Syiahindonesia.com - Perjalanan sejarah Islam pasca-wafatnya Rasulullah SAW ditandai dengan kedewasaan politik yang luar biasa dari para Sahabat Nabi. Melalui musyawarah yang transparan, adil, dan penuh keikhlasan di Saqifah Bani Sa'idah, umat Islam sepakat membaiat Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu sebagai Khalifah pertama. Proses ini berjalan damai dan didukung penuh oleh seluruh Sahabat, termasuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah yang ikut menyatakan kesetiaannya demi menjaga persatuan umat.
Namun, keharmonisan sejarah ini berusaha diruntuhkan oleh sekte Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas). Demi memvalidasi doktrin Imamah—keyakinan bahwa kepemimpinan adalah rukun iman yang diangkat langsung oleh Tuhan—para ideolog Syiah memproduksi serta memanipulasi berbagai dalil. Mereka mengklaim adanya hak teokratis dan eksklusif bagi Sayyidina Ali untuk memimpin umat Islam. Ironisnya, argumentasi yang mereka bangun justru bersandar pada riwayat-riwayat yang rapuh, palsu, atau teks yang dipotong dari konteks aslinya.
1. Manipulasi Riwayat "Hadis Al-Inzar" (Peringatan kepada Kerabat)
Salah satu dalil sejarah yang paling sering dipelintir oleh kaum Syiah untuk mengklaim bahwa Sayyidina Ali telah ditunjuk sebagai khalifah sejak awal dakwah di Makkah adalah riwayat terkait turunnya Surah Asy-Syu'ara ayat 214:
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat.”
Kaum Syiah mempromosikan sebuah riwayat yang mengklaim bahwa setelah ayat ini turun, Rasulullah SAW mengumpulkan keluarga Bani Hasyim dalam sebuah jamuan makan. Di akhir jamuan, Nabi disebut bersabda: "Siapa di antara kalian yang mau membantuku dalam urusan ini, maka ia akan menjadi saudaraku, wasiku (penerima wasiat), dan khalifahku setelahku?" Menurut klaim Syiah, hanya Ali yang berdiri, lalu Nabi memegang leher Ali dan berkata: "Sesungguhnya ini adalah saudaraku, wasiku, dan khalifahku di antara kalian, maka dengarkanlah dan taatilah dia!"
Pembongkaran Kepalsuan Dalil:
Para ulama ahli hadis dan sejarawan terkemuka Ahlus Sunnah wal Jamaah telah melakukan verifikasi ketat terhadap riwayat ini:
Cacat Rawi dan Sanubari Hadis: Hadis ini bersumber dari jalur perawi bernama Abdul Ghaffar bin Qasim (Abu Maryam al-Anshari). Para ulama kritikus hadis (Ulama Jarh wa Ta'dil) seperti Imam Al-Bukhari, Imam Ahmad, dan Imam Nasa'i sepakat menyatakan bahwa Abu Maryam adalah seorang pendusta besar, pemalsu hadis, dan berpikiran ekstrem Syiah. Oleh karena itu, tambahan redaksi "khalifahku setelahku" adalah murni kepalsuan yang disisipkan.
Kontradiksi Fakta Sejarah: Ayat ini turun di fase awal Makkah ketika dakwah masih bersifat rahasia dan terbatas. Sangat tidak logis secara nalar politik jika Nabi SAW menetapkan struktur kekhalifahan atau kepala negara bagi sebuah umat yang sistem pemerintahannya bahkan belum terbentuk.
2. Pemelintiran Konteks "Hadis Al-Manzilah" (Kedudukan Harun)
Dalil populer berikutnya yang dijadikan tameng teologis oleh Syiah adalah Hadis al-Manzilah. Hadis ini diucapkan oleh Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali menjelang keberangkatan beliau ke Perang Tabuk.
Rasulullah SAW bersabda:
أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
“Tidakkah engkau rida kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?” (HR. Bukhari & Muslim)
Kaum Syiah menyimpulkan secara serampangan bahwa hadis ini adalah bukti mutlak bahwa Ali adalah pelaksana tugas tunggal, pewaris kekuasaan, dan khalifah setelah Nabi SAW wafat, sebagaimana Nabi Harun menjadi pengganti Nabi Musa.
Penafsiran yang Benar:
Pakar hadis menjelaskan bahwa untuk memahami sebuah hadis, kita wajib melihat konteks kejadiannya (Asbab al-Wurud):
Konteks Keberangkatan Perang: Saat Perang Tabuk, Rasulullah SAW memimpin hampir seluruh pasukan Muslimin keluar dari Madinah. Beliah menugaskan Sayyidina Ali untuk tinggal di Madinah guna menjaga wanita, anak-anak, dan orang tua. Kaum munafik Madinah kemudian mengejek Ali dengan menyebarkan rumor bahwa Nabi meninggalkan Ali karena menganggapnya sebagai beban.
Menghibur Hati Ali: Mendengar ejekan itu, Ali menyusul Nabi dan mengadu. Untuk menghibur dan menenangkan hati Ali, Nabi SAW mengucapkan hadis tersebut. Artinya: sebagaimana Musa meninggalkan Harun untuk menjaga kaumnya saat ia pergi ke Bukit Sinai, begitu pula aku meninggalkanmu untuk menjaga Madinah selama aku pergi berperang.
Harun Wafat Lebih Dulu: Logika Syiah runtuh secara fatal jika dikaitkan dengan suksesi kepemimpinan. Dalam sejarah, Nabi Harun alaihis salam wafat lebih dahulu daripada Nabi Musa alaihis salam. Jadi, Nabi Harun tidak pernah menjadi khalifah atau pengganti Musa setelah Musa wafat. Pengganti Nabi Musa yang sesungguhnya adalah Yusha' bin Nun. Maka, hadis ini sama sekali tidak berbicara tentang suksesi kepemimpinan pasca-wafatnya Nabi.
3. Dongeng "Kertas dan Pena" (Raziyyat Yaum al-Khamis)
Propaganda hitam Syiah juga sering mengangkat peristiwa yang terjadi beberapa hari menjelang wafatnya Rasulullah SAW, yang dikenal dengan sebutan Tragedi Hari Kamis. Di dalam riwayat disebutkan bahwa saat Nabi sedang sakit keras, beliau meminta disiapkan kertas dan pena untuk menuliskan sesuatu agar umat tidak sesat. Namun, melihat kondisi Nabi yang sangat payah dan demam tinggi, Sayyidina Umar bin Khattab berinisiatif mencegahnya seraya berkata, "Sesungguhnya Rasulullah sedang sakit keras, dan kita sudah memiliki Al-Qur'an, cukuplah bagi kita Kitabullah."
Kaum Syiah menafsirkan peristiwa ini dengan penuh fitnah. Mereka mengklaim bahwa Umar sengaja menghalangi Nabi karena tahu Nabi ingin menuliskan wasiat resmi tentang hak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.
Bantahan Logis:
Wujud Kasih Sayang Umar: Tindakan Umar didasari rasa iba dan kasih sayang yang mendalam agar Nabi yang sedang kritis tidak terbebani secara fisik untuk mendiktekan tulisan.
Nabi Hidup 4 Hari Setelahnya: Jika penulisan itu bersifat wajib dan wahyu syariat yang krusial bagi akidah, Nabi SAW masih hidup selama empat hari setelah hari Kamis tersebut dalam kondisi sadar. Beliau memiliki banyak kesempatan untuk menyampaikannya secara lisan atau meminta sahabat lain menulisnya. Namun, Nabi tidak melakukannya. Ini membuktikan bahwa apa yang ingin ditulis bukanlah rukun iman atau pelantikan politik Ali, melainkan sekadar nasihat-nasihat umum.
Kesimpulan: Bahaya Dalil Palsu dalam Merusak Ukhuwah
Klaim kelompok Syiah mengenai hak kekhalifahan teokratis bagi Sayyidina Ali bin Abi Thalib terbukti berdiri di atas fondasi dalil-dalil yang dipalsukan dan diputarbalikkan maknanya. Doktrin-doktrin ini sengaja dihidupkan kembali untuk memelihara dendam sejarah dan memecah belah persatuan kaum Muslimin.
Bagi umat Islam di Indonesia, penting untuk bersikap kritis terhadap infiltrasi dalil-dalil palsu ini yang sering disebarkan melalui selebaran, artikel internet, maupun diskusi-diskusi keagamaan semu. Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah memuliakan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai sosok pahlawan Islam, menantu Nabi, dan Khalifah keempat yang sah, tanpa harus menodai kehormatan para Sahabat Nabi lainnya melalui narasi-narasi dusta buatan sekte Syiah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: