Syiahindonesia.com - Dalam khazanah ilmu hadis Islam, kedudukan hadis dhaif (lemah) telah diatur secara ketat oleh para ulama pakar riwayat. Secara umum, sebuah hadis dikategorikan dhaif apabila terdapat kecacatan pada silsilah periwayatan (sanad), baik karena memori perawi yang buruk, adanya mata rantai yang terputus, maupun keraguan pada integritas moral pembawa beritanya. Kelonggaran penggunaan hadis dhaif pun hanya disepakati oleh sebagian ulama dalam ruang lingkup terbatas, seperti motivasi ibadah (fadhailul a'mal), dan mutlak ditolak dalam penetapan hukum halal-haram, apalagi sebagai fondasi akidah.
Namun, dalam metodologi berdalil yang dipraktikkan oleh kelompok Syiah Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), rambu-rambu ilmiah ini ditabrak secara radikal. Kebiasaan mereka dalam menggunakan hadis-hadis dhaif, sangat lemah (matruk), bahkan palsu (maudhu') bukan lagi sebatas kelalaian minor, melainkan sebuah metode yang disengaja. Penggunaan hadis cacat ini dijadikan tiang penyangga utama untuk melegitimasi doktrin-doktrin sentral sekte mereka yang asing dari ajaran Islam orisinal.
Berikut adalah beberapa kesalahan fatal kelompok Syiah dalam menggunakan hadis dhaif demi mendukung ajaran mereka:
1. Menjadikan Hadis Dhaif sebagai Pondasi Utama Akidah
Kesalahan metodologi yang paling mendasar dan berbahaya dari Syiah adalah kerelaan mereka membangun urusan akidah di atas riwayat-riwayat yang lemah. Dalam epistemologi Islam Sunni, urusan akidah—seperti rukun iman, sifat-sifat Allah, dan perkara gaib—wajib bersandarkan pada dalil yang qath'i (pasti), yaitu Al-Qur'an dan hadis yang berstatus mutawatir atau sahih murni.
Bagi Syiah, doktrin Imamah (kepemimpinan absolut dua belas imam maksum) diposisikan sebagai inti dari rukun iman. Anehnya, demi menyokong doktrin yang diklaim paling penting ini, para teolog Syiah justru bergantung pada ribuan hadis yang jika dibedah dengan ilmu kritik sanad, statusnya adalah dhaif jiddan (sangat lemah) atau palsu. Menggantungkan keselamatan akhirat dan status keimanan umat pada riwayat yang cacat adalah bentuk kecerobohan ilmiah yang tidak masuk akal.
2. Strategi Kamuflase dengan Meminjam Hadis Cacat dari Kitab Sunni
Misionaris Syiah sangat gemar melakukan infiltrasi pemikiran di tengah mayoritas Muslim Sunni dengan cara meminjam kitab-kitab rujukan Sunni sendiri. Mereka akan melacak kitab-kitab musnad sekunder atau kitab tafsir bil ma'tsur milik ulama Sunni, lalu mencomot riwayat-riwayat lemah yang sekilas tampak memuji berlebihan figur tertentu atau mencela Sahabat Nabi.
Sisi Kesalahannya: Mereka menyodorkan riwayat tersebut kepada masyarakat awam dengan narasi manipulatif: "Lihat, hadis ini ada di dalam kitab ulama Sunni sendiri."
Taktik ini sengaja menyembunyikan fakta akademis bahwa para ulama Sunni mengumpulkan hadis-hadis tersebut di dalam kitab mereka dilengkapi dengan sanad agar para ahli ilmu di kemudian hari bisa menyaringnya. Kehadiran sebuah hadis di kitab sekunder Sunni tidak otomatis membuatnya sah menjadi hujah. Menjebak umat awam dengan riwayat yang sudah dicap dhaif oleh pemilik kitabnya adalah bentuk ketidakjujuran ilmiah yang nyata.
3. Manipulasi Status Perawi Pendusta Menjadi "Tepercaya"
Mengapa ekosistem periwayatan Syiah begitu akrab dengan hadis dhaif? Hal ini disebabkan oleh rusaknya standar kritik perawi (Ilmu Rijal) dalam internal mereka.
Dalam metode Sunni, seorang perawi hadis akan langsung dicap sebagai pendusta atau lemah jika ia terbukti pernah berbohong dalam urusan duniawi, tanpa melihat tendensi politiknya. Sebaliknya, dalam teologi Syiah, parameter keadilan moral dibalik.
Seorang perawi yang oleh ulama hadis Sunni telah divonis sebagai pembuat hadis palsu, penganut paham ekstrem (ghuluw), atau bermasalah secara mental, justru diangkat derajatnya oleh ulama Syiah menjadi perawi yang tsiqah (tepercaya). Alasan pengangkatan status ini semata-mata karena si perawi dinilai setia pada doktrin Imamah dan rajin mencaci Sahabat. Akibatnya, hadis-hadis yang hakikatnya dhaif dan palsu dipoles secara paksa agar tampak sahih di mata pengikut mereka.
4. Memaksakan Hadis Sejarah dan Sastra sebagai Dalil Hukum
Banyak dari hujah yang diajukan Syiah diambil dari kitab-kitab tarikh (sejarah) dan literatur sastra yang memuat kisah-kisah melodramatis tentang penderitaan keluarga Nabi. Secara metodologi keilmuan, para sejarawan klasik memang memberikan kelonggaran (tasahul) dalam mencatat kisah-kisah masa lalu tanpa seketat menyaring hadis hukum shalat atau zakat.
Kelompok Syiah mengeksploitasi kelonggaran ini. Kisah-kisah sejarah yang sanadnya terputus, misterius (majhul), dan penuh bumbu fiktif tersebut diadopsi mentah-mentah, lalu dinaikkan kastanya menjadi dalil hukum mutlak. Di atas riwayat sejarah yang dhaif inilah mereka kemudian menciptakan ritual-ritual aneh yang menyiksa diri (seperti Tathbir pada hari Asyura) dan menghalalkan caci maki terhadap para Khulafaur Rasyidin.
Kesimpulan
Ketergantungan yang masif dari sekte Syiah terhadap hadis-hadis dhaif dan cacat menjadi bukti tak terbantahkan mengenai rapuhnya fondasi teologis ajaran mereka. Kebenaran yang murni dari Allah SWT tidak akan pernah membutuhkan sokongan dari riwayat-riwayat yang dipotong konteksnya, dimanipulasi perawinya, atau dipaksakan tafsirnya.
Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, fenomena ini menuntut kita untuk senantiasa memperkuat literasi dan ketelitian dalam beragama. Memeriksa keabsahan silsilah sebuah riwayat sebelum mempercayainya adalah benteng kokoh yang diajarkan oleh para ulama salafus saleh demi menjaga kemurnian akidah Islam dari noda-noda syubhat yang dijajakan oleh gerakan sektarian.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: