Breaking News
Loading...

Syiah dan Ritual-Ritual Bid'ah yang Bertentangan dengan Islam

Syiahindonesia.com – Dalam Islam, ibadah telah diatur secara sempurna, baku, dan final oleh Rasulullah SAW melalui bimbingan wahyu. Kaidah ushul fiqih yang mutlak dalam ranah peribadatan menegaskan bahwa hukum asal ibadah adalah haram dan dilarang, kecuali jika ada dalil yang memerintahkannya. Rasulullah SAW juga telah memberikan peringatan yang sangat keras mengenai bahaya mengada-adakan perkara baru dalam agama (bid'ah), karena hal tersebut pasti tertolak dan melahirkan kesesatan.

Namun, di dalam tradisi keagamaan Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), bangunan ibadah mengalami perombakan dan penambahan yang sangat radikal. Demi memperingati peristiwa sejarah masa lalu dan mengukuhkan doktrin pengkultusan para Imam, mereka menciptakan serangkaian ritual massal yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW maupun para Sahabat. Ritual-ritual ini bukan lagi sekadar perkara furu'iyyah (cabang), melainkan telah bertentangan secara frontal dengan prinsip dasar syariat Islam.

1. Ritual Tathbir (Menyiksa Diri pada Hari Asyura)

Puncak ekspresi ritualitas Syiah yang paling kontroversial dan menuai kecaman global adalah ritual Tathbir yang digelar setiap tanggal 10 Muharram (Hari Asyura). Untuk mengekspresikan rasa duka atas syahidnya Imam Husain bin Ali di Karbala, para pengikut Syiah berkumpul di jalan-jalan melakukan aksi histeris:

  • Memukul-mukul dada dan punggung mereka menggunakan rantai besi secara masif.

  • Melukai kepala mereka sendiri menggunakan pedang atau pisau hingga darah segar mengucur membasahi tubuh mereka.

Bantahan Syariat Islam: Islam melarang keras segala bentuk tindakan melukai diri sendiri (Nafsi-Nafsi) atau merusak tubuh tanpa hak. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits sahih:

"Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek kerah baju, dan menyeru dengan seruan jahiliyah (meratap-ratap saat tertimpa musibah)." (HR. Bukhari).

Ritual Tathbir jelas merupakan sinkretisme dari budaya meratap ala jahiliyah ekstrem yang dihidupkan kembali oleh Syiah untuk membius emosi para pengikutnya.

2. Modifikasi Lafaz Azan secara Sepihak

Azan adalah syiar panggilan salat yang bersifat tauqifi (ketetapan sakral dari Nabi yang tidak boleh diubah). Namun, Syiah melakukan penyimpangan dengan menyisipkan kalimat baru yang bermuatan ideologis di dalam lafaz azan mereka.

Mereka menambahkan kalimat "Asyhadu anna Aliyan Waliyyullah" (Aku bersaksi bahwa Ali adalah kekasih Allah) setelah persaksian kenabian, serta menambahkan kalimat "Hayya 'ala Khairil 'Amal" (Marilah menuju amal yang paling baik).

Penyisipan ini secara otomatis merusak keaslian syiar azan yang telah diamalkan oleh generasi Sahabat sejak zaman Madinah. Mengubah struktur panggilan ibadah yang telah baku ini adalah bentuk kelancangan teologis yang nyata terhadap otoritas pembawa syariat, Nabi Muhammad SAW.

3. Kewajiban Sujud di Atas Turbah (Tanah Karbala)

Bagi umat Islam Sunni, salat bisa dilakukan di mana saja di atas permukaan bumi yang suci dan bersih, baik di atas karpet, ubin, maupun tanah, sesuai sabda Nabi: "Telah dijadikan bumi ini bagiku sebagai masjid (tempat suci) dan alat bersuci."

Berbeda dengan tuntunan yang universal ini, kelompok Syiah menetapkan aturan eksklusif yang membatasi sahnya sujud. Mereka mengharamkan dahi menyentuh benda-benda buatan manusia (seperti karpet tenun) saat sujud, dan mewajibkan sujud di atas sekeping tanah kering berbentuk bulat yang dinamakan Turbah.

Cacurnya, tanah yang digunakan untuk membuat turbah ini harus diambil secara khusus dari tanah pemakaman Karbala di Irak (tempat Imam Husain wafat). Ritual pengkhususan tanah makam ini telah menggeser esensi pengagungan salat; dari yang seharusnya murni berpasrah kepada Allah, menjadi ada unsur pengkultusan terselubung terhadap tempat kematian seorang figur sejarah.

4. Merayakan Hari Raya Buatan (Idul Ghadir)

Umat Islam secara syar'i hanya memiliki dua hari raya tahunan yang ditetapkan langsung oleh syariat, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Namun, Syiah menciptakan hari raya tandingan yang mereka klaim kedudukannya jauh lebih agung daripada dua hari raya resmi Islam, yaitu Idul Ghadir (setiap tanggal 18 Dzulhijjah).

Hari raya buatan ini dirayakan untuk memperingati peristiwa Ghadir Khum, yang dalam klaim sepihak mereka dinilai sebagai hari pelantikan politik Ali bin Abi Thalib oleh Nabi. Merayakan hari besar keagamaan baru yang tidak pernah diinstruksikan oleh syariat adalah bentuk penambahan syariat (Tasyri') baru yang memosisikan pembuat bid'ah tersebut seolah-olah setara dengan nabi dalam menetapkan hari-hari suci.

Kesimpulan: Memurnikan Ibadah dari Khurafat Sektarian

Ritual-ritual bid'ah yang dijalankan oleh kelompok Syiah menunjukkan betapa ideologi mereka telah melangkah terlalu jauh dari kesederhanaan, kejelasan, dan kesucian ajaran Islam yang asli. Mereka membungkus rasa bersalah sejarah masa lalu dengan menciptakan ritual-ritual fisik yang destruktif dan eksklusif.

Bagi kita umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia, benteng terbaik dari infiltrasi ritual menyimpang ini adalah dengan tetap teguh memegang prinsip Ittiba' (mengikuti tuntunan sunnah yang murni). Kita beribadah berdasarkan apa yang valid diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, menjaga salat kita tetap bersih dari sisipan ideologis, dan menjauhkan diri dari segala bentuk ritualisme ekstrem yang mencederai akal sehat serta keindahan syariat Islam.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: