu menjadi bukti kuat bahwa ajaran tersebut tidak berpijak pada kebenaran yang murni.
Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, fenomena ini menuntut kita untuk senantiasa kritis dan memperdalam literasi ilmu hadis. Mengetahui status sebuah riwayat sebelum menjadikannya keyakinan adalah benteng utama agar iman kita tidak mudah digoyang oleh syubhat-syubhat manis yang dijajakan lewat jalur hadis bermasalah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: