Breaking News
Loading...

Benarkah Syiah Memiliki Kitab Hadis Sendiri?

Syiahindonesia.com - Dalam diskursus ilmiah keislaman, hadis menduduki posisi yang amat krusial sebagai bayan (penjelas) terhadap ayat-ayat Al-Qur'an serta fondasi hukum kedua dalam syariat Islam. Kedudukan mulia ini menuntut adanya selektivitas yang sangat ketat dalam menyaring setiap riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah SAW. Sepanjang sejarah, Ahlus Sunnah wal Jamaah telah berhasil membentengi kemurnian agama ini melalui kodifikasi kitab-kitab hadis otoritatif seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, serta kitab-kitab Sunan lainnya yang terangkum dalam Kutubus Sittah (Enam Kitab Induk).

Namun, sebuah realitas teologis yang jarang disadari oleh masyarakat Muslim awam di Indonesia adalah bahwa kelompok Syiah—khususnya sekte mayoritas mereka, Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas)—berdiri di atas fondasi sumber hukum yang sepenuhnya berbeda. Mereka tidak hanya menolak kitab-kitab hadis Sunni, tetapi secara mandiri telah mengodifikasi serta mengonsolidasikan kitab-kitab hadis khusus milik sekte mereka sendiri. Fenomena keterpisahan referensi primer ini menjadi bukti nyata bahwa Syiah secara sistematis memisahkan diri dari arus utama Islam dan membangun konstruksi agama yang baru di atas reruntuhan penolakan terhadap para Sahabat Nabi.

Pergeseran Epistemologis: Definisi Hadis dalam Pandangan Syiah

Untuk memahami mengapa Syiah memiliki kitab hadis sendiri, kita harus membedah terlebih dahulu pergeseran definisi kata "hadis" itu sendiri dalam teologi mereka. Perbedaan ini bukan sekadar masalah teknis kodifikasi, melainkan benturan fundamental pada ranah ushul (akidah).

Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jamaah, hadis atau sunnah secara definitif terbatas pada segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan (taqrir), maupun sifat fisik dan akhlak beliau. Perkataan para Sahabat atau Tabi'in diposisikan sebagai atsar, bukan hadis yang memiliki otoritas syariat independen yang setara dengan sabda Nabi.

Sebaliknya, teologi Syiah Itsna Asyariyyah memperluas definisi hadis secara radikal. Bagi mereka, hadis adalah segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan yang bersumber dari Rasulullah SAW dan dari 12 Imam Maksum mereka. Ulama besar Syiah, Muhammad Ridha al-Muzaffar, dalam kitabnya Aqa'id al-Imamiyyah menegaskan bahwa kedudukan para Imam dalam menerima dan menyampaikan syariat adalah sama persis dengan kedudukan Nabi. Akibatnya, jutaan riwayat yang dimuat dalam kitab-kitab Syiah mayoritasnya bukan berisi sabda langsung dari Nabi Muhammad SAW, melainkan perkataan-perkataan yang diklaim berasal dari lisan para Imam mereka, seperti Imam Ja'far as-Sadiq atau Imam Muhammad al-Baqir, yang status hukumnya mereka sejajarkan secara mutlak dengan wahyu ilahi.

Mengapa Syiah Menolak Kitab Hadis Ahlus Sunnah?

Penolakan Syiah terhadap kitab-kitab hadis otoritatif Sunni seperti Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim berakar langsung dari doktrin pengafiran massal terhadap para Sahabat Nabi (Sabb al-Shahabah). Dalam epistemologi Islam, para Sahabat adalah mata rantai utama dan perantara suci yang menyambungkan umat Islam generasi banyolan dengan lisan Rasulullah SAW.

Namun, dalam kitab-kitab induk akidah Syiah, mayoritas Sahabat Nabi divonis telah murtad dan keluar dari Islam pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW, kecuali hanya segelintir orang saja (seperti Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi). Sumpah serapah dan pengafiran ini secara otomatis memutus legalitas ilmiah dari seluruh riwayat yang ditransmisikan oleh para Sahabat utama.

Syiah secara total menolak ribuan hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Abu Hurairah, Khalifah Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas'ud, serta Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anhum. Padahal, lewat jalur-jalur emas inilah hukum-hukum praktis mengenai salat, zakat, puasa, dan haji tegak berdiri. Dengan menolak para perawi terbaik umat ini, Syiah terpaksa memproduksi jalur periwayatan eksklusif yang diisi oleh tokoh-tokoh internal mereka demi melegitimasi doktrin-doktrin politik dan spiritual sekte.

Mengenal Al-Kutub al-Arba'ah: Empat Kitab Induk Hadis Syiah

Jika Ahlus Sunnah memiliki Kutubus Sittah atau Kutubut Tis'ah, maka dalam dunia Syiah Itsna Asyariyyah terdapat istilah Al-Kutub al-Arba'ah (Empat Kitab Utama). Keempat kitab inilah yang menjadi rujukan mutlak dan poros utama bagi para teolog dan penganut Syiah dalam merumuskan akidah, hukum fikih, hingga ritualitas ibadah harian mereka.

+------------------------------------------------------------------------+
|                      AL-KUTUB AL-ARBA'AH (SYIAH)                       |
+---------------------+-----------------------+--------------------------+
| Nama Kitab          | Penulis               | Wafat Penulis            |
+---------------------+-----------------------+--------------------------+
| Al-Kafi             | Al-Kulaini            | 329 Hijriah              |
| Man La Yahdhuruhu   | Ibnu Babawayh al-Qummi| 381 Hijriah              |
| Tahdzib al-Ahkam    | Syekh ath-Tusi        | 460 Hijriah              |
| Al-Istibshar        | Syekh ath-Tusi        | 460 Hijriah              |
+---------------------+-----------------------+--------------------------+

Mari kita bedah secara mendalam keempat kitab yang menjadi jantung ajaran Syiah tersebut:

1. Kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini (Wafat 329 H)

Kitab Al-Kafi yang ditulis oleh Abu Ja'far Muhammad bin Ya'qub al-Kulaini adalah kitab hadis yang paling suci, paling agung, dan menempati kedudukan tertinggi dalam sekte Syiah. Di kalangan Syiah, kitab ini memiliki posisi sestrategis Shahih al-Bukhari di kalangan Sunni. Kitab ini memuat 16.199 riwayat yang ditulis selama kurang lebih 20 tahun.

Kitab ini dibagi menjadi tiga bagian besar:

  • Ushul al-Kafi: Bagian ini berisi fondasi teologis dan akidah Syiah. Di sinilah bersarangnya bab-bab ekstrem yang merusak Islam, seperti bab tentang kewajiban mengimani Imamah, klaim bahwa para Imam menguasai seluruh ilmu gaib, mengendalikan atom alam semesta (Wilayah Takwiniyyah), hingga bab-bab kontroversial yang menuduh bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam hari ini telah mengalami distorsi, pengurangan, dan perubahan (Tahrif al-Qur'an).

  • Furu' al-Kafi: Bagian yang membahas masalah hukum-hukum fikih dan ibadah praktis versi Syiah.

  • Raudhah al-Kafi: Bagian penutup yang berisi kumpulan khotbah, surat-surat, dan catatan sejarah versi sekte mereka.

2. Kitab Man La Yahdhuruhu al-Faqih karya Ibnu Babawayh al-Qummi (Wafat 381 H)

Ditulis oleh Muhammad bin Ali bin Al-Husain yang lebih dikenal dengan julukan Syekh ash-Shaduq. Arti dari judul kitab ini sangat provokatif, yaitu: "Buku bagi Orang yang Tidak Dihadiri oleh Ahli Fikih".

Kitab ini sengaja disusun sebagai kitab fikih praktis bagi masyarakat awam Syiah agar mereka dapat beramal tanpa harus merujuk kepada ulama Sunni. Kitab ini memuat sekitar 5.963 hadis. Penulisnya mengklaim bahwa seluruh hadis yang dimasukkan ke dalam kitab ini adalah sahih dan menjadi hujah antara dirinya dengan Allah SWT.

3. Kitab Tahdzib al-Ahkam karya Syekh ath-Tusi (Wafat 460 H)

Kitab ini ditulis oleh Abu Ja'far Muhammad bin al-Hasan ath-Tusi, salah satu tokoh raksasa dalam pembentukan hukum teologi Syiah. Kitab ini merupakan ulasan (syarah) atas kitab fikih awal Syiah yang berjudul Al-Muqni'ah.

Fokus utama dari Tahdzib al-Ahkam adalah mengumpulkan riwayat-riwayat fikih dan ibadah yang berjumlah sekitar 13.590 hadis. Uniknya, salah satu tujuan penulisan kitab ini adalah untuk mengatasi kegamangan internal pengikut Syiah karena banyaknya riwayat di dalam mazhab mereka sendiri yang saling bertolak belakang dan kontradiktif satu sama lain.

4. Kitab Al-Istibshar fima Ukhtulifa minal Akhbar karya Syekh ath-Tusi

Ini adalah kitab kedua karya Syekh ath-Tusi yang masuk ke dalam jajaran Al-Kutub al-Arba'ah. Berbeda dengan tiga kitab sebelumnya, Al-Istibshar dirancang secara khusus sebagai kitab kompilasi untuk meneliti, menjembatani, dan menyelesaikan ribuan "hadis" internal Syiah yang isinya saling berbenturan dan bertentangan secara ekstrem. Untuk menyinkronkan pertentangan fatwa dan riwayat antaram Imam tersebut, ath-Tusi dan ulama Syiah lainnya kerap menggunakan senjata pamungkas mereka, yaitu mendudukkan hadis yang selaras dengan Sunni sebagai produk hukum Taqiyyah (kepura-puraan/kebohongan yang dilegalkan) sehingga harus dibuang.

Karakteristik dan Kelemahan Ilmiah Kitab Hadis Syiah

Ketika kitab-kitab hadis Syiah ini dibedah menggunakan metodologi ilmiah penataan sanad dan matan yang objektif, maka akan terlihat dengan sangat jelas betapa rapuhnya seluruh bangunan riwayat yang mereka agungkan. Ada beberapa kecacatan fundamental dalam kodifikasi hadis Syiah:

A. Ketiadaan Sanad yang Bersambung (Muttashil) ke Rasulullah SAW

Dalam tradisi keilmuan Ahlus Sunnah, keabsahan sebuah hadis mutlak memerlukan jaminan rantai periwayatan yang tidak terputus dari satu perawi yang adil dan dhabith hingga bermuara langsung pada lisan Nabi Muhammad SAW.

Di dalam Al-Kutub al-Arba'ah, mayoritas mutlak riwayatnya terputus (mursal atau mu'dhal). Para penulis kitab Syiah seperti Al-Kulaini sering kali menuliskan, "Dari salah seorang sahabat kami, dari si fulan, dari sang Imam..." tanpa kejelasan siapa identitas perawi tersebut. Lebih fatal lagi, ribuan riwayat langsung diputus dan hanya disandarkan kepada klaim sepihak sang Imam, tanpa ada pembuktian jalur transmisi historis yang valid ke atasnya.

B. Standar Kritik Perawi yang Subjektif dan Politis

Ahlus Sunnah memiliki ilmu Al-Jarh wa At-Ta'dil yang sangat objektif. Seseorang dinilai kredibel atau cacat periwayatannya berdasarkan kejujuran, ketakwaan, dan kekuatan hafalannya, bukan faksi politiknya.

Sebaliknya, ilmu rijal (biografi perawi) dalam Syiah dinilai murni berdasarkan loyalitas politik terhadap sekte. Seorang perawi yang dikenal pembohong dan pemalsu hadis di mata sejarah bisa dinilai sebagai perawi tepercaya (tsiqa) oleh ulama Syiah hanya karena dia fanatik kepada Ahlul Bait. Sebaliknya, orang-orang jujur dan saleh akan divonis cacat dan tertolak riwayatnya hanya karena mereka menghormati persahabatan Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

C. Dominasi Dongeng Metafisik dan Pengkultusan Ekstrem

Jika kita membaca Shahih al-Bukhari, kita akan menemukan untaian petunjuk nubuwah yang agung, logis, dan penuh adab tentang akhlak, ibadah, dan tauhid. Namun, ketika membuka kitab hadis Syiah seperti Al-Kafi, kita akan disuguhkan oleh narasi-narasi yang dipenuhi khurafat, dongeng metafisik, dan pengkultusan individu secara berlebihan (Ghuluw). Di dalamnya terdapat riwayat-riwayat palsu yang menyebutkan bahwa para Imam mengetahui kapan mereka akan mati, bumi ini tidak akan tegak tanpa adanya Imam, hingga klaim bahwa para Imam memegang kunci takdir seluruh makhluk di alam semesta.

Bahaya Kitab Hadis Syiah Terhadap Kemurnian Akidah di Indonesia

Eksistensi Al-Kutub al-Arba'ah sebagai kitab hadis mandiri kaum Syiah bukanlah sekadar wacana teologis di atas kertas, melainkan sebuah ancaman ideologis nyata yang sedang diinfiltrasikan ke tengah-tengah masyarakat Muslim di Indonesia. Ada beberapa dampak destruktif yang timbul akibat penyebaran pemikiran berbasis kitab hadis Syiah ini:

  1. Mendegradasi Otoritas Al-Qur'an: Karena kitab Al-Kafi memuat riwayat-riwayat yang mengklaim adanya pengurangan ayat dalam Al-Qur'an, maka penganut Syiah yang mendalami kitab ini secara otomatis akan meragukan keautentikan Mushaf Utsmani yang dipegang oleh seluruh umat Islam hari ini.

  2. Meruntuhkan Syariat Islam secara Sistematis: Dengan menolak hadis Sunni dan menggantinya dengan hadis buatan kelompok sendiri, Syiah secara otomatis mendegradasi tata cara ibadah yang orisinal. Mereka mengubah azan, menyatukan salat lima waktu tanpa uzur syar'i secara permanen, hingga menghalalkan kemaksiatan yang dibungkus dengan nama ibadah, seperti praktik Nikah Mut'ah (kawin kontrak) yang sejatinya adalah pelacuran terselubung.

  3. Menyemai Benih Kebencian dan Disintegrasi Bangsa: Riwayat-riwayat dalam kitab hadis Syiah dipenuhi oleh doktrin melaknat, mengutuk, dan mengafirkan simbol-simbol suci umat Islam Sunni (seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ibunda Aisyah). Jika ajaran dari kitab ini menyebar luas di Indonesia, maka kedamaian antar-umat beragama akan terkoyak oleh munculnya caci maki religius yang diproduksi oleh pengikut Syiah terhadap keyakinan mayoritas Muslim Indonesia.

Pandangan Al-Qur'an dan Sunnah Terhadap Kesucian Sahabat

Untuk membantah klaim-klaim dusta yang diproduksi dalam kitab hadis Syiah, Allah SWT telah menurunkan ketetapan hukum yang bersifat muhkam (pasti dan jelas) di dalam Al-Qur'an mengenai kesucian, keadilan, dan jaminan rida Allah bagi para Sahabat Nabi yang telah membawa dan mentransmisikan hadis-hadis Islam yang lurus.

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 100:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."

Ayat ini adalah tameng teologis mutlak yang meruntuhkan seluruh argumen dan riwayat palsu dalam kitab Syiah. Bagaimana mungkin sebuah kelompok berani mengafirkan dan menolak periwayatan para Sahabat, sementara Allah SWT dari atas langit ketujuh telah mengumumkan rida-Nya yang bersifat abadi kepada mereka?

Rasulullah SAW juga telah memberikan peringatan keras dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang ancaman melaknat para Sahabat beliau:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

"Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang di antara mereka, tidak pula separuhnya."

Kesimpulan: Bentengi Diri dan Keluarga dari Infiltrasi Syiah

Jawaban atas pertanyaan "Benarkah Syiah memiliki kitab hadis sendiri?" adalah sebuah kenyataan yang mutlak benar. Keberadaan Al-Kutub al-Arba'ah (Al-Kafi, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, Tahdzib al-Ahkam, dan Al-Istibshar) membuktikan secara ilmiah dan historis bahwa Syiah bukanlah sekadar salah satu mazhab fikih dalam Islam, melainkan sebuah sekte ideologis-politik yang telah memisahkan diri dari fondasi dasar agama Islam.

Bagi kaum Muslimin di Indonesia, kewaspadaan adalah kunci utama. Slogan-slogan persatuan dan pendekatan mazhab (Taqrib) yang sering digencarkan oleh tokoh-tokoh Syiah di tanah air hanyalah bagian dari taktik Taqiyyah (kamuflase) untuk menutupi isi asli dari kitab-kitab suci mereka yang penuh dengan penyesatan. Dengan memahami bahwa mereka memiliki sumber hukum dan kitab hadis tersendiri, kita dapat lebih jeli dan tegas dalam menolak segala bentuk syiar, buku, maupun kajian yang berusaha menyusupkan doktrin-doktrin Syiah ke dalam ruang akademis dan sosial di Indonesia. Menjaga kemurnian sunnah Nabi dan kehormatan para Sahabat adalah kewajiban iman demi tegaknya Islam yang murni hingga akhir zaman.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: