Syiahindonesia.com - Dalam diskursus teologi Islam, istilah Wilayah (atau Walayah) merupakan kosakata al-Qur'an dan Sunnah yang memiliki kedalaman makna spiritual, sosial, dan hukum. Secara kebahasaan dan syariat, kata ini berakar pada makna kedekatan, kecintaan, pertolongan, dan kepemimpinan yang harmonis. Allah SWT menetapkan bahwa hubungan antar-sesama mukmin didasarkan pada konsep wilayah dalam bentuk saling mengasihi dan menolong dalam kebajikan.
Namun, di tangan para teolog Syiah Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), istilah yang suci ini mengalami pembelokan makna secara radikal. Mereka menggeser makna wilayah dari ranah spiritualitas, kecintaan, dan ikatan sosial yang inklusif menjadi sebuah konsep politik-teologis yang kaku, absolut, dan sarat pengkambinghitaman sejarah.
Berikut adalah beberapa kesalahan mendasar kelompok Syiah dalam mengartikan konsep wilayah yang menabrak kaidah bahasa, logika, dan wahyu:
1. Menyempitkan "Kecintaan" Menjadi "Kekuasaan Mutlak"
Pangkal dari penyimpangan Syiah dalam masalah ini bermula dari cara mereka menafsirkan hadis-hadis Nabi SAW yang memuat kata Wali atau Maula, salah satunya hadis yang sangat populer di Ghadir Khum:
"Siapa yang menjadikanku sebagai maula-nya, maka Ali adalah maula-nya."
Umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memahami kata maula atau wali dalam konteks tersebut sesuai dengan tradisi bahasa Arab yang fasih, yaitu kecintaan (mahabbah), kedekatan (nusrah), dan loyalitas spiritual. Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar mencintai Sayyidina Ali dan menghormati kedudukannya, bukan sedang menunjuknya sebagai raja atau pemimpin politik pengganti beliau saat itu juga.
Sisi Kesalahannya: Syiah secara sepihak memaksakan bahwa kata maula dan wilayah dalam hadis tersebut bermakna Al-Imarah atau Al-Hukmu (kekuasaan politik absolut dan hak pemerintahan). Jika Rasulullah SAW memang berniat menunjuk Sayyidina Ali sebagai pemimpin politik secara resmi, orang Arab yang fasih tentu akan menggunakan kata yang eksplisit seperti Amir, Khalifah, atau Hakim, bukan kata Maula yang memiliki puluhan arti dalam kosakata bahasa Arab.
2. Mengangkat Wilayah Menjadi Pilar Akidah Terbesar
Dalam Islam, rukun iman dan rukun Islam telah digariskan dengan sangat jelas oleh Rasulullah SAW melalui Hadis Jibril yang masyhur. Pondasi utama agama adalah Tauhid (mengesakan Allah), menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa, dan haji.
Namun, dalam teologi Syiah, konsep Wilayah (dalam artian ketundukan mutlak pada otoritas politik dan spiritual dua belas imam) diangkat derajatnya melampaui seluruh syariat Islam yang ada. Di dalam kitab Al-Kafi, tertera doktrin yang sangat ekstrem dari pemuka mereka:
"Islam dibangun di atas lima perkara: Shalat, Zakat, Puasa, Haji, dan Al-Wilayah. Dan tidak ada seruan yang lebih lantang diproklamirkan melebihi seruan terhadap Al-Wilayah."
Sisi Kesalahannya: Mengategorikan loyalitas politik kepada figur tertentu sebagai pilar agama yang paling utama—bahkan mengalahkan shalat dan tauhid—adalah bentuk perusakan hierarki syariat. Dampak dari konsep ini sangat fatal: Syiah dengan mudah menghukumi batal atau tidak sahnya ibadah haji, shalat, dan syahadat ratusan juta kaum Muslimin di dunia hanya karena mereka tidak memiliki ikatan wilayah dengan para imam Syiah.
3. Doktrin Wilayah Takwiniah (Kekuasaan Mutlak Atas Alam Semesta)
Kesalahan paling ekstrem dan berbahaya dalam konsep wilayah versi Syiah adalah lahirnya doktrin Wilayah Takwiniah. Para ulama besar Syiah klasik hingga modern (termasuk Khomeini dalam kitabnya Al-Hukumatul Islamiyyah) meyakini bahwa para imam mereka memiliki otoritas takwiniah (penciptaan/pengaturan alam semesta).
Mereka percaya bahwa para imam mengendalikan butiran hujan, mengetahui kapan ajal menjemput makhluk, mengatur atom-atom di alam semesta, dan seluruh alam ini tunduk di bawah perintah para imam.
Sisi Kesalahannya: Ini adalah puncak penyimpangan yang menabrak batas tauhid dan jatuh ke dalam jurang syirik akbar. Mengatur alam semesta, menghidupkan, mematikan, dan mengetahui hal gaib secara mutlak adalah hak prerogatif Allah SWT (Rububiyah). Memberikan sifat-sifat ketuhanan ini kepada manusia—sekalipun ia adalah seorang Ahlul Bait yang saleh—merupakan bentuk pengkultusan individu yang tidak masuk akal dan merusak kemurnian akidah Islam.
4. Politisasi Istilah demi Legitimasi Kekuasaan
Pada era modern, konsep wilayah ini mengalami evolusi politik di Iran melalui doktrin Wilayatul Faqih (Kepemimpinan Ahli Fikih). Karena imam kedua belas mereka diyakini sedang bersembunyi (gaib) selama seribu tahun lebih, otoritas wilayah yang absolut itu diserahkan kepada seorang ulama besar (Faqih) yang bertindak sebagai wakil imam.
Sisi Kesalahannya: Konsep ini menciptakan sistem teokrasi totaliter di mana keputusan sang Faqih dianggap sebagai keputusan maksum yang tidak boleh dikritik, setara dengan perintah Nabi. Konsep wilayah yang awalnya bermakna kasih sayang dan persaudaraan sesama Muslim, pada akhirnya bertransformasi menjadi alat indoktrinasi politik untuk melanggengkan kekuasaan sebuah rezim.
Kesimpulan
Kesalahan sekte Syiah dalam mengartikan kata Wilayah menjadi bukti nyata bagaimana sebuah istilah agama bisa didekonstruksi dan dimanipulasi demi kepentingan ideologi kelompok. Dengan mengubah makna kecintaan menjadi kekuasaan, dan menggeser loyalitas spiritual menjadi pengkultusan yang berbau syirik, Syiah telah menjauhkan pengikutnya dari konsep persaudaraan Islam yang murni.
Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, penting untuk menempatkan kecintaan kepada keluarga Nabi (Ahlul Bait)—termasuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib—pada porsi yang semestinya: yaitu mencintai, menghormati, dan meneladani kesalehan mereka tanpa harus terjebak dalam kultus wilayah yang merusak akal dan menodai kesucian tauhid.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: